TPID Provinsi Lampung Ikuti Secara Virtual Rakor TPID Dari Command Center Diskominfotik Lampung

TPID Provinsi Lampung Ikuti Secara Virtual Rakor TPID Dari Command Center Diskominfotik Lampung
Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum & Politik Yayan Ruchyansah (tengah) pimpin TPID Lampung Ikuti Rakor TPID. (Foto Spektroom/@Ng).

Bandarlampung - Spektroom: Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung dipimpin Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum & Politik Yanyan Ruchyansah mengikuti secara daring Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2026, dari Ruang Command Center Lantai II Diskominfotik Provinsi Lampung, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, di Bandarlampung, Senin (7/9/2026).

Rakor juga diikuti Anggota Forkominda dan Sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Lampung. Sementara Secara Fisik Rakor TPID berlangsung di Graha Bhakti Praja Kementerian Dalam Negri, Jakarta Pusat dipimpin Menteri Dalam Negri M. Tito Karnavian.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam paparannya menyebutkan Inflasi secara Year on Year (Y o Y) pada minggu pertama bulan September tercatat 3,29 persen. Namun demikian terjadi kenaikan dibanding sebelumnya 2,8 persen.

"Saat ini inflasi kita di angka year on year 3,19 persen. Ini ada sedikit tren kenaikan dibanding yang sebelumnya 2,8 persen. Kemudian dari inflasi bulan ke bulan juga ada tren kenaikan 0,21 persen. Terutama dipicu oleh sektor makanan, minuman & tembakau" ujar Amalia menjelaskan.

Amalia Adininggar Widyasanti juga menjelaskan secara Month to Month (m-t-m) terjadi inflasi 0,57% pada periode Juli - Agustus, 2026.

"Dan kita melihat di situ penyumbang utama adalah makanan & sektor pendidikan, karena memang sudah mulai masuk sekolah. Kemudian perawatan pribadi dan jasa lainnya serta emas & Perhiasan. Sedangkan sektor transportasi terjadi deflasi atau perurunan harga" rinci Amalia.

Adininggar menjelaskan inflasi secara m-t-m, penyumbang utama sektor makanan adalah daging ayam, cabai rawit, ikan segar dan juga beras.

Sementara sebelumnya Menteri Dalam Negri M. Tito Karnavian dalam arahannya menyampaikan, yang perlu di waspadai dan di intervensi, agar harga terutama makanan minuman di wilayah yang spesifik agar diberikan dukungan melalui pasar murah dan Operasi Pasar oleh Bulog.

audio-thumbnail
Rakor TPID Inflasi Tito
0:00
/238.863688

"Kemudian kita juga perlu waspadai potensi produksi bahan pangan yang bisa menurun karena adanya kemarau panjang dan Karhutla" ujar Tito Karnavian mengingatkan.

Sementara untuk Indeks Perkembangan Harga (IPH) mingguan, yang perlu diwaspadai cukup tinggi, yaitu Maluku Utara, 5,28 persen untuk tingkat provinsi. Kemudian untuk tingkat kabupaten, Kapuas 6,2 persen. Kota Ternate 5,75 persen.

Kepada kepala daerah Mendagri minta untuk mencari penyebab kenaikan IPH, sehingga bisa mengambil langkah yang tepat. Sedangkan yang cukup bagus terkendali baik adalah Provinsi Kalimantan Utara 2,1 persen.

Kemudian Kabupaten Morowali 1,22 persen, Kota Palopo, 1,73 persen, terbaik dari 98 kota yang ada.

"Kemudian mulai hari ini kita juga akan membahas, mengenai pertumbuhan ekonomi dan inflasi penting untuk menjaga agar harga barang dan jasa tetap stabil. Jangan sampai terjadi kenaikan yang sangat memberatkan masyarakat, ataupun penurunan yang sangat rendah, yang membuat para produsen, petani, nelayan, pabrik, kesulitan untuk menutup ongkos operasional" ujarnnya lagi.

Pertumbuhan ekonomi ini terus Mendagri, juga menjadi indikator apakah negara atau daerah itu mengalami kemajuan atau tidak. Angka pertumbuhan ekonomi menjadi angka yang sangat penting dan itu dibangun oleh empat komponen yang paling utama. Yang pertama adalah konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat. Kemudian yang kedua adalah belanja pemerintah. Belanja pemerintah pusat maupun daerah.

"Yang di daerah, saya cukup paham, angkanya per daerah. Dan tiap tiga bulan kita melakukan Anef, membacakan berapa realisasi pendapatan sesuai dengan target dan berapa realisasi belanja" pungkas Mendagri.(@Ng).

Berita terkait