Solo Kota Wisata Medis, Dipacu Untuk Diwujudkan
Solo - Spektroom : Solo Medical and Wellnes Tourism terus dipacu untuk diwujudkan, termasuk Walikota Respati Ardi mengingatkan rumah sakit meningkatkan porsi layanan pasien Non BPJS.
Dalam Gathering and Kick Off Meeting Solo Medical and Wellness Tourism kolaborasi antara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), dan BTN di Hotel Sunan Solo, ( Jumat, 24/04/ 2026 ) Respati menyampaikan penguatan layanan non-BPJS krusial untuk membentuk citra rumah sakit di Solo sebagai destinasi medis pilihan bagi pasar menengah ke atas dimana saat ini dua rumah sakit daerah milik Pemkot Surakarta masih didominasi pasien BPJS hingga 95 persen.
Guna merealisasikan sebagai kota Wisata Medis, melalui pendampingan dari Kementerian Kesehatan, rumah sakit daerah ditargetkan mampu meningkatkan kunjungan pasien mandiri atau non-BPJS hingga 20 persen dengan harapan mampu bersaing dalam menjual layanan wellness dan medis layaknya rumah sakit internasional di luar negeri.
"Tourism hari ini kita bahas, kita harus sepakat dulu kita mau jualan non-BPJS. Makanya disebut tourism. Kami di pemerintah kota sedang berbenah dan mengajak pihak swasta juga ikut menyukseskan hal tersebut melalui pendampingan promosi dan manajemen layanan yang lebih komersial," tegas Respati.
Sementara dalam gethering, Ketua PHRI Solo, Joko Sutrisno, menambahkan selain medis, aspek wellness seperti terapi herbal dari Tawangmangu dan layanan spa tradisional juga menjadi daya tarik yang tidak dimiliki daerah lain.
Inovasi layanan ini diharapkan menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus berwisata.
"Rumah sakit di Solo itu punya diferensiasi banyak sekali, contohnya di Orthopedi yang tamunya sampai luar negeri, ada juga layanan DSA di DKT. Edu-value ini yang kita barengkan dengan layanan wellness tourism seperti herbal dan spa agar orang mau datang ke Solo," ujar Joko.
Guna mendukung kelancaran akses, Pemkot Surakarta akan menyiapkan layanan jemputan khusus di bandara dan stasiun menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi secara khusus.
Wisatawan medis nantinya akan disambut dengan pelayanan prima sejak menginjakkan kaki di Solo hingga masuk ke pintu rumah sakit yang sejalan dengan kampanye "72 Jam di Solo" yang bertujuan memperlama durasi tinggal wisatawan di Kota Bengawan.
Dengan dukungan stimulus dari pemerintah dan kreativitas para influencer nasional yang akan dilibatkan dalam promosi, program ini optimis dapat viral dan menarik market anak muda hingga perempuan usia 18-35 tahun.
Guna memacu terwujudnya Solo Medical and Wellness Tourism, didukung modal kuat dengan keberadaan 22 rumah sakit yang memiliki diferensiasi tinggi, seperti Rumah Sakit Ortopedi dan layanan spesialis jantung.
(Dan)