Tiga Menit yang Mengubah Riam Janaham Menjadi Lautan Tawa
Landak - Spektroom : Peluit belum ditiup, tetapi ketegangan sudah terasa di tepian Riam Janaham, Dusun Anik Tembawang, Desa Anik Dingir, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak, Minggu (16/08/2026).
Anak-anak berdiri paling depan dengan mata tak lepas dari permukaan air. Di belakang mereka, para remaja dan orang tua saling bercanda, namun tetap mengamati sungai yang sebentar lagi akan menjadi arena perburuan ikan. Sesekali terdengar suara tawa, bercampur dengan sorak-sorai warga yang terus berdatangan.
Hari itu, perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung dengan cara yang berbeda.
Bukan lomba panjat pinang atau balap karung, melainkan lomba tangkap ikan Manila dan lele jumbo yang digelar di tengah aliran sungai.
Tepat pukul 13.00 WIB, ratusan warga telah memadati kawasan riam. Mereka datang bukan hanya untuk menca16/08/2026ri ikan, tetapi juga untuk menikmati momen kebersamaan yang sudah lama menjadi tradisi masyarakat setempat.
Lalu peluit berbunyi.
Dalam hitungan detik, suasana berubah drastis. Air sungai yang semula tenang mendadak bergolak. Puluhan orang berhamburan masuk ke sungai, mengejar ikan yang bergerak cepat di antara batu-batu dan arus dangkal.
Seorang bocah berteriak kegirangan ketika berhasil menggenggam seekor ikan Manila.
Tak jauh darinya, seorang pria dewasa kehilangan keseimbangan dan tercebur ke air, memancing gelak tawa warga yang menyaksikan dari tepi sungai.
Ada yang berhasil memasukkan beberapa ekor ikan ke dalam kantong plastik. Ada pula yang berkali-kali mencoba namun tangannya selalu luput.
Namun tak seorang pun terlihat kecewa. Justru kegagalan-kegagalan kecil itulah yang membuat suasana semakin meriah.
Koordinator lomba, Natanael, mengatakan sebanyak 25 kilogram ikan Manila dan 5 kilogram lele jumbo dilepas ke Riam Janaham untuk memeriahkan kegiatan tersebut.
Setiap peserta hanya diberi waktu tiga menit. Waktu yang singkat, tetapi cukup untuk menciptakan ratusan cerita dan kenangan.
“Tujuan utamanya bukan mencari siapa yang paling banyak mendapatkan ikan.
Yang terpenting masyarakat bisa berkumpul, bergembira, dan merasakan semangat kemerdekaan bersama,” ujarnya.
Di sela keramaian, tampak para ibu menunggu di pinggir sungai sambil tertawa melihat suami dan anak-anak mereka berlomba menangkap ikan.
Beberapa warga bahkan sudah membayangkan ikan hasil tangkapan itu akan menjadi lauk makan malam keluarga.
Bagi masyarakat Desa Anik Dingir, kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan upacara atau seremoni besar.
Di tempat ini, kemerdekaan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: tawa yang lepas, kebersamaan yang hangat, dan semangat gotong royong yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Ketika lomba berakhir, ikan-ikan mungkin sudah habis ditangkap. Namun yang tersisa adalah sesuatu yang lebih berharga—kenangan tentang sebuah sore di Riam Janaham, ketika seluruh warga larut dalam kegembiraan merayakan Indonesia dengan cara mereka sendiri.