UMJ Luncurkan I-CHIP, Dorong Kebijakan Kesehatan Berbasis Riset
Jakarta — Spektroom : Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) meluncurkan Institute for Community Health and Innovation Policy (I-CHIP) melalui Seminar Nasional bertema “Kedaulatan Kesehatan: Akselerasi Transdisiplin Menuju Kebijakan yang Berbasis dan Berkeadilan” di Gedung Cendekia UMJ, Selasa (15/9/2026).
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat menjadi salah satu kunci memperpanjang usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Hal itu sejalan dengan arahan Presiden agar usia harapan hidup dapat mencapai lebih dari 72 hingga 74 tahun.
Menurut Budi, peningkatan kualitas kesehatan perlu dimulai dengan membangun kebiasaan masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Langkah tersebut penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
“Pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi berbagai penyakit sejak dini,” ujarnya.
Ia menyebut pemerintah telah menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menjangkau sekitar 280 juta orang. Dari pemeriksaan tersebut masih ditemukan berbagai persoalan kesehatan, di antaranya hipertensi, diabetes, dan kolesterol.
Budi berharap UMJ dapat berperan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pendidikan dan menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI sekaligus BPH UMJ, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya kesehatan fisik dan mental dalam membangun generasi yang kuat. Ia berharap I-CHIP UMJ mampu mendorong budaya hidup sehat yang didukung lingkungan fisik, sosial, dan keluarga.
“Yang lebih penting lagi tentu dalam membangun masyarakat yang sehat dan generasi yang kuat,” tuturnya.
Rektor UMJ Ma’mun Murod Al-Barbasy mengatakan I-CHIP diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi bidang kesehatan dan kebijakan publik, termasuk dari perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Menurutnya, keberlangsungan pusat studi membutuhkan kreativitas, kolaborasi, serta jejaring dengan berbagai pihak.
“Kalau tidak banyak silaturahmi, percayalah maka pusat studi hanya tinggal pusat studi,” katanya.
Kepala BRIN Arif Satria menilai pendekatan transdisiplin penting untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Kolaborasi akademisi, peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu menghasilkan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
Direktur I-CHIP UMJ Muh. Arief Rosyid mengatakan lembaganya akan menjadi ruang interaksi berbagai pemangku kepentingan kesehatan. I-CHIP, kata dia, memberi perhatian pada kesenjangan antara kebijakan dan riset, ketepatan sasaran anggaran, serta penguatan peran perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi “menara gading”.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai pembiayaan dan keamanan kesehatan serta dampak perubahan iklim terhadap pangan, gizi, dan kesehatan. Agenda Grand Launching I-CHIP UMJ tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Pusbangsisdik UMJ serta didukung Bank Syariah Indonesia.