Saat Serayu Mulai Surut, Petani Banyumas Berharap Air Tak Benar-Benar Hilang

Saat Serayu Mulai Surut, Petani Banyumas Berharap Air Tak Benar-Benar Hilang
Surutnya air sungai Serayu mulai dirasakan petani di wilayah selatan Banyumas. (Foto : Bian Pamungkas).

Purwokerto – Spektroom
Setiap pagi, Narsum, petani di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, masih menyusuri tepian Sungai Serayu.

Namun, pemandangan yang ia lihat beberapa pekan terakhir berbeda. Air sungai yang biasanya mengalir deras kini menyusut, menyisakan hamparan batu dan tepian sungai yang semakin lebar.

Bagi Narsum, surutnya Sungai Serayu bukan sekadar perubahan musim. Itu menjadi pertanda bahwa perjuangan mengairi sawah akan semakin berat.

"Petani sudah mulai kesulitan air untuk mengairi ladang maupun sawahnya karena pasokan air menyusut," ujarnya.

Sudah lebih dari sebulan debit Sungai Serayu terus berkurang seiring Banyumas memasuki musim kemarau. Fenomena El Nino yang menyebabkan curah hujan berada di bawah normal membuat ancaman kekeringan semakin nyata.

Tak hanya berisiko memicu krisis air bersih, kondisi ini juga mengancam hasil panen petani.
Wilayah pegunungan hingga Banyumas bagian selatan menjadi kawasan yang paling rentan terdampak.

Berkurangnya debit mata air dan aliran Sungai Serayu mulai dirasakan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Di tengah kekhawatiran itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas berupaya agar sawah-sawah tidak kehilangan sumber air.

Lahan persawahan yang terdampak kemarau disiapkan petani untuk menanam palawija yang tidak memerlukan banyak air. ( Foto : Bian Pamungkas).

Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas memprioritaskan program penyediaan air melalui pembangunan sekitar 100 unit irigasi pompa yang memanfaatkan sumur dalam maupun air permukaan.

Selain itu, pemerintah membangun dam parit sebagai penampung air serta 24 titik jaringan irigasi perpipaan (RJIT) bantuan Kementerian Pertanian. Program tersebut ditargetkan mampu membantu sekitar 7.000 hektare sawah tadah hujan agar tetap memiliki pasokan air selama musim kemarau.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Heri Jatmiko, mengatakan bantuan difokuskan pada lahan yang benar-benar mengalami kekurangan air.

"Prioritas diberikan kepada lahan yang benar-benar kekurangan air, bukan sawah yang sudah mendapat layanan irigasi teknis," katanya.

Asisten II Setda Banyumas Junaedi mengajak masyarakat ikut melakukan mitigasi dengan menghemat penggunaan air dan menyesuaikan pola tanam. Petani juga didorong memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering agar produksi pangan tetap terjaga.

Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menerima bantuan 100 unit pompa air berkapasitas 1,25 liter per detik dari Kementerian Pertanian.

Di tengah kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, pompa-pompa itu menjadi harapan baru bagi para petani agar sawah tetap terairi dan musim tanam tidak berakhir dengan gagal panen.

Berita terkait

PMI Jember Bekali Relawan dengan Manajemen Tanggap Darurat Bencana

PMI Jember Bekali Relawan dengan Manajemen Tanggap Darurat Bencana

Jember-Spektroom : Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember terus memperkuat kapasitas relawan untuk menghadapi potensi bencana, terutama memasuki musim hujan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengirimkan Nur Alfiah, relawan Korps Sukarela (KSR) PMI Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, mengikuti Pelatihan Manajemen Tanggap Darurat Bencana (MTDB) yang diselenggarakan PMI Jawa Timur. “Peningkatan kapasitas relawan

Budi Sucahyono, Julianto