Tradisi Barter Mambunibuni di Ujung Fakfak Hilangkan Dominasi Mata Uang

Di pasar tradisional ini uang tidak berlaku, karena budaya barter ditegakkan, sehingga hanya ada saling tukar hasil perkebunan dengan hasil laut.

Tradisi Barter Mambunibuni di Ujung Fakfak Hilangkan Dominasi Mata Uang
Aktivitas pasar barter Mambunibuni Kabupaten Fakfak. (foto: Tony Teniwut)

Fakfak-Spektroom : Ditengah riuhnya kehidupan modern yang selalu mengejar rupiah sebagai alat kekuasaan transaksi perdagangan, lahirlah sebuah kisah dari kampung kecil bernama Mambunibuni di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat.

Kampung yang berjarak kurang lebih 87 kilometer dari kota fakfak, ditempuh 2 hingga 2 setengah jam perjalanan dengan kedaraan bermotor roda dua maupun empat. Warganya kental dengan tradisi Barter (pasar tradisional tempat terjadinya kegiatan tukar-menukar barang secara langsung tanpa menggunakan perantara uang) adalah simbol warisan sejarah lehurnya.

Pasar Barter Mambunibuni pada setiap sabtu pagi, menjadi sarana saling menghidupi serta merawat harmonisnya hubungan kekeluargaan sejak turun temurun, tanpa memandang latar belakang apapun yang membuat rasa penasaran banyak orang untuk berkunjung kesana.

Mama Iba, Sebagai salah satu warga setempat menuturkan, pasar tradisional itu mempertemukan warga gunung sebagai penghasil kebun antara lain sayur, ubi ubian dan buah buahan dengan warga pesisir (nelayan) yang punya hasil tangkapan antara lain ikan, siput, udang, kepeting dan sebagainya.

Menurutnya, di pasar tradisional ini uang tidak berlaku, karena budaya barter ditegakkan, sehingga hanya ada saling tukar hasil perkebunan dengan hasil laut.

"Pasar tradisional ini sudah ada sejak turun temurun dan disini tidak pakai uang, karena saling tukar barang saja," tuturnya.

Ia bersama warga lainnya merasa senang, sebab semakin banyak pengunjung yang datang bahkan mereka juga membawa barang yang dapat ditukarkan disini.

Dandim fakfak Letkol Inf Wahlin Rahman saat mengunjungi pasar barter. (foto: Tony Teniwut)

Sementara itu, Dandim 1803/Fakfak, Letkol Inf Wahlin Rahman, S.Pd memberikan apresiasi mendalam atas upaya masyarakat dan pemerintah daerah yang secara konsisten menjaga serta melestarikan kearifan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kabupaten Fakfak.

“Tradisi pasar barter ini bukan sekadar cara bertukar barang, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat kita: semangat kebersamaan, rasa saling menghargai, persaudaraan yang tulus, serta toleransi yang kuat. Nilai-nilai inilah yang harus terus dijaga, karena menjadi kekuatan yang menyatukan kita,” ujar Dandim.

Dirinya merasa kagum dengan pasar tradisional ini bahkan disebutnya unik, sebab ditengah arus moderenisasi saat ini, masih ada barter yang berlaku didalam tradisi masyarakat.

Di balik kesederhanaannya, pasar yang hanya beroperasi setengah hari ini menyimpan sistem sosial yang kokoh. Nilai sebuah barang tidak diukur dengan nominal uang, melainkan berdasarkan asas kecukupan dan ketulusan untuk saling berbagi makanan demi menyambung hidup selama seminggu kedepan, bahkan untuk hari hari berikutnya.

Berita terkait

Optimalisasi Pelayanan Kesehatan, BPK RI Gelar Exit Meeting Pemeriksaan di Kabupaten Bengkalis

Optimalisasi Pelayanan Kesehatan, BPK RI Gelar Exit Meeting Pemeriksaan di Kabupaten Bengkalis

Bengkalis-Spektroom : Dalam Mewujudkan Tata Kelola Rumah Sakit yang Efektif dan Mendukung Optimalisasi Pelayanan Kesehatan Tahun 2025–Semester I Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten bersama BPK RI taja Exit Meeting Pemeriksaan Pendahuluan Kepatuhan atas Pengelolaan Dana Bidang Pendidikan Tahun 2025 dan 2026 (Semester I) serta Pemeriksaan Pendahuluan Kinerja atas Upaya Rumah Sakit

Salman Nurmin, Rafles