Senja, Kereta, dan Tawa di Pinggir Rel Kedung Banteng

Senja, Kereta, dan Tawa di Pinggir Rel Kedung Banteng
Sambil menikmati gemuruh mesin dan gesekan roda besi kereta api, warga tertib menikmati jajanan UMKM. (Foto : Biantoro).

Spektroom - Senja perlahan turun di sisi rel kereta api JPL 355 Kedung Banteng, Banyumas. Langit berwarna jingga, sementara di pinggir jalur kereta api, puluhan orang tua bersama anak dan cucu mereka sudah berjajar rapi, beberapa meter dari batas aman rel. Tak ada panggung, tak ada tiket—hanya rel besi, suara mesin, dan kebahagiaan sederhana.

Di sisi barat rel, obrolan ringan dan tawa kecil terdengar bersahut-sahutan. Anak-anak duduk atau berdiri sambil menggenggam jajanan, sesekali melompat kegirangan setiap kali suara klakson kereta terdengar dari kejauhan.

Sementara di sisi timur rel, sekelompok remaja tampak serius—bukan bermain gawai, melainkan saling menebak seri lokomotif yang akan melintas.

"CC 201, CC 206, CC .203," teriak anak anak tersebut bersahut sahutan saat genta di pos gardu JPL 355 berbunyi.

Warga menikmati deru roda besi dengan tetap mengindahkan keselamatan. (Foto : Biantoro)

Tak jauh dari sana, beberapa keluarga memilih duduk santai menghadap rel. Gorengan, cilok, hingga minuman hangat menemani mereka menunggu kereta lewat, seolah rel kereta api telah menjelma ruang publik dadakan.

Lana, bocah kecil yang datang bersama kakek dan neneknya, tampak paling antusias. Ponsel di tangannya merekam detik-detik kereta melintas. Saat masinis membunyikan terompet dengan suara menggelegar, Lana spontan mengacungkan jempol.
“Wah, asyik masinisnya, suara terompetnya menggelegar banget,” ujarnya dengan logat Banyumasan yang medhok, disambut tawa orang-orang di sekitarnya.

Keramaian senja itu juga membawa rezeki. Ayu, penjual gorengan di sekitar pintu pelintasan, mengaku frekuensi kereta api meningkat sejak masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

“Hampir 15 menit sekali kereta lewat di JPL 355. Lumayan jadi tontonan, sekaligus berkah buat kami pedagang kecil,” katanya.

Dari cilok, gorengan, bakso, hingga dawet, semua laku disantap sambil menunggu kereta melintas.

Kepadatan lalu lintas kereta api tersebut dibenarkan Manager Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, As’ad Habibuddin. Menurutnya, selama masa angkutan Nataru, Daop 5 mengoperasikan 19 kereta api reguler dan dua kereta api tambahan, belum termasuk kereta dari daerah operasi lain.

“Setiap hari ada sekitar 144 kereta api yang melintas di wilayah Daop 5 Purwokerto. Artinya, rata-rata setiap 10 menit sekali ada kereta yang lewat,” jelasnya.

Fenomena ini turut mengubah wajah desa-desa di sepanjang rel. Berdasarkan pantauan spektroom.co.id, mulai dari Tambaknegara, Kebasen, hingga Gunung Lurah, Cilongok, bermunculan kafe, rumah makan, dan warung di tepi rel. Bahkan ada yang menempelkan jadwal dan jam melintasnya kereta api, lengkap dengan rambu-rambu perkeretaapian.

Bagi sebagian warga, tontonan kereta api bukan sekadar hiburan. Ia menjadi wisata edukasi, terutama bagi anak-anak. Mereka belajar mengenal petugas pengawas rel yang berjalan kaki dari stasiun ke stasiun, memahami batas aman di sekitar rel, mengenal semboyan 35, hingga menanamkan disiplin berlalu lintas dengan mendahulukan kereta api di perlintasan sebidang.

“Kalau ini bisa disinergikan dengan PT KAI dan pihak lain untuk edukasi, tentu akan lebih baik. Wisatanya dapat, disiplin berlalu lintasnya juga tertanam sejak kecil,” ujar Sugiarto, warga Purwanegara yang rutin mengajak anak dan cucunya menyaksikan kereta melintas.

Fenomena kereta senja di Palang Kedungbanteng menjadi bukti bahwa hiburan tak selalu harus mahal. Di balik rel dan palang kereta, senja sederhana berubah menjadi ruang kebersamaan, hiburan, sekaligus sumber rezeki bagi warga sekitar.

Di bawah cahaya senja Kedung Banteng, kereta api bukan hanya alat transportasi. Ia menjadi penghubung cerita, ruang belajar, dan sumber kebahagiaan sederhana, tempat tawa anak-anak berpadu dengan deru mesin besi yang terus melaju.

Berita terkait

BNN Gerebek Rumah di Bukittinggi, Amankan Puluhan Paket Sabu Bermerek “Durian"

BNN Gerebek Rumah di Bukittinggi, Amankan Puluhan Paket Sabu Bermerek “Durian"

Spektroom – Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek sebuah rumah di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang diduga menjadi lokasi penyimpanan dan peredaran narkotika jenis sabu. Dalam penggerebekan tersebut, petugas mengamankan seorang pria bernama Deni beserta puluhan paket sabu dengan berbagai ukuran, dengan total berat mencapai sekitar 9 kilogram. Pengungkapan kasus ini bermula

Wiza Andrita, Rafles