Tabuhan Marawis Buka Harapan Baru, Anak-Anak Disabilitas Belajar Percaya Diri Lewat Irama

Tabuhan Marawis Buka Harapan Baru, Anak-Anak Disabilitas Belajar Percaya Diri Lewat Irama
Sebanyak 50 peserta penyandang disabilitas dan anak-anak dari keluarga prasejahtera binaan Yayasan Bina Insani Winsar mengikuti pelatihan musik religi. (Foto: Sudin Kominfotik JB)

Jakarta-Spektroom : Suara tabuhan marawis memenuhi ruang latihan di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Barat. Di sela denting rebana dan irama yang perlahan menyatu, senyum lebar menghiasi wajah puluhan anak penyandang disabilitas.

Ada yang masih ragu memukul alat musiknya, ada pula yang mulai percaya diri mengikuti tempo. Sesekali tawa pecah ketika mereka berhasil memainkan pola ritme yang baru dipelajari bersama.

Pemandangan itu menjadi gambaran hangat pelatihan musik religi yang digelar Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat. Sebanyak 50 peserta yang terdiri atas anak-anak penyandang disabilitas dan anak dari keluarga prasejahtera binaan Yayasan Bina Insani Winsar mengikuti kegiatan yang tidak hanya mengajarkan seni bermusik, tetapi juga menumbuhkan harapan.

Bagi sebagian peserta, inilah kali pertama mereka memegang alat musik marawis. Dari rasa penasaran, perlahan tumbuh keberanian untuk mencoba, belajar, dan tampil bersama teman-teman lainnya.

Pelatihan tersebut dirancang bukan sekadar mengenalkan teknik memainkan marawis. Melalui setiap ketukan yang dimainkan secara berkelompok, para peserta diajak melatih konsentrasi, membangun kerja sama, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri yang kelak berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, Bayu Permana, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah menghadirkan ruang berkesenian yang inklusif dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

"Pelatihan sengaja dirancang dalam dua kelas. Selain anak-anak penyandang disabilitas, para pembimbing Yayasan Bina Insani Winsar juga mendapatkan materi yang sama agar proses pembelajaran tidak berhenti ketika program selesai. Yang kita latih bukan hanya anak-anaknya, tetapi juga para pembimbingnya. Jadi setelah pelatihan berakhir, mereka tetap bisa membina dan mengembangkan kemampuan anak-anak secara mandiri," ujarnya.

Menurut Bayu, seni marawis dipilih karena mengajarkan kebersamaan. Permainan musik yang mengandalkan kekompakan ritme dinilai mampu membantu peserta melatih koordinasi, komunikasi, dan ekspresi diri dalam suasana yang menyenangkan.

Kebahagiaan para peserta semakin lengkap karena setiap anak nantinya akan menerima seperangkat alat musik marawis. Bantuan tersebut diharapkan menjadi sarana agar mereka dapat terus berlatih di lingkungan yayasan tanpa terkendala fasilitas.

Harapan itu disambut penuh syukur oleh Ketua Yayasan Bina Insani Winsar, Dewi Handayatun. Ia mengaku anak-anak binaannya sejak lama memiliki minat besar terhadap musik, namun keterbatasan ekonomi membuat mereka belum memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat tersebut.

"Alhamdulillah anak-anak memang senang bermusik. Begitu tahu ada pelatihan marawis, mereka sangat antusias. Selama ini kami belum mampu menyediakan alat musik karena sebagian besar anak-anak berasal dari keluarga prasejahtera," katanya.

Bagi Dewi, pelatihan ini bukan hanya tentang belajar memainkan alat musik. Program tersebut memberi ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat, membangun rasa percaya diri, bahkan membuka peluang tampil dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.

Selama sepuluh hari ke depan, ruang latihan PPSB Jakarta Barat akan terus dipenuhi semangat para peserta yang belajar menyelaraskan irama. Di balik setiap tabuhan marawis, tersimpan kisah tentang keberanian, ketekunan, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak diberi kesempatan untuk berkembang.

Melalui sentuhan seni, Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat menunjukkan bahwa inklusivitas tidak berhenti pada sebuah slogan. Ketika ruang dibuka dan kesempatan diberikan, anak-anak penyandang disabilitas mampu menghadirkan harmoni yang bukan hanya terdengar indah, tetapi juga menginspirasi banyak orang bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah mimpi.

Berita terkait

RAJE Jember Bagikan 1000 Bendera Merah Putih di Sejumlah Titik, Ajak Warga Semarakkan HUT ke-81 RI

RAJE Jember Bagikan 1000 Bendera Merah Putih di Sejumlah Titik, Ajak Warga Semarakkan HUT ke-81 RI

Jember-Spektroom : Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terus digaungkan di Kabupaten Jember. Rumah Aspirasi Jember (RAJE) Jember membagikan 1000 Bendera Merah Putih kepada masyarakat di sejumlah titik kabupaten Jember, pada Minggu (16/08/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengajak masyarakat turut menyemarakkan bulan kemerdekaan

Budi Sucahyono, Julianto
Petugas Paskibraka Bagian Proses Pembentukan Karakter, Kedisiplinan Dan Semangat Nasionalisme

Petugas Paskibraka Bagian Proses Pembentukan Karakter, Kedisiplinan Dan Semangat Nasionalisme

Bogor-Spektroon: Bupati Bogor Rudy Susmanto mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Bogor Tahun 2026. Diantara putra-putri terbaik yang terpilih, terdapat anggota yang berasal dari keluarga petani hingga seorang anggota yang telah kehilangan kedua orang tuanya sejak usia remaja. Kisah tersebut disampaikan Rudy saat pengukuhan Paskibraka Kabupaten Bogor Tahun 2026

Asmari, Anggoro AP
Subuh Berjamaah, Kabid Propam Polda Maluku Buka Ruang Pengawasan Publik: Polri Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Berani Mengadu

Subuh Berjamaah, Kabid Propam Polda Maluku Buka Ruang Pengawasan Publik: Polri Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Berani Mengadu

Maluku-Spektroom : Kepolisian Daerah Maluku terus memperkuat kedekatan dengan masyarakat sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam pengawasan institusi Polri. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sholat Subuh Berjamaah Keliling dan Silaturahmi yang dilaksanakan Kabid Propam Polda Maluku Kombes Pol. Jarot Sungkowo, S.H., S.I.K., M.H., bersama personel Bidpropam di

Eva Moenandar, Rafles