Trending

Sembahyang Rebut dan Kapal Wangkang: Ketika Pontianak Menjaga Jembatan antara Dunia Manusia dan Arwah

Sembahyang Rebut dan Kapal Wangkang: Ketika Pontianak Menjaga Jembatan antara Dunia Manusia dan Arwah
Andreas Atjui Simanjaya Budayawan Tionghoa Kalimantan Barat. (Foto: Dok Pribadi)

Oleh : Andreas Atjui Simanjaya

Pontianak-Spektroom : Di sebuah sudut Kota Pontianak, kerumunan warga mulai memadati area kelenteng ketika senja perlahan turun. Di atas meja-meja panjang tersusun rapi buah-buahan, makanan, kue tradisional, hingga kebutuhan pokok.

Asap dupa mengepul ke udara, bercampur doa-doa yang dipanjatkan dalam keheningan. Namun, suasana yang awalnya khidmat itu berubah menjadi riuh ketika prosesi sembahyang usai. Warga berlarian, berebut mengambil sesaji yang sebelumnya dipersembahkan.

Bagi orang luar, pemandangan itu mungkin terlihat seperti perebutan biasa. Namun bagi masyarakat Tionghoa, ritual tersebut memiliki makna spiritual yang jauh lebih dalam.

Tradisi itu dikenal sebagai Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat Pan atau dikenal juga dengan Sembahyang Rampas, bagian dari peringatan Bulan Tujuh dalam kalender Imlek yang sering disebut sebagai Hungry Ghost Festival.

Budayawan Tionghoa Kalimantan Barat, Andreas Acui, menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan perpaduan nilai-nilai Taoisme dan Buddhisme yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

“Tujuannya adalah menghormati arwah leluhur sekaligus menenangkan arwah-arwah terlantar yang dipercaya mendapat kesempatan keluar dari alam baka selama bulan ketujuh kalender Imlek,” ujar Andreas.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, bulan ketujuh bukan sekadar penanda waktu.

Bulan ini diyakini sebagai periode ketika gerbang antara dunia manusia dan dunia arwah terbuka.

Karena itu, keluarga-keluarga menyiapkan persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan kepedulian kepada arwah yang tidak memiliki keturunan atau keluarga yang mendoakan.

Salah satu Klenteng yang menggelar kegiatan Sembahyang Rebut atau Sembahyang Rampas. (Foto: Apolo/Spektroom)

Menurut Andreas, prosesi rebutan sesaji yang menjadi daya tarik utama sebenarnya bukan tentang siapa yang mendapatkan paling banyak.

“Rebutan itu bersifat simbolis. Ia menggambarkan suasana di alam liar sekaligus menjadi bentuk berbagi berkah dan sedekah kepada sesama manusia,” katanya.

Di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, peringatan Bulan Tujuh juga identik dengan ritual Kapal Wangkang. Sebuah replika kapal berisi berbagai simbol kebutuhan manusia seperti uang, rumah-rumahan, pakaian, hingga perlengkapan kehidupan lainnya disiapkan untuk kemudian dihanyutkan atau dibakar sesuai tradisi setempat.

Bagi masyarakat Tionghoa, kapal tersebut bukan sekadar benda ritual. Ia menjadi simbol perjalanan pulang bagi arwah-arwah yang masih tersesat.

“Maknanya adalah doa dan harapan agar arwah yang gentayangan maupun yang meninggal secara tidak wajar dapat kembali ke alam baka.

Semua makhluk diharapkan kembali kepada penciptanya dan melanjutkan siklus kehidupan sesuai hukum karma yang diyakini,” jelas Andreas.

Tradisi Bulan Tujuh sendiri merupakan salah satu pilar penting penghormatan leluhur dalam budaya Tionghoa.

Andreas Acui menjelaskan, terdapat tiga sembahyang besar leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Pertama adalah Sembahyang Imlek atau Tutup Tahun yang dimaknai sebagai waktu “makan malam” bersama leluhur sekaligus penghormatan pada awal tahun baru.

Kedua adalah Sembahyang Cengbeng (Qingming) yang diibaratkan sebagai waktu “makan pagi”, dilaksanakan pada bulan ketiga kalender Imlek dengan mengunjungi, membersihkan, dan berdoa di makam leluhur.

Sementara yang ketiga adalah Sembahyang Cokok atau Chit Gue pada Bulan Tujuh Imlek.

Ritual ini dimaknai sebagai waktu “makan siang” dan dikenal pula sebagai sembahyang arwah atau sembahyang rebutan. Puncaknya berlangsung pada pertengahan bulan ketujuh penanggalan Imlek.

“Di Kalimantan, khususnya Pontianak, sembahyang kubur atau sembahyang arwah pada Bulan Tujuh memiliki kedudukan yang sangat penting, bahkan sama besarnya dengan tradisi Cengbeng,” kata Andreas.

Selain tiga sembahyang besar tersebut, masyarakat Tionghoa juga mengenal sejumlah sembahyang yang bersifat lebih kecil, seperti Pe Cun, Festival Kue Bulan, dan Tang Yuan atau tradisi Onde.

Di luar itu terdapat pula ritual penghormatan yang dilakukan secara harian maupun bulanan di altar keluarga yang berada di rumah masing-masing.

Namun demikian, dalam tradisi ziarah kubur tahunan, Andreas menegaskan bahwa masyarakat Tionghoa pada umumnya melakukan kunjungan fisik ke makam leluhur sebanyak dua kali dalam setahun. Pertama saat perayaan Cengbeng dan kedua pada musim sembahyang Bulan Tujuh Imlek.

Tradisi tersebut bukan hanya menjadi sarana mengenang leluhur, tetapi juga mengajarkan nilai bakti, penghormatan terhadap asal-usul keluarga, serta menjaga hubungan spiritual antar-generasi.

Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, suara lonceng kelenteng, aroma dupa, serta riuh rebutan sesaji masih terus bertahan.

Menjadi pengingat bahwa bagi sebagian masyarakat Tionghoa, hubungan dengan leluhur tidak pernah benar-benar terputus. Ia terus hidup melalui doa, penghormatan, dan tradisi yang menjembatani dunia manusia dengan mereka yang telah lebih dahulu pergi.

(Penulis adalah Budayawan Tionghoa Kalimantan Barat)

Berita terkait

Gubernur Bobby Apresiasi Pengungkapan 1,16 Ton Ketamin, Minta Jaringan Narkotika di Sumut Diputus

Gubernur Bobby Apresiasi Pengungkapan 1,16 Ton Ketamin, Minta Jaringan Narkotika di Sumut Diputus

Medan - Spektroom : Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengapresiasi keberhasilan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bersama instansi terkait mengungkap dugaan penyelundupan narkotika jenis ketamin seberat sekitar 1,16 ton di perairan Selat Malaka. Pengungkapan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memutus jaringan dan mempersempit ruang gerak peredaran narkotika, khususnya yang masuk

Hartati Rangkuti
Beras Sumut Surplus 27.633 Ton, Kawasan Pertanian Unggulan Terus Digenjot

Beras Sumut Surplus 27.633 Ton, Kawasan Pertanian Unggulan Terus Digenjot

Medan - Spektroom : Neraca kondisi beras Sumatera Utara pada Oktober 2026 mencatat surplus sebesar 27.633 ton. Capaian tersebut sejalan dengan pengembangan kawasan pertanian unggulan yang terus dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut Fariz Haholongan Hutagalung menyampaikan

Hartati Rangkuti