Tim Kesehatan NTB Layani Ribuan Warga Terdampak Gempa NTT
Mataram-Spektroom : Dalam enam hari misi Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB, Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat telah memberikan 3.307 layanan kepada warga terdampak gempa Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur. Hingga 25 Agustus 2026, pelayanan tersebut menjadi bagian dari respons kesehatan di tujuh kabupaten yang terdampak bencana.
Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB sekaligus Ketua Tim Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, di Mataram, Rabu (26/8/2026), mengatakan tingginya angka pelayanan menunjukkan besarnya kebutuhan kesehatan masyarakat pascagempa. Kondisi itu, menjadi dasar bagi penguatan respons kesehatan sejak awal, mulai dari penempatan tenaga medis hingga pelayanan yang menjangkau masyarakat di wilayah sekitar lokasi terdampak.
“Angka 3.307 layanan itu menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan memang cukup besar. Karena itu, sejak awal respons yang kita bangun bukan hanya menempatkan tenaga kesehatan di satu titik, tetapi memperkuat pos pelayanan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” kata Aka.
Salah satu lokasi pelayanan Tim Kesehatan NTB berada di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Dari wilayah ini, sebagian tim juga bergerak secara mobile sekaligus memperkuat sejumlah pos kesehatan yang masih membutuhkan tenaga medis.

Di tengah pelayanan langsung tersebut, pengawasan terhadap penyakit potensial kejadian luar biasa atau KLB juga terus diperkuat. ISPA menjadi penyakit potensial KLB yang paling dominan.
Sementara itu, pneumonia mencapai 30 kasus pada 24 Agustus dan masih tercatat 12 kasus pada 25 Agustus. Disentri juga menunjukkan kecenderungan peningkatan pada akhir periode pengamatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian tim untuk memperkuat surveilans harian, deteksi dini, pemantauan kelompok rentan, serta pengawasan terhadap sanitasi, air bersih, dan kondisi lingkungan.
“Bagi kami, angka penyakit itu bukan sekadar catatan harian. Ketika ada peningkatan, tim harus melihat apa penyebab dan faktor risikonya di lapangan. Karena itu, pelayanan medis harus berjalan bersama dengan surveilans, pemantauan air bersih, sanitasi, dan kondisi masyarakat di pengungsian,” kata Aka.
Sejak hari pertama respons hingga 25 Agustus, Tim Kesehatan NTB terus memperluas dan memperkuat langkah penanganan. Upaya tersebut dimulai dari persiapan dan penempatan tenaga kesehatan di pos-pos yang tersedia, koordinasi dengan HEOC Provinsi serta Kabupaten/Kota, hingga penguatan alur rujukan pasien.
Tim juga melakukan rujukan pasien dengan kasus obstetri ke Rumah Sakit Ruteng untuk memperoleh penanganan lanjutan. Di saat bersamaan, pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah diperkuat melalui koordinasi dan integrasi dengan Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga atau UNAIR.
Aka mengatakan, penguatan respons kesehatan akan terus disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Solidaritas kemanusiaan tidak cukup hanya hadir pada hari-hari pertama bencana. Yang lebih penting adalah memastikan respons terus mengikuti kebutuhan masyarakat. Karena itu, kita akan terus melihat perkembangan di lapangan, memperkuat koordinasi, dan memastikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan tetap dapat dijangkau,” pungkasnya.