Sebuah Asa Untuk Suksesi Rektor Unila

Sebuah Asa Untuk Suksesi Rektor Unila
Flyer create by ChatGPT

Oleh: Aguswan Khotibul Umam - Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

Metro - Spektroom: Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 bukan sekadar pergantian kepemimpinan sebuah perguruan tinggi. Bagi masyarakat Lampung, Unila merupakan simbol pendidikan, mobilitas sosial, kebanggaan daerah, sekaligus tempat masyarakat menitipkan harapan masa depan generasi mudanya.

Pendaftaran bakal calon rektor yang berlangsung 14 Agustus–4 September 2026 menjadi momentum penting untuk melihat kembali perjalanan Unila dalam beberapa tahun terakhir.

Bakal Calon Rektor Unila (Foto unila.ac.id)

Hingga 20 Agustus 2026, tiga nama telah menyerahkan berkas, yakni Prof. Dr. Warsito, SSi, DEA, PhD, Dr. Budiyono, SH, MH, dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, SKed, MKes, dengan gagasan yang antara lain menonjolkan GO UNILA, transformasi, dan Unila Excellent.

Secara objektif, Unila memiliki banyak capaian. Renstra Unila 2025–2029 mencatat bahwa target menjadi universitas top ten nasional telah dicapai pada 2022, antara lain melalui peringkat Webometrics dan capaian Indikator Kinerja Utama.

Dalam pemeringkatan QS 2026, Unila tercatat berada di kelompok 701–710 Asia dan 1401 dunia. Capaian tersebut menunjukkan bahwa Unila telah masuk dalam radar pemeringkatan global, meskipun masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan reputasi dan daya saing internasional.

Namun, prestasi tersebut berjalan berdampingan dengan pengalaman institusional yang tidak ringan, terutama kasus korupsi penerimaan mahasiswa baru pada 2022 serta persoalan kekerasan dalam kegiatan mahasiswa yang mencuat pada 2025.

Pengalaman semacam ini dapat meninggalkan apa yang dalam psikologi organisasi disebut sebagai luka kepercayaan institusional. Karena itu, pertanyaan masyarakat Lampung terhadap rektor berikutnya sesungguhnya bukan hanya “siapa yang paling hebat?”, tetapi siapa yang paling mampu mengembalikan dan memperkuat kepercayaan terhadap Unila?

Prestasi Vs Kepercayaan Publik

Unila dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan untuk terus berkembang. Pada 2025, universitas meluncurkan Peta Jalan Reformasi Birokrasi 2025–2029 yang berfokus pada transformasi digital, budaya dan perilaku birokrasi, meritokrasi, kelembagaan, serta kebijakan dan pelayanan publik. Langkah tersebut penting karena universitas modern tidak cukup hanya mengejar reputasi akademik.

Yang bersangkutan juga harus membangun tata kelola yang transparan, adil, dan dipercaya. Di sinilah teori “organizational trust” menjadi relevan.

Gratz dan Looney (2025) menegaskan bahwa kepercayaan dalam perguruan tinggi merupakan prasyarat penting bagi kerja sama, shared governance, dan kemampuan organisasi menghadapi perubahan.

Sementara itu, Laufer dkk. (2024/2025) menunjukkan pentingnya kepemimpinan berbasis kepercayaan dalam mendorong inovasi di perguruan tinggi.

Dengan kata lain, transformasi universitas tidak akan berjalan optimal apabila sivitas akademika tidak percaya kepada sistem dan pemimpinnya. Dalam konteks Unila, persoalan kepercayaan menjadi semakin penting karena masyarakat masih mengingat krisis integritas yang terjadi pada 2022.

Krisis tersebut tidak semestinya menjadi stigma permanen bagi seluruh institusi, tetapi harus menjadi pelajaran organisasi.

Disisi lain, kasus kekerasan dalam kegiatan mahasiswa juga memperlihatkan pentingnya konsep “psychological safety” atau rasa aman psikologis. Guo (2025) menjelaskan bahwa keamanan psikologis di perguruan tinggi berkaitan dengan keberanian mahasiswa dan warga kampus untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam proses akademik tanpa rasa takut.

Artinya, Unila yang unggul bukan hanya Unila yang memiliki banyak profesor, jurnal, gedung, laboratorium, atau ranking internasional. Unila yang unggul adalah Unila yang membuat mahasiswa aman, dosen dihargai, tenaga kependidikan dipercaya, dan masyarakat percaya.

Dari perspektif psikologi terapan, setidaknya ada empat harapan utama yang layak menjadi ukuran kepemimpinan rektor Unila 2027–2031.

Pertama: Integritas dan keadilan. Masyarakat membutuhkan sistem yang memastikan penerimaan mahasiswa, promosi jabatan, distribusi kesempatan, penghargaan, dan pelayanan akademik berlangsung berdasarkan merit.

Persepsi mengenai keadilan sangat menentukan keterikatan seseorang terhadap organisasi.

Penelitian mengenai lingkungan perguruan tinggi menunjukkan bahwa persepsi terhadap keadilan prosedural, inklusi, dan keamanan berhubungan dengan komitmen warga akademik terhadap institusinya.

Kedua: Psychological safety. Mahasiswa harus merasa aman menyampaikan kritik. Dosen harus dapat berbeda pendapat tanpa takut dikucilkan.

Tenaga kependidikan harus dapat melaporkan masalah tanpa khawatir mendapatkan tekanan. Kampus juga harus memiliki mekanisme kuat untuk mencegah kekerasan, perundungan, dan penyalahgunaan relasi kuasa.

Ketiga: Kepemimpinan transformasional yang membumi. Masyarakat tentu berharap Unila semakin maju secara internasional.

Tetapi transformasi tidak boleh berhenti pada slogan world class university, excellent, atau go international. Transformasi harus terlihat dalam kualitas layanan, penelitian yang berdampak, lulusan yang kompetitif, tata kelola yang bersih, serta kontribusi nyata terhadap persoalan Lampung.

Keempat: Membangun kembali harapan. Dalam perspektif psikologi positif, harapan bukan sekadar optimisme.

Harapan membutuhkan tujuan yang jelas dan jalan yang realistis untuk mencapainya. Karena itu, calon rektor perlu menjelaskan bukan hanya “Unila mau dibawa ke mana”, tetapi juga bagaimana jalan untuk sampai ke sana.

Disinilah masyarakat perlu menilai para calon berdasarkan rekam jejak, gagasan, integritas, kapasitas manajerial, keberanian melakukan pembenahan, dan kemampuan membangun kolaborasi.

Bukan sekadar siapa yang paling populer. Bukan pula siapa yang paling banyak pendukungnya. Tetapi siapa yang mampu membuat seluruh warga Unila merasa bahwa masa depan institusi ini layak diperjuangkan bersama.

Akhirnya penting untuk dicermati bahwa Pilrek Unila 2027–2031 seharusnya menjadi momentum konsolidasi dan pembaruan. Prestasi Unila harus dipertahankan, sementara pengalaman pahit masa lalu harus dijadikan energi untuk memperbaiki sistem.

Masyarakat Lampung tidak membutuhkan rektor yang hanya mampu menaikkan ranking. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menaikkan kepercayaan.

Rektor mendatang idealnya mampu menjadikan Unila sebagai kampus yang unggul secara akademik, bersih secara tata kelola, aman secara psikologis, adil dalam memberikan kesempatan, dan kuat dalam kontribusinya bagi Lampung.

Ukuran keberhasilan kepemimpinan Unila 2027–2031 bukan hanya seberapa tinggi posisi Unila dalam pemeringkatan dunia, tetapi juga seberapa kuat mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat mengatakan bahwa “Kami percaya kepada Unila dan bangga menjadi bagian darinya.”

Karena universitas yang hebat dapat dibangun dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun universitas yang dicintai dan dipercaya masyarakat hanya dapat dibangun melalui integritas, keadilan, rasa aman, keteladanan, dan kepemimpinan yang manusiawi. (@Ng).

Berita terkait