Sepulang Sekolah, Polisi Hadir Bukan untuk Menindak, tapi Mendengar

Sepulang Sekolah, Polisi Hadir Bukan untuk Menindak, tapi Mendengar
Kapolsek Sengah Temila AKP Ecep Maman Hermawan, S.H., M.Kn. sambangi Pelajar sepulang sekolah. (Foto: Humas Kapolsek Sengah Temila Landak)

Landak-Spektroom : Suasana sore itu tak seperti biasanya.
Di tengah riuh pelajar yang baru saja keluar dari sekolah, sejumlah personel kepolisian tampak menyapa, bukan dengan sikap kaku, melainkan dengan pendekatan hangat dan penuh empati.

Mereka tidak datang untuk menegur atau menindak, tetapi untuk mendengar dan mengingatkan—tentang satu hal yang kerap dianggap sepele, namun berdampak besar: bullying.

Kegiatan yang berlangsung Rabu (8/4/2026) ini menjadi gambaran lain dari wajah kepolisian.

Di sela waktu santai para siswa, petugas justru memanfaatkan momen tersebut untuk membangun kedekatan, menyampaikan pesan-pesan sederhana yang menyentuh kehidupan sehari-hari pelajar.

Di hadapan para siswa, polisi berbicara tentang perundungan, tentang kata-kata yang bisa melukai, tindakan kecil yang bisa meninggalkan trauma, hingga komentar di media sosial yang tak jarang berujung pada luka batin.

Mereka mengajak pelajar untuk melihat bahwa bullying bukan sekadar candaan, melainkan perilaku yang dapat merusak masa depan.

Kapolsek Sengah Temila, AKP Ecep Maman Hermawan, menegaskan bahwa pendekatan seperti ini penting dilakukan sejak dini.

Menurutnya, masa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar, bukan tempat yang menimbulkan rasa takut.

“Anak-anak perlu tahu bahwa mereka berharga, dan orang lain juga demikian. Dari situlah rasa saling menghormati tumbuh,” ujarnya.

Tak hanya mengingatkan untuk tidak menjadi pelaku, para siswa juga diajak untuk tidak diam ketika melihat perundungan terjadi.

Mereka didorong untuk berani bersikap, membela teman, atau setidaknya tidak ikut memperparah keadaan.

Interaksi berlangsung santai. Beberapa siswa tampak mengangguk, sebagian lainnya tersenyum, bahkan ada yang mulai berani bertanya.

Di situlah terlihat bahwa kehadiran polisi bukan sekadar simbol keamanan, tetapi juga menjadi ruang dialog yang jarang mereka temui.

Bagi para pelajar, kehadiran polisi di tengah mereka memberi kesan berbeda. Bukan lagi sosok yang menakutkan, melainkan figur yang peduli dan bisa diajak berbicara.

Pendekatan ini secara perlahan membangun kepercayaan, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk lebih memahami nilai-nilai empati dan kebersamaan.

Di tengah maraknya kasus perundungan di berbagai tempat, langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa pencegahan bisa dimulai dari hal kecil dari percakapan, perhatian, dan keberanian untuk saling menjaga.

Berita terkait