Sarasehan Kebhinekaan, Bupati Fawait: Bukti Jember Miniatur Indonesia
Jember-Spektroom : Bupati Jember, Muhammad Fawait, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jember Ghyta Eka Puspita, menghadiri Acara Sarasehan Kebhinekaan yang digelar di SMA Santo Paulus Jember, Jawa Timur di jalan Trunojoyo, pada Sabtu (28/032026),
Acara Sarasehan Kebhinekaan diikuti oleh pelajar tingkat SMA, MA dan SMK, membuktikan keberagaman di Kabupaten Jember.
Bupati menyatakan, bahwa sarasehan yang diikuti oleh pelajar dari berbagai suku, agama dan etnis ini, menunjukkan bukti nyata, bahwa Jember adalah miniatur Indonesia.

"Sarasehan ini, menunjukkan bukti nyata, bahwa Jember adalah miniatur Indonesia, disini banyak golongan dari berbagai suku, agama dan juga etnis, saya sangat senang bisa hadir pada pertemuan ini, apalagi peserta sarasehan adalah para pelajar yang juga calon pemimpin dimasa yang akan datang," ungkap Bupati Fawait.
Bupati Fawait berharap, sarasehan ini bisa ditingkatkan ke lingkup yang lebih luas, untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, karena perbedaan bukan sebuah halangan atau kelemahan, tapi sebagai persatuan dan kebersamaan.
"Perbedaan ini bukan sebuah halangan, dan bukan sebuah kelemahan, tapi perbedaan ini, wujud persatuan dan kebersamaan, dan saya berharap kegiatan ini bisa ditingkatkan lebih luas lagi," jelasnya.
Selain itu, dalam momen tersebut, Bupati juga menggelar dialog dengan peserta, salah satunya siswa yang mengaku berasal dari Pesantren Darul Hikmah. Dalam dialog tersebut, siswa Madrasah Aliyah ini menanyakan, bagaimana bisa cinta kalau tidak ada rasa.
Menanggapi pertanyaan, Bupati Jember Muhammad Fawait menjawab, bahwa cinta atau kasih sayang, akan tumbuh ketika ada kebersamaan, seperti kebersamaan yang terjadi pada kegiatan Sarasehan Kebhinekaan, meski tidak saling kenal tapi kalau sering menggelar kegiatan bersama, tentu akan tumbuh saling sayang yang tentunya berdampak pada kerukunan.
Selain itu, perbedaan jika dimaknai positif, justru akan menjadi hal yang positif. Fawait mencontohkan warna pink, dimana warna ini lebih universal dan tidak terafiliasi dengan warna partai, oleh karenanya, saat Ketua TP. PKK mengusulkan dirinya menggunakan warna pink, dan warna yang berbeda ini, justru menjadi marketing tersendiri.
"Buktinya, sekarang saat ada warna pink, meskipun tidak ada gambar saya, orang akan berpikiran,bahwa warna tersebut identik dengan Bupati Jember saat ini, soal ada yang suka atau tidak, tapi warna tersebut kini sudah menjadi trademark," pungkasnya.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut, Ghyta Eka Puspita juga diberi kesempatan untuk melihat gambar pohon yang dibuat dari sidik jari siswa dengan berbagai warna warni, dimana warna warni ini memiliki filosofi kebersamaan. (budi s)