Tingginya Angka Perceraian di Sumbar Diteliti, Sawahlunto Justru Punya Mekanisme Sosial Kuat

Tingginya Angka Perceraian di Sumbar Diteliti, Sawahlunto Justru Punya Mekanisme Sosial Kuat
Tingginya Angka Perceraian di Sumbar Diteliti, Sawahlunto Justru Punya Mekanisme Sosial Kuat. (Foto: Humas Kemenag Swl)

Sawahlunto-Spektroom: Tingginya angka perceraian di Sumatera Barat mendorong Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumatera Barat turun menelusuri faktor-faktor yang memengaruhinya. Kota Sawahlunto menjadi salah satu daerah yang dikaji karena memiliki angka perceraian relatif rendah dibandingkan sejumlah daerah lain di provinsi tersebut.

Tim Balitbang Sumbar mengunjungi Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto pada Kamis (10/9/2026). Kunjungan dipimpin Kepala Balitbang Sumbar, Febrina Tri Susila Putri, SP., M.Si., bersama jajaran.

Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Sawahlunto, Apgreadisman, S.Ag., M.H., mengatakan penguatan ketahanan keluarga dilakukan secara berkelanjutan melalui sejumlah program pembinaan.

“Upaya pembinaan dilakukan melalui Bimbingan Perkawinan, Bimbingan Remaja Usia Sekolah, dan Bimbingan Keluarga Sakinah,” kata Apgreadisman dalam wawancara dengan tim peneliti.

Menurut dia, program tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat yang ditindaklanjuti Kementerian Agama Sawahlunto melalui berbagai layanan, antara lain Serambi KUA dan kegiatan pembinaan ke Rumah Tahanan.

Layanan itu membuka ruang konsultasi bagi masyarakat, baik secara perseorangan maupun kelompok, terkait persoalan pernikahan dan keluarga. Materi pembinaan meliputi literasi keuangan keluarga, komunikasi antarpasangan, penyelesaian konflik rumah tangga, hingga upaya membangun keluarga harmonis dan sakinah.

Namun, temuan yang menarik perhatian peneliti bukan semata program pemerintah.

Di Sawahlunto, konflik rumah tangga masih berhadapan dengan mekanisme sosial yang relatif kuat. Sebelum perkara perceraian masuk ke Pengadilan Agama, pasangan yang menghadapi masalah umumnya lebih dahulu melibatkan niniak mamak dan keluarga besar untuk meminta nasihat dan mencari penyelesaian.

Konsultasi dengan KUA juga menjadi salah satu jalur yang ditempuh. Dalam sejumlah kasus, konsultasi tersebut lebih dahulu dilakukan oleh pihak istri.

“Pengadilan Agama menjadi pilihan terakhir apabila persoalan tidak dapat diselesaikan melalui keluarga, pembinaan, konsultasi, dan mediasi,” demikian gambaran yang mengemuka dalam penelitian tersebut.

Sawahlunto sebelumnya juga pernah memiliki program Sekolah Istri Teladan Sawahlunto (SILO) yang dijalankan Pemerintah Kota sebagai bagian dari pembinaan keluarga.

Balitbang Sumbar kini menaruh perhatian pada kuatnya peran keluarga besar dan niniak mamak sebagai bagian dari mekanisme sosial masyarakat Sawahlunto.

Pertanyaannya, sejauh mana kekuatan jaringan keluarga, adat, dan ruang konsultasi itu mampu menahan konflik rumah tangga agar tidak langsung berujung di meja hijau?

Jawaban atas pertanyaan itu penting, terutama ketika angka perceraian menjadi persoalan serius di sejumlah daerah di Sumatera Barat. Penelitian Balitbang diharapkan dapat memetakan faktor-faktor yang memperkuat ketahanan keluarga dan menjadi bahan penyusunan kebijakan pencegahan perceraian.

Sawahlunto, dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa penyelesaian konflik rumah tangga tidak selalu bermula dan berakhir di lembaga formal. Di antara keluarga, niniak mamak, KUA, dan ruang mediasi sosial, terdapat mekanisme yang masih bekerja—dan kini mulai menarik perhatian untuk diteliti lebih jauh. (Ris1)

Berita terkait

Penyulutan Obor Tri Prasetya RRI Surakarta Kental Nuansa Budaya Jawa, Kinerja Terus Meningkat

Penyulutan Obor Tri Prasetya RRI Surakarta Kental Nuansa Budaya Jawa, Kinerja Terus Meningkat

Surakarta-Spektroom : Prosesi penyulutan obor Tri Prasetya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Radio Republik Indonesia (RRI) di Auditorium Sarsito Mangunkusumo RRI Surakarta, Jumat (11/9/2026), berlangsung khidmat dengan balutan nuansa budaya Jawa. Alunan gamelan dari tim karawitan RRI Surakarta menggema mengiringi jajaran pimpinan dan manajemen RRI Surakarta membawa

Ciptati Handayani, Julianto