Selat Hormuz Membara, Harga Plastik Meroket, Pedagang Karedok Pusing Tujuh Keliling, Untung Tipis
Jakarta - Spektroom : Kenaikan harga plastik yang signifikan menyebabkan keresahan di kalangan pedagang makanan, termasuk pedagang gado-gado dan karedok.
Gado-gado adalah makanan khas dari Betawi (Jakarta) yang terdiri dari sayuran rebus dengan bumbu kacang. Sementara itu, karedok merupakan makanan khas dari Sunda (Jawa Barat) menggunakan sayuran mentah segar dengan bumbu kacang yang menggunakan kencur.
Secara tradisional, karedok maupun gado - gado dibungkus daun pisang yang memberikan aroma khas. Namun kini demi kepraktisan pedagang makanan tradisional bergantung pada plastik dan Styrofoam dalam pengemasannya
Meroketnya harga plastik dan Styrofoam membuat pedagang gado - gado dan karedok menjadi bimbang untuk menaikkan harga jual dagangannya karena takut kehilangan pelanggan.
Pedagang yang menjajakan usahanya di Gading Raya, Jakarta Timur ini mengatakan jenis plastik kresek ukuran sedang saat ini naik Rp25.000 dari Rp17.000 per kilogram. Begitu pula Styrofoam untuk tempat makanan dari Rp33.000-Rp35.000 menjadi Rp43.000-Rp55.000,-
"Ya keuntungan jadi kurang berkisar Rp500 hingga Rp1.000 per porsi gado - gado dan karedok karena plastik dan Styrofoam mahal" kata Munah kepada Spektroom, Rabu (15/4/2036)
Kenaikan harga plastik dan Styrofoam dipicu tekanan pasokan nafta sebagai bahan baku utama terhambat akibat perang di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak global.
Nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah sebagai bahan baku utama dalam industri petrokimia untuk plastik melalui serangkaian proses kimia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso pernah mengatakan 60 persen nafta masih diimpor dari Timur Tengah. "Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).
Untuk mengatasi hal tersebut, Budi mengatakan pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan menstabilkan harga di pasar.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri tengah mencari sumber alternatif pasokan nafta di luar Timur Tengah, mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga, serta mendorong pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi.
Meski harga mahal, Agus memastikan ketersediaan produk plastik tetap aman.
"Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).