Rohana Muthalib, Perempuan Pertama Wali Kota di Indonesia yang Mengubah Wajah Pontianak
Oleh: Syafaruddin Daeng Usman
Pontianak-Spektroom : Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia pemerintahan pada era awal kemerdekaan, nama Rohana Muthalib muncul sebagai sosok yang memecahkan batas zaman.
Ia tercatat dalam sejarah sebagai wali kota perempuan pertama di Indonesia, memimpin Pontianak pada dekade 1950-an dan meninggalkan jejak penting dalam pembangunan kota yang hingga kini masih dikenang.
Rohana Muthalib lahir di Baso, Sumatera Barat, pada 29 April 1900. Perjalanan hidupnya terbilang unik.
Sebelum terjun ke pemerintahan, ia dikenal sebagai ahli kecantikan Indonesia pertama yang memiliki sertifikat internasional dari Instituut Cor van der Leeuw di Belanda.
Namanya bahkan sempat menghiasi berbagai surat kabar di Hindia Belanda karena kiprahnya di bidang kecantikan.
Namun sejarah membawanya ke jalan berbeda. Pada 1953, saat Kabinet Wilopo berkuasa dan Menteri Dalam Negeri dijabat Mohamad Roem, Rohana dipercaya memimpin Kota Pontianak.
Penunjukan itu menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya seorang perempuan menduduki jabatan wali kota di Indonesia.
Kala itu, banyak pihak meragukan kemampuan perempuan memimpin pemerintahan.
Namun Rohana membuktikan sebaliknya. Baginya, mengelola kota bukan semata urusan politik, melainkan soal ketekunan, perhatian terhadap detail, dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Ia kerap mencontohkan persoalan sederhana seperti sampah yang menumpuk dan jalan berlubang.
Menurutnya, masalah kecil yang cepat ditangani akan menghemat biaya dan mencegah persoalan yang lebih besar. Pendekatan praktis itulah yang membuat kepemimpinannya mendapat apresiasi.
Salah satu ujian terberat datang ketika tuntutan kenaikan upah menggema di berbagai daerah.
Saat kelompok buruh bersiap melakukan aksi, Rohana memilih jalan dialog. Ia mengumpulkan para pekerja dan mengajak mereka memahami kondisi keuangan daerah yang masih terbatas.
Dengan gaya keibuan namun tegas, Rohana menjelaskan bahwa peningkatan kesejahteraan harus dibarengi upaya mencari sumber pendapatan daerah.
Pendekatan persuasif tersebut berhasil meredam gejolak tanpa konflik berkepanjangan. Banyak pihak menilai keberhasilannya lahir dari kemampuannya merangkul masyarakat, bukan sekadar menggunakan kewenangan jabatan.
Di masa kepemimpinannya pula, perhatian besar diberikan pada kebutuhan dasar warga Pontianak, terutama penyediaan air bersih.
Meski dikelilingi aliran Sungai Kapuas, masyarakat saat itu masih kesulitan memperoleh air minum layak. Rohana menjadi salah satu tokoh yang mendorong lahirnya proyek penyediaan air bersih yang kemudian diwujudkan melalui pembangunan instalasi penjernihan air pada 1957.
Selain dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, Rohana juga memiliki hubungan baik dengan kalangan pers. Ia membuka ruang komunikasi yang luas bagi wartawan dan mendukung perkembangan dunia jurnalistik di Kalimantan Barat.
Pada masa kepemimpinannya, bahkan digelar pameran pers pertama di Kalimantan Barat yang mendapat perhatian nasional.
Rohana Muthalib wafat di Jakarta pada 7 April 1983 dan dimakamkan di TPU Blender Kebon Pedas, Bogor. Ia meninggalkan warisan yang jauh melampaui jabatan yang pernah diembannya.
Di saat perempuan belum banyak mendapat ruang dalam pemerintahan, Rohana telah membuktikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh integritas, kepedulian, dan kemampuan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Dari Pontianak, ia menorehkan sejarah yang menjadikannya salah satu pelopor perempuan Indonesia di panggung pemerintahan nasional.
(Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kalbar)