Sinyal Radio Rimba Borneo, Gema Suara Perbatasan di Malinau
"Sebagai Prajurit tentu saya tidak bisa menolak apa perintah komandan.." begitu jawab saya setengah bercanda, meski sejatinya saya tidak tahu dimana Malinau berada.
Bandarlampung - Spektroom: Bisa anda bayangkan saudara-saudara kita di Krayan, Nunukan, atau hulu sungai di Malinau. Saat sinyal 4G atau 5G masih sering “ogah - ogahan” muncul di balik bukit, gelombang radio adalah satu-satunya teman setia. Melalui frekuensi FM dan AM, negara hadir menyapa masyarakatnya.
Disinilah peran vital LPP RRI di Kaltara. Sejak RRI Tarakan resmi mengudara pada 3 Juli 2003, disusul kehadiran RRI Nunukan pada 2010, dan Studio Produksi (SP) Malinau, sebagai Safety belt information (Sabuk pengaman informasi) dari negeri Jiran, radio telah menjadi jembatan psikologis yang menghubungkan masyarakat perbatasan dengan ibu kota provinsi maupun pusat.
Di awal 2012, saya mendapat telepon dari "orang pusat" manajemen LPP RRI, to the poin : "Pak Anggoro Bersedia kan, menjadi Kordinator Malinau ??"
Pertanyaan itu muncul setelah si Beliau ber basa basi menanyakan keberadaan saya di RRI Bandarlampung yang pernah Beliau pimpin.
"Sebagai Prajurit tentu saya tidak bisa menolak apa perintah komandan.." begitu jawab saya setengah bercanda, meski sejatinya saya tidak tahu dimana Malinau berada.
Singkat cerita saya benar benar sampai di Tarakan Kota terdekat dengan Malinau yang bisa dilandasi pesawat terbang dan untuk sampai ke Malinau, dari Kota pulau ini harus sambung lagi dengan pesawat cesna milik Susi Puji Astuti 40 menit sampai namun jika kita ingin berwisata air, bisa saja ber speedboat selama 2- 3 Jam hingga sampai ke Bumi intimung.
Bukan rahasia lagi, bahwa di beberapa titik perbatasan kita, sinyal radio dari negara tetangga seringkali lebih kuat dibandingkan sinyal domestik. Tanpa kehadiran stasiun radio seperti RRI yang menyiarkan lagu kebangsaan, berita lokal Kaltara, dan edukasi publik, identitas nasional kita di perbatasan bisa saja tergerus.

Radio di Kaltara menjalankan misi diplomatik yang sunyi, memastikan bahwa telinga warga kita tetap mendengar narasi tentang pembangunan daerahnya sendiri, bukan hanya berita dari seberang batas.
Jangan sampai terdengar lagi, Garuda di dadaku Malaysia di perutku, ya .... Setiap hari dijejalin produk dari negerinya Upin Ipin, meski ada Garuda didada.
Ada fakta menarik yang patut kita catat. Meskipun zaman sudah serba digital, RRI di Kaltara tidak menutup mata. Melalui aplikasi RRI Digital, siaran dari Tarakan (97.9 FM), Nunukan (96.3 FM), hingga SP Malinau (99.9 FM) kini bisa diakses lewat ponsel. Ini adalah bukti bahwa radio tidak mati; namun hanya berganti baju.
Bagi kita di media mainstream, radio adalah mitra strategis. Radio mampu menjangkau area “blind spot” internet yang masih banyak kita temui di pelosok Kaltara. Dia adalah media yang paling inklusif - bisa dinikmati petani saat di ladang, nelayan saat melaut, hingga aparatur sipil negara saat di perjalanan dinas melintasi sungai.
Selamat Hari Radio. Mari kita jadikan momentum ini untuk mengapresiasi para penyiar dan teknisi pemancar yang bekerja di balik suara, memastikan suara Indonesia tetap terdengar lantang dari ujung utara Kalimantan.
Sebab, selama antena masih tegak berdiri dan frekuensi masih bergetar, kedaulatan informasi kita di perbatasan tidak akan pernah padam.(@Ng).