Tape Singkong dari Desa, Menjadi Camilan Warga Kota
Surakarta – Spektroom: Saat sebagian besar warga Kota Solo masih terlelap, Rendi sudah memacu sepeda motornya dari Jumantono, Kabupaten Karanganyar, menuju Pasar Sangkrah.
Perjalanan lebih dari satu jam itu dilakoninya setiap hari demi menjajakan tape singkong buatan keluarga dan hasil kebun warga desanya.
Sesampainya di depan pasar, pria berusia sekitar 35 tahun itu langsung menata dagangannya. Satu per satu kemasan tape singkong yang dibungkus rapi dalam wadah mika beralas daun pisang disusun di atas tampah, berdampingan dengan aneka hasil bumi lainnya.
"Saya berangkat sebelum subuh, supaya pagi-pagi dagangan sudah siap saat pembeli mulai berdatangan," ujar Rendi kepada Spektroom, Kamis (6/8/2026).
Tape singkong yang dijualnya dibanderol Rp2.500 per kemasan. Bagi pembeli yang membeli dalam jumlah banyak, Rendi tak segan memberikan potongan harga.
"Kalau beli banyak ya saya kasih harga lebih murah. Yang penting pembeli senang dan dagangan cepat habis," katanya sambil melayani pembeli.
Setiap hari, Rendi mengolah sekitar 10 - 20 kilogram singkong yang dipanen dari kebun petani di desanya. Singkong dikukus, kemudian diberi ragi dan difermentasi selama dua hingga tiga hari hingga menghasilkan tape yang manis dan lembut. Setelah matang, tape dikemas dalam wadah mika agar tetap bersih dan praktis.
Banyak pembeli mengaku menyukai tape buatan Rendi karena rasanya manis alami, tampilannya bersih, dan harganya terjangkau.
"Tapenya manis, bersih, dan murah. Biasanya saya beli untuk camilan di rumah atau dibuat kolak maupun wedang tape," kata Sumiati, salah seorang pembeli.
Hal senada disampaikan Tono yang mengaku sudah menjadi pelanggan tetap. Menurutnya, tape buatan Rendi memiliki cita rasa khas yang berbeda karena dibuat dari singkong hasil panen di desa.
"Rasanya enak dan terasa alami. Saya juga pernah membaca kalau tape baik untuk kesehatan pencernaan kalau dikonsumsi secukupnya," ujarnya.
Lewat dagangan sederhana itu, Rendi ikut mengenalkan hasil olahan pangan tradisional dari pedesaan kepada masyarakat perkotaan. Setiap kemasan tape yang laku terjual bukan hanya membawa rezeki bagi keluarganya, tetapi juga menjadi penghubung antara hasil kebun petani desa dan meja makan warga Kota Solo.