Satu Kotak Susu, Sejuta Harapan: Dari Sekolah di Kalbar Menuju Indonesia Emas 2045
Spektroom - Di tangan seorang anak sekolah dasar, sebuah kotak susu tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan harapan tentang masa depan - tentang tubuh yang tumbuh sehat, pikiran yang berkembang, dan mimpi yang perlahan menemukan jalannya. Satu kotak susu menjadi simbol bahwa upaya membangun bangsa kerap dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai ikhtiar negara memastikan setiap anak memperoleh hak dasar atas gizi yang layak. Di tengah tantangan stunting dan ketimpangan akses pangan bergizi antarwilayah, program ini bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Di Kalimantan Barat, MBG menunjukkan bagaimana kebijakan gizi dapat berkelindan dengan pembangunan ekonomi daerah. Sejak diluncurkan pada Januari 2025, program ini bermula di sejumlah sekolah di Kota Pontianak dan Ngabang. Dalam perjalanannya, cakupan program terus meluas. Hingga awal Oktober 2025, MBG telah menjangkau sekitar 559 ribu penerima manfaat, dengan Kota Pontianak menjadi wilayah dengan penerima terbanyak.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan menegaskan, bahwa MBG dirancang untuk memberi manfaat berlapis. Bukan hanya memastikan anak-anak tumbuh sehat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.
“Kalau anak-anak kita sehat sejak dini, itu investasi terbesar daerah. Tapi yang tak kalah penting, bahan pangannya berasal dari Kalbar. Uangnya berputar di masyarakat kita sendiri,” ujarnya.
Pelaksanaan MBG ditopang oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum.
Di Pontianak, salah satu dapur MBG pada tahap awal mampu memproduksi lebih dari 1.000 porsi makanan per hari. Seiring penguatan sistem, setiap dapur ditargetkan melayani hingga 3.500 siswa. Operasional dapur pun terus berjalan, bahkan saat masa libur sekolah, untuk memastikan kesinambungan program.
Di balik dapur-dapur tersebut, terbuka ruang ekonomi baru bagi pelaku usaha kecil. Yulita, pelaku UMKM pemasok bahan pangan untuk dapur MBG di Pontianak, merasakan langsung dampaknya.

“Dulu usaha kami naik turun. Sekarang ada kepastian. Setiap hari dapur butuh bahan, dan kami menyuplai dari petani sekitar. Usaha jalan, orang-orang juga ikut bekerja,” katanya.
Dari sisi penerima manfaat, MBG menghadirkan rasa aman bagi keluarga. Keyrisa, orang tua siswa sekolah dasar di Pontianak, menuturkan perubahan yang ia rasakan sejak anaknya menerima makanan bergizi di sekolah.
“Anak jadi lebih semangat berangkat sekolah. Kami sebagai orang tua merasa terbantu, karena gizi anak terjamin tanpa harus menambah beban belanja rumah tangga,” ujarnya.
Secara nasional, dampak ekonomi MBG tercermin dari keterlibatan sekitar 25.757 pemasok hingga akhir 2025, dengan UMKM sebagai tulang punggung utama, didukung koperasi dan badan usaha milik desa. Program ini juga menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 741 ribu orang di seluruh Indonesia. Pada 2025, anggaran MBG terserap sekitar Rp51,5 triliun atau 72,5 persen dari pagu yang tersedia, dan pada 2026 pemerintah menargetkan hingga 80 juta penerima manfaat.
Di Kalimantan Barat, satu kotak susu telah membuktikan lebih dari sekadar asupan gizi. Ia menjadi penghubung antara anak-anak yang tumbuh lebih sehat, pelaku UMKM yang kembali bergairah, dan ekonomi daerah yang perlahan menemukan ritmenya. Dari dapur-dapur MBG, harapan itu bergerak - pelan namun pasti.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target angka atau visi besar di atas kertas. Ia sedang dirajut hari ini - dari ruang-ruang kelas, dari dapur-dapur sederhana, dan dari satu kotak susu yang membawa sejuta harapan bagi masa depan bangsa.
(Feature oleh: Apolonius Welly)