Serabi Rumahan, Bertahan di Tengah Kuliner Modern dan Serabi Legendaris Solo
Surakarta – Spektroom: Di tengah keberadaan toko oleh-oleh serabi legendaris yang menjadi ikon wisata kuliner Kota Solo, serabi rumahan yang dijual sederhana di pinggir jalan dekat Pasar Sangkrah ternyata tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Dengan gerobak sederhana di tepi jalan dekat kawasan pasar Sangkrah dan stasiun kecil, Bu Ugik (55 tahun) setia menjajakan serabi hangat buatannya sejak puluhan tahun silam. Kue tradisional berbahan tepung beras, santan, dan gula itu tetap dicari warga karena cita rasanya yang khas, gurih manis, lembut, dan mempertahankan resep turun-temurun.
“Sudah lama usaha serabi dengan gerobak di pinggir jalan ini. Alhamdulillah tetap laris,” ungkap Bu Ugik kepada Spektroom, Selasa (19/5/2026).
Di Kota Solo sendiri, serabi memang menjadi salah satu kuliner tradisional favorit masyarakat. Selain terdapat sejumlah toko serabi yang sudah sangat terkenal dan memiliki branding kuat sebagai pusat oleh-oleh maupun tujuan wisata kuliner, serabi rumahan yang dijual di pasar tradisional atau pinggir jalan ini tetap memiliki pelanggan setia dan pangsa pasar tersendiri.
Bu Ugik mengatakan, usaha serabi yang dijalaninya merupakan warisan keluarga. Sejak kecil dirinya sudah membantu sang ibu berjualan serabi hingga akhirnya meneruskan usaha tersebut sampai sekarang.
“Boleh dikatakan ini resep leluhur, resep peninggalan ibu saya. Dari kecil saya sudah ikut membantu jualan serabi, lalu setelah ibu meninggal saya melanjutkan usaha ini dengan tetap menjaga kualitas bahan dan rasanya,” jelasnya.

Setiap pagi usai subuh, Bu Ugik bersama suaminya mulai menyiapkan adonan dan memasak serabi langsung di atas tungku kecil di gerobaknya. Aroma santan yang harum dan serabi hangat yang baru matang kerap menarik perhatian warga yang melintas maupun pengunjung pasar.
Serabi yang dijual seharga Rp2.000 per biji itu tersedia dalam pilihan original maupun taburan meses cokelat. Meski harga bahan baku terus naik, Bu Ugik mengaku masih berusaha mempertahankan harga agar tetap terjangkau pembeli.
“Iya pusing juga karena bahan-bahan naik. Mau menaikkan harga rasanya tidak tega, tapi kalau tidak ya bisa tekor,” ujarnya sambil tersenyum.
Tidak hanya dibeli konsumen langsung, serabi buatan Bu Ugik juga sering dipesan pedagang makanan di pasar hingga penjual jajanan keliling. Selain rasanya yang khas, serabi tersebut cukup tahan hingga sore bahkan esok hari jika disimpan di kulkas.
Henny, salah seorang pelanggan, mengaku sengaja membeli serabi Bu Ugik untuk sajian acara pengajian di rumahnya.
“Nanti ada pengajian, jadi cari serabi yang manis gurih untuk melengkapi snack,” tuturnya.
Sementara itu Dewi, pelanggan lainnya, mengatakan hampir setiap pagi membeli serabi hangat tersebut untuk camilan keluarga sekaligus oleh-oleh bagi kerabatnya.
“Sudah kebiasaan beli serabi di sini. Rasanya enak, lembut, dan cocok juga untuk oleh-oleh keluarga,” katanya.
Di tengah persaingan kuliner modern dan maraknya pusat oleh-oleh yang lebih besar, keberadaan serabi tradisional seperti milik Bu Ugik menjadi bukti bahwa cita rasa sederhana dan resep warisan keluarga tetap mampu bertahan serta dicintai masyarakat. (Ciptati Handayani)