Takengon, Suara Itu Ada Diantara Lengkung Langit Serambi Mekah

Selepas 30 menit perjalanan dari Bener Meriah, saya terpesona dengan pemandangan indah yang terpampang di depan  mata. indahnya Danau Lut Tawar. Tentang danau ini akan saya ceritakan di lain waktu.

Takengon, Suara Itu Ada Diantara Lengkung Langit Serambi Mekah
Studio RRI SP Takengon (Dokumentasi Pribadi).

Jakarta-Spektroom : Tahun 2012, tanggalnya saya lupa, yang pasti  sudah 14 tahun lebih berlalu, saya yang saat itu menjabat Kepala Bagian Tata Usaha KORPRI  LPP RRI, ditugaskan Direksi menjadi Koordinator Stasiun Produksi RRI Takengon Aceh Tengah. 

Walau saya berasal dari Sumatera Utara yang berbatasan dengan Propinsi Aceh, Takengon sama sekali belum pernah saya dengar, apalagi menginjakkan kaki di tanahnya. Saya cari dari berbagai sumber tentang daerah itu, ternyata daerahnya masih jauh dari Aceh, sekitar 8 jam perjalanan darat dan berudara dingin karena berada di dataran tinggi. 

Satu yang menarik perhatian saya adalah daerah ini adalah penghasil kopi Gayo yang sangat enak rasanya. Saya memang penikmat kopi, jadi penasaran dan tak sabar  juga untuk segera dapat menikmati aroma kopi gayonya.

Perjalanan ke Takengon dengan pesawat udara transit di Medan. Untuk langsung ke Takengon, selain perjalanan darat selama 12 jam lebih, hanya pesawat kecil berpenumpang 8 orang dengan jadwal tertentu, artinya tidak tiap hari ada. 

Celakanya karena kurang informasi pas saya mendarat di Medan, pesawat ke Takengon sudah take off terpaksa saya menunggu penerbangan besok hari itupun lewat Lhokseumawe. Jadilah saya menginap di ruang tunggu bandara Kualanamu Medan. 

Sebenarnya banyak saudara saya di Medan, tapi pesawat ke Lhokseumawe waktu itu berangkat jam 7 pagi, saya tidak mau merepotkan siapapun. Asyiik juga bermalam di ruang tunggu bandara, banyak dapat kenalan baru.

Singkat kata setelah mendarat di Lhokseumawe, saya dijemput Pak Wanai, Kepala  LPP RRI Lhokseumawe. Perjalanan ke Takengon melewati beberapa kota antara lain Aceh Utara dan kota Bireuen. 

Jalan berkelok kelok, naik-turun, mual juga perut ini. Mendekati kota Bener Meriah, yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah....udara yang tadinya panas berubah dingin...suasana kotanya sangat ramai. 

Saya pikir suasana perjalanan tidak akan berubah, tetapi setelah kota Bener Meriah ternyata kami masih melewati hutan belantara, tidak berpenghuni.... hanya sesekali terdengar kicau burung dari kejauhan. 

Selepas 30 menit perjalanan dari Bener Meriah, saya terpesona dengan pemandangan indah yang terpampang di depan  mata. indahnya Danau Lut Tawar. Tentang danau ini akan saya ceritakan di lain waktu.

Akhirnya 5 jam perjalanan dari Lhokseumawe sampailah saya di  kantor atau lebih tepatnya studo SP LPP RRI Takengon, karena bentuknya memang seperti rumah. Belakangan baru saya tau SP LPP RRI Takengon mendiami bekas rumah Camat, pinjam-pakai sepuasnya. 

Agak ngenes juga saya yang biasa bekerja di gedung tinggi bertingkat di pusat pemerintah negara, sekarang akan bekerja di sebuah daerah kecil yang kantornya lebih mirip rumah daripada sebuah kantor. Namun, Apapun itu tugas harus dilaksanakan dengan baik.

Saya tidak akan menceritakan apa yang saya kerjakan, tapi yang saya rasakan dan alami selama menunaikan amanah dari Direksi.

Dulu, yang namanya Koordinator itu mendapat tambahan honor dari Kantor Pusat. Tapi saya tidak, entah apa alasannya. sementara anggaran SP LPP RRI Takengon melekat di RRI Lhokseumawe sebagai RRI induknya. 

Pintar2lah saya menyiasati uang yang ada. Karena Gaji saya sebagian wajib saya serahkan ke isteri. Salah satunya cara agar uang cukup tiap bulan adalah mondok di kantor. Saya menempati salah satu ruangan yang disulap jadi kamar. 

Teman-teman ada yang menawarkan untuk tinggal di rumah mereka, tapi saya menolaknya dengan halus. Jadilah saya mondok di kantor sekalian jadi Satpam di malam hari, karena setelah tutup siaran semua staf pulang. 

Tinggalah saya sendiri dalam kedinginan yang amat sangat. Jika ingin buang air kecil, terpaksa ditahan, karena di samping kamar mandi jauh di belakang, kantor RRI Takengon bersebelahan dengan Taman Pemakaman Umum ( kepo ya). 

Para staf sebenarnys juga heran kenapa saya berani  tinggal sendiri, karena banyak di antara mereka yang pernah bermalam di kantor sering diganggu makhluk halus. 

Padahal saya takut juga sih...karena pernah diperlihatkan sosok yang tak kasat mata...karena itu di depan pintu kamar saya pasang kaligrafi surah Al Baqarah ayat 255, nama lain dari ayat Kursi.

Hari-hari saya berikutnya disibukkan dengan rutinitas penyiaran dengan.perlengkapan seadanya, ingin buat perubahan, tidak ada anggaran, yang ada hanya anggaran siaran, itupun ada di RRI Lhokseumawe.  

Saya coba mengusulkan ke Kantor Pusat untuk pengadaan beberapa meubel air, di samping pengadaan alat studio, tapi diminta berkoordinasi dengan Korwil RRI Medan. Peralatanstudio yang ada saat itu merupakan pinjaman dari RRI Banda Aceh..... yang dipinjamkan ketika akan meresmikan SP.LPP RRI Takengon. 

Masalah lainnya yang tak kalah peliknya adalah, walau Studio Produksi LPP RRI Takengon, berada di Dataran Tinggi Gayo, daerahnya sangat dingin, tapi jangan bicara soal air bersih..susahnya bukan main. Untuk mandi saja terpaksa mengeluarkan uang pribadi. Tidak ada anggaran dinas untuk pengadaan  air bersih. Untungnya karena daerahnya dingin jadi tidak perlu mandi setiap hari hehehehe(bercanda)....

Soal lainnya adalah lokasi pemancar yang cukup jauh dari kantor, sekitar 1 jam perjalanan, berada di daerah wisata Pantan Terong. Kalau hujan jalanan licin dan sering terjadi longsor. 

Gedung atau lebih tepatnya gudang pemancar berada di atas sebuah bukit.  Untuk sampai ke gudang pemancar, memerlukan stamina yang harus kuat, jalan ke atas bukit cukup terjal. Saya yang coba menjajal stamina harus berhenti beberapa kali untuk sampai.ke gudang pemancar. 

Gudang Pemancar SP RRI Takengon di atas bukit obyek wisata Pantan Terong. (Dokumentasi pribadi).

Karena sudah agak sore, saya ingin bermalam merasakan dingin udara perbukitan, tapi ternyata jika malam lokasi sangat gelap, tidak ada penerangan untuk sampai ke bawah, akhirnya saya batalkan rencana menginap. Apalagi jika malam  banyak babi hutan berkeliaran.

Terkadang, ketika malam datang menjelang, ketika suara jangkrik ditingkah suara lolongan anjing saling bersahutan, dalam selimut tebal saya merenung, sampai kapan RRI Takengon seperti ini, semuanya serba terbatas.... dan sampai kapan saya bisa bertahan dalan suasana serba terbatas itu. Sampai kapan pula saya untuk mandi saja harus membeli air..sementara tambahan honor tidak ada sama sekali. 

Tapi dari itu semua ada yang tidak bisa saya lupakan, di tengah keadaan serba apa adanya, semangat kerja teman- teman sangat luar biasa, itu yang mungkin salah satu hal membuat saya betah berada RRI Takengon dan salah satunya lagi adalah nikmatnya rasa Kopi Arabika Gayo.

Hampir satu tahun lamanya saya bertugas sebagai koordinator SP LPP RRI Takengon, banyak suka dan duka. Walau kalau ditimbang timbang lebih banyak dukanya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi,  kita memang harus berani ditempa di tempat yang sama sekali berbeda dari daerah yang kita tinggali, berbeda dari kota-kota besar seperti Jakarta, berbeda pula dari segi budaya dan adat istiadat, sarana dan prasarana di tempat kerja, agar kita menjadi lebih tangguh.

SP LPP RRI Takengon di Dataran Tinggi Tanah Gayo salah satu tempatnya.

Penulis Eddy Ivan Koordinator SP LPP RRI Takengon 2012.

Berita terkait

Perkuat Perlindungan Anak, Pemprov Sumbar Kembangkan Mekanisme Rujukan Terpadu

Perkuat Perlindungan Anak, Pemprov Sumbar Kembangkan Mekanisme Rujukan Terpadu

Padang-Spektroom : Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) memperkuat upaya perlindungan anak melalui pengembangan mekanisme rujukan terpadu bagi Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus (AMPK), termasuk anak yang terdampak atau terpapar jaringan kekerasan ekstremisme. Penguatan tersebut dibahas Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah bersama Deputi Deradikalisasi BNPT sekaligus Direktur Idensos Densus 88 AT, Irjen

Rafles