Rutan Surabaya Bersama Plato Foundation, Beri Psikoedukasi bagi WBP Kasus “Siwalan Party”
Surabaya-Spektroom : Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Surabaya bekerja sama dengan Plato Foundation menggelar kegiatan pembinaan melalui psikoedukasi bagi 34 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang terlibat kasus “Siwalan Party” di Surabaya pada Oktober 2025 lalu. Program tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas diri dan pemulihan psikososial warga binaan.
Kepala Rutan Klas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026), mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari pendekatan pembinaan yang humanis, edukatif, dan inklusif, khususnya dalam pemenuhan hak kesehatan bagi seluruh WBP.
“Ini menjadi pembelajaran bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya berdampak bagi diri sendiri tetapi juga orang lain. Kami berharap setelah bebas nanti mereka dapat kembali hidup sehat, berbaur di masyarakat, dan memberi kontribusi positif,” ujarnya.
Diketahui, dari 34 WBP yang mengikuti program tersebut, sebanyak 29 orang sebelumnya dilaporkan terinfeksi HIV. Karena itu, kegiatan psikoedukasi juga diarahkan untuk membangun semangat hidup, meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan, serta memperkuat kesiapan mental para warga binaan.
"Siwalan Party" merujuk pada kasus penggerebekan pesta asusila sesama jenis (gay) di sebuah hotel kawasan Ngagel, Surabaya pada Oktober 2025. Kasus ini diproses hukum di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dan menjatuhkan vonis 25 terdakwa dengan hukuman penjara.
Direktur Plato Foundation, Dita Amalia, menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang aman dan suportif bagi para peserta di tengah tantangan stigma dan diskriminasi yang mereka hadapi. “Psikoedukasi ini menegaskan bahwa setiap individu berhak mendapatkan perlakuan yang humanis, dukungan kesehatan, dan kesempatan menjalani kehidupan yang sehat dan aman,” kata Dita.
Menurutnya, pendekatan berbasis empati dan nilai kemanusiaan penting untuk mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat. Dalam kegiatan itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai resiliensi digital. Mereka diajak memahami kemampuan beradaptasi terhadap berbagai risiko di ruang digital, termasuk bahaya kekerasan dan eksploitasi seksual anak secara daring atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA).
Pada akhir sesi, para peserta membuat poster kampanye sebagai bentuk komitmen untuk turut melindungi anak-anak di ruang digital. Melalui program tersebut, Rutan Klas I Surabaya menegaskan bahwa pembinaan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada aspek hukuman, tetapi juga pemulihan dan penghormatan terhadap martabat manusia tanpa stigma maupun diskriminasi.
(Sumber: google.com, diskominfo Jatim)