Tantangan Pasar Modal Indonesia Bukan Status MSCI, Melainkan Krisis Kredibilitas Investor
Jakarta –Spekstroom: Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tetap menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Market dinilai belum menjadi indikator bahwa persoalan pasar modal nasional telah sepenuhnya teratasi.
Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Laksamana Sukardi, menegaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah menurunnya tingkat kepercayaan investor terhadap kualitas tata kelola pasar.
Dalam analisis yang dirilis dari Singapura, Senin (22/6/2026), Laksamana menilai perhatian publik seharusnya tidak hanya terfokus pada keberhasilan Indonesia menghindari penurunan status menjadi Frontier Market.
Menurutnya, aspek yang jauh lebih penting adalah bagaimana investor global memandang transparansi, kredibilitas, serta kepastian investasi di Indonesia.
Ia menyoroti hasil Market Accessibility Review MSCI yang kembali memberikan catatan terhadap aspek Information Flow atau kualitas keterbukaan informasi bagi investor.
Persoalan tersebut disebutnya sebagai isu yang telah berulang kali disampaikan MSCI dan hingga kini dinilai belum sepenuhnya mendapatkan perbaikan yang memadai.
Menurut Laksamana, sebelum laporan MSCI diterbitkan, investor asing telah lebih dahulu menarik dana sekitar US$3,6 miliar dari pasar saham Indonesia selama lima bulan terakhir. Pada periode yang sama, kinerja pasar saham nasional juga tercatat sebagai salah satu yang terlemah di dunia.
“Laporan MSCI bukan penyebab keluarnya modal asing, melainkan lebih merupakan konfirmasi atas kekhawatiran yang sebelumnya telah tercermin dari keputusan investor untuk mengurangi eksposurnya di Indonesia,” ujarnya.
Selain persoalan transparansi informasi, ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah, struktur kepemilikan saham, serta praktik perdagangan yang memengaruhi pembentukan harga turut menjadi faktor yang menekan kepercayaan investor.
Laksamana menjelaskan bahwa klasifikasi MSCI tidak ditentukan oleh besarnya perekonomian suatu negara, melainkan oleh tingkat aksesibilitas pasar. Penilaian tersebut mencakup kemudahan investor memperoleh informasi yang akurat, transparansi kepemilikan, hingga efisiensi keluar-masuk investasi.
Karena itu, bertahannya Indonesia dalam kelompok Emerging Market tidak otomatis mencerminkan tingginya kepercayaan investor. Ia memperkirakan sebagian investor institusi global masih mempertahankan investasinya, namun dengan porsi yang lebih kecil dan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi.
Di akhir analisanya, Laksamana mengingatkan pemerintah agar menjadikan masukan pasar sebagai bahan evaluasi. Menurutnya, upaya memperkuat kepercayaan investor harus dilakukan melalui konsistensi kebijakan, transparansi, serta rekam jejak tata kelola yang baik.
“Pada akhirnya, tantangan utama Indonesia bukanlah klasifikasi pasar, melainkan kepercayaan. Kredibilitas hanya dapat dibangun melalui konsistensi kebijakan, transparansi, dan rekam jejak yang kuat,” tegasnya.