Transaksi Tembus Rp2 Triliun, Misi Dagang Jatim–Kalteng Gaspol Perkuat Ekonomi Daerah
Palangka Raya-Spektroom: Kolaborasi dagang antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Jawa Timur langsung tancap gas. Dalam hitungan jam, nilai transaksi misi dagang dan investasi sudah menembus angka lebih dari Rp2 triliun, menandai kuatnya konektivitas ekonomi antarwilayah.
Kegiatan yang digelar di Palangka Raya ini bukan sekadar seremoni. Pemerintah daerah kedua provinsi mendorong langkah konkret untuk memperluas pasar, memperkuat distribusi komoditas, sekaligus membuka peluang investasi lintas sektor.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kalteng, Linae Victoria Aden, menegaskan misi dagang ini dirancang untuk menciptakan arus perdagangan dua arah yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan hingga pukul 14.30 WIB nilai transaksi telah mencapai sekitar Rp2,05 triliun. Angka tersebut berasal dari berbagai komoditas strategis, mulai dari telur ayam, daging unggas, susu, hingga kopi robusta dari Jawa Timur.
Di sisi lain, Kalimantan Tengah menawarkan potensi unggulan seperti udang vaname, kayu olahan, rotan, hingga peluang investasi di sektor gula merah dan budidaya ikan patin. Pertukaran ini menunjukkan saling melengkapi, bukan saling bersaing.
Ketua DPD IWAPI Kalteng, Hj. Asti Rizky Badjuri, melihat tren ini sebagai sinyal kuat bahwa sektor pertanian dan peternakan menjadi tulang punggung kerja sama yang terus tumbuh.
“Ini bukan sekadar transaksi, tapi fondasi penguatan ekonomi bersama. Permintaan yang terus naik, terutama pada komoditas peternakan, menunjukkan potensi besar yang harus terus dijaga dan dikembangkan,” tegas Asti.

Dari sisi sosial kemasyarakatan, Ketua Paguyuban Brawijaya Jawa Timur Provinsi Kalimantan Tengah, Farhan Slamet yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan dukungannya terhadap misi dagang ini.
Menurutnya, warga asal Jawa Timur yang kini menetap di Kalimantan Tengah memiliki peran strategis dalam menjembatani kerja sama kedua daerah.
“Kami yang berasal dari Jawa Timur dan kini hidup serta berkarya di Kalimantan Tengah tentu memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyukseskan misi dagang ini. Peran itu bisa diwujudkan dengan menjadi fasilitator promosi produk daerah asal, sekaligus menjembatani informasi potensi Kalimantan Tengah ke Jawa Timur. Bahkan lebih jauh, kami juga bisa terlibat langsung sebagai pelaku usaha dalam ekosistem misi dagang ini,” ujarnya.
Dengan capaian transaksi yang langsung menembus angka fantastis, misi dagang Jatim–Kalteng membuktikan bahwa sinergi antar daerah bisa bergerak cepat dan berdampak nyata.
Target berikutnya jelas: menjaga momentum, memperluas pasar, dan memastikan kerja sama ini tidak berhenti di angka, tapi berlanjut jadi kekuatan ekonomi jangka panjang. (Polin-Edy)