SISSCa 2026 Resmi Masuk 125 Kharisma Event Nusantara 2026, Wako Riyanda: Bukti Budaya Sawahlunto Diakui Nasional

SISSCa 2026 Resmi Masuk 125 Kharisma Event Nusantara 2026, Wako Riyanda: Bukti Budaya Sawahlunto Diakui Nasional
SISSCa 2026 Resmi Masuk 125 Kharisma Event Nusantara 2026, Wako Riyanda: Bukti Budaya Sawahlunto Diakui Nasional. (Foto: dok. SM)

Sawahlunto-Spektroom : Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival (SISSCa) 2026 resmi ditetapkan sebagai salah satu dari 125 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 oleh Kementerian Pariwisata RI. Penetapan ini menjadi tahun kelima secara berturut-turut SISSCa masuk dalam daftar event budaya unggulan nasional.

Kementerian Pariwisata baru saja merilis 125 event unggulan dari 38 provinsi yang akan menjadi magnet wisata nasional sepanjang 2026. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan event daerah didorong sebagai ruang ekspresi budaya dan penggerak ekonomi.

Untuk Kota Sawahlunto, capaian ini memiliki arti khusus. Pemerintah Kota Sawahlunto mematangkan persiapan SISSCa 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 4–6 September 2026 dan mendapat dukungan penuh Kementerian Pariwisata.

“Ini merupakan kali kelima SISSca masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata,” ujar Riyanda, saat melepas Pawai Carnival Songket Silungkang, Sabtu (5/9/2026) malam.

“Status ini bukan sekadar label, tetapi merupakan pengakuan nasional bahwa budaya Sawahlunto memiliki daya tarik wisata yang diakui,” tegasnya.

Riyanda menambahkan, SISSCa bukan sekadar agenda hiburan, tetapi diarahkan menjadi etalase budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.

“Harapan kita, kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha dan media semakin kuat sehingga SISCa bisa menjadi ikon Sawahlunto dan terus berkembang sebagai agenda nasional,” tambahnya.

“Songket Silungkang bukan sekadar kain yang berkilau. Di dalamnya ada tradisi dan budaya yang harus terus hidup dan berkembang,” kata Riyanda. .

Sebagai salah satu Kharisma Event Nusantara 2026, SISSCa kembali hadir sebagai ruang untuk merayakan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat Sawahlunto, sekaligus mengangkat Songket Silungkang agar semakin dikenal, dicintai, dan memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Songket Silungkang sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 8 Oktober 2019. Keunikannya terletak pada filosofi proses pembuatannya yang dikenal dengan aktivitas 5M, yakni Mancolok, Manuriang, Mahani, Maharok, dan Mananun.

Tahun ini SISSCa mengusung tema Songket sebagai Warisan, Dibungkus Masa Depan, dengan konsep carnival fashion kreatif berbasis budaya yang mempertemukan tradisi dengan selera industri fashion modern termasuk pasar luxury.

Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku UMKM, perajin, seniman, komunitas, dan seluruh masyarakat, Pemko Sawahlunto terus mendorong ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru bagi Sawahlunto.

“Menjaga kelangsungan warisan budaya sangat penting untuk mempertahankan identitas lokal. Pada saat yang sama, warisan itu harus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” kata Riyanda.

Rangkaian kegiatan dimulai Jumat (4/9) dengan expo dan lomba melukis payung tingkat SD, dilanjutkan fashion show karya desainer Fomalhaut Zamel, pentas seni, dan malam puncak karnaval Sabtu (5/9/2026) di kawasan Terminal Baru Sawahlunto dengan 72 peserta yang terbagi dalam tiga kategori: antar-desa/kelurahan, antar-OPD, dan kategori umum BUMN/swasta.

Puncak karnaval dijadwalkan pukul 20.00–22.00 WIB sekaligus penutupan Minggu (6/9/2026) akan menghadirkan artis nasional.

Mari bersama menjaga warisan leluhur, mengembangkan inovasi, dan menjadikan Songket Silungkang sebagai kebanggaan Sawahlunto untuk Indonesia dan dunia. (Ris1)

Berita terkait

Warga Gili Lombok Utara Alami Krisis Air Bersih

Warga Gili Lombok Utara Alami Krisis Air Bersih

Lombok Utara-Spektroom : Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan langkah penyelesaian gangguan suplai air bersih di kawasan Gili Trawangan dan sekitarnya, yang berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat sekaligus aktivitas pariwisata. Persoalan air bersih di kawasan Gili, harus diselesaikan dengan mempertemukan dua kepentingan sekaligus menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan keberlangsungan pariwisata, serta

Marsam Putrangga, Julianto