Trans Jateng Surakarta Salah Satu Simpul Utama Transportasi Aglomerasi
Surakarta - Spektroom: Pengembangan layanan Trans Jateng terus diarahkan untuk memperkuat transportasi publik yang terjangkau, aman dan terintegrasi antarkawasan. Surakarta menjadi salah satu wilayah penting dalam pengembangan jaringan, dengan 2 koridor yang telah beroperasi, yakni rute Surakarta–Sragen dan Surakarta–Wonogiri.
Koridor Surakarta - Sragen memiliki panjang 70 kilometer pulang-pergi dengan 14 armada dan waktu tunggu atau headway sekitar 15 - 20 menit. Sementara koridor Surakarta - Wonogiri sepanjang 81 kilometer pulang-pergi dilayani 15 armada dengan headway 15 - 20 menit.
Pakar tranposrtasi Unika Soegijapranata Semarang sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno mengatakan pengembangan Trans Jateng penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus memperkuat konektivitas kawasan aglomerasi.
“Surakarta memiliki posisi strategis karena menjadi pusat kegiatan ekonomi dan mobilitas masyarakat dari wilayah sekitarnya. Penguatan layanan menuju dan dari Surakarta diharapkan dapat mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum,” ungkap Djoko dalam keterangannya kepada Spektroom, Kamis (20/8/2026).
Data Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah (2026), saat ini operasional Trans Jateng didukung 115 bus dan 568 petugas. Jaringannya dilengkapi 352 halte dan 191 titik pemberhentian bus serta 130 perangkat e-ticketing. Layanan beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 20.50 WIB dengan total perjalanan sekitar 650 kilometer dan 768 trip setiap hari.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Trans Jateng telah melayani 5.881.767 penumpang, dengan rata-rata 27.668 penumpang per hari. Tingkat keterisian armada atau load factor juga tercatat tinggi, mencapai 91,19 persen.
“Dari sisi tarif, layanan ini relatif terjangkau. Penumpang umum dikenakan tarif Rp5.000, sedangkan pelajar, veteran, buruh, lansia dan penyandang disabilitas hanya Rp1.000. Jadi ini menjadi salah satu faktor penting untuk menarik masyarakat menggunakan transportasi umum,” jelasnya.
Pengembangan Trans Jateng juga direncanakan terus diperluas. Hingga 2045, jaringan diproyeksikan mencapai 24 rute dengan potensi melayani sekitar 209 ribu penumpang per hari. Salah satu koridor dengan permintaan tinggi adalah Surakarta–Wonogiri.
Pengembangan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama integrasi dengan angkutan pengumpan, keterbatasan jalur khusus, kepastian waktu kedatangan bus, kenyamanan halte dan armada, serta kebutuhan pendanaan berkelanjutan. (Ciptati Handayani)