Tahun Kedua MBG, Kualitas Gizi Anak Jadi Sorotan
Spektroom - Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) tahun 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan kebijakan gizi di Indonesia.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), perhatian publik kini tidak lagi hanya tertuju pada perluasan jangkauan program, tetapi juga pada kualitas serta dampaknya terhadap perbaikan status gizi anak dan remaja.
Ketua Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Manik Marganamahendra, dalam siaran persnya menyampaikan, bahwa tahun kedua MBG merupakan fase penting untuk memahami bagaimana program ini berinteraksi dengan realitas sosial di tingkat keluarga.
“MBG menghadirkan intervensi penting dalam pemenuhan gizi anak. Namun pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kualitas dan konsistensi gizi yang diterima anak sangat dipengaruhi oleh kondisi di luar sekolah, terutama lingkungan keluarga tempat mereka tumbuh,” ujar Manik, Senin (26/1/2026).
Manik menambahkan, di sejumlah wilayah, keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah masih menghadapi tantangan dalam menjaga pemenuhan gizi anak secara berkelanjutan di rumah.
Manik juga menyatakan bahwa fase satu tahun program MBG harus diukur hasil dan dampaknya pada gizi anak juga keluarga.
“Dalam keseharian, rumah tangga dihadapkan pada berbagai pilihan pengeluaran. Sebagian diantaranya dialokasikan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif dan tidak selalu mendukung pemenuhan gizi anak.” lanjutnya
Sementara Tim Ahli Kesehatan Masyarakat IYCTC, Adhiyatma Nizar Fuaddy, menyoroti pentingnya melihat pemenuhan gizi anak melalui pendekatan berbasis bukti dan kesehatan masyarakat.
Dirinya menekankan bahwa konsumsi rokok, baik secara aktif maupun paparan asap rokok di rumah, memiliki kaitan yang kuat dengan risiko stunting pada anak.
“Berbagai kajian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di rumah dengan paparan asap rokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan” jelas Adhiyatma.
Selain dampak kesehatan langsung, Adhiyatma menambahkan bahwa konsumsi rokok juga memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Analisis berbasis data Susenas yang dilakukan oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk rokok berkorelasi dengan penurunan konsumsi protein dan energi, terutama pada kelompok rumah tangga berpengeluaran rendah.(@Ng).