UMKM Belajar Gastrodiplomasi, Kue Tradisional Nusantara Disiapkan Menembus Pasar Dunia
Banten - Spektroom : Di sebuah lingkungan warga di RT 4/RW 6, Ciledug, Tangerang, Banten, aroma kue-kue tradisional memenuhi ruangan pelatihan. Lemper, onde-onde, hingga kue cucur bukan sekadar hidangan yang akrab di lidah masyarakat. Di tangan para pelaku UMKM, makanan khas Nusantara itu kini dipersiapkan untuk membawa cerita tentang Indonesia kepada dunia.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim dosen Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) memperkenalkan konsep gastrodiplomasi kepada para pelaku UMKM kuliner. Bukan hanya mengajarkan cara memperkuat merek produk, pelatihan ini juga membuka wawasan bahwa setiap kue tradisional menyimpan nilai budaya, sejarah, dan filosofi yang dapat menjadi sarana diplomasi budaya.
Ketua Tim PKM USNI, Alessandro Kurniawan Ulung, M.A., mengatakan pelaku UMKM memiliki peran strategis sebagai ujung tombak dalam memperkenalkan identitas bangsa melalui kuliner.
"Kami berharap pelatihan gastrodiplomasi ini tidak hanya membuat masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia semakin mengenal nilai-nilai budaya dan tradisi yang terkandung dalam kue-kue tradisional Indonesia. Misi kami adalah agar UMKM tidak hanya berperan sebagai produsen kuliner, melainkan juga menjadi duta yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui makanan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7/2026).
Program yang berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026 tersebut merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif Nasional Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun 2026. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dosen dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Manajemen USNI.

Selama enam sesi pelatihan, peserta diajak memahami gastrodiplomasi sebagai bagian dari diplomasi budaya, strategi komunikasi pemasaran, hingga pemanfaatan bisnis digital untuk mengembangkan usaha.
Menurut, Alessandro, diplomasi tidak selalu dilakukan melalui forum resmi atau meja perundingan. Makanan juga mampu menjadi bahasa universal yang membangun kedekatan antarmasyarakat sekaligus memperkuat citra positif sebuah negara.
Alessandro mencontohkan, lemper sebagai salah satu kuliner yang sarat makna. Daun pisang yang membungkusnya melambangkan perlindungan, keharmonisan, dan kepedulian terhadap lingkungan, sementara beras ketan yang lengket mencerminkan persatuan, solidaritas, dan eratnya hubungan antarmanusia.
Tak berhenti pada pengenalan nilai budaya, peserta juga dibekali kemampuan bercerita atau storytelling. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Risqi Inayah Dwijayanti, M.I.Kom., menjelaskan bahwa cerita di balik sebuah produk mampu menciptakan kedekatan emosional dengan konsumen.
Para peserta juga mendapat pelatihan memanfaatkan aplikasi Canva untuk membuat materi promosi digital yang menarik, mulai dari memilih desain, menampilkan foto produk, hingga menyusun identitas merek yang lebih kuat.
Bagi Ida Widanengsih, pemilik UMKM Idalicious, pelatihan tersebut menghadirkan perspektif baru.
Widanengsih menyadari bahwa setiap kue tradisional memiliki kisah yang layak diperkenalkan kepada masyarakat dunia. Pelatihan gastrodiplomasi ini membuka wawasan tentang besarnya potensi kue-kue tradisional Indonesia.
"Kami jadi semakin yakin bahwa kue-kue Indonesia mampu bersaing dan tidak kalah populer dibandingkan kue-kue dari mancanegara," tuturnya.
Melalui sentuhan ilmu, kreativitas, dan kebanggaan terhadap warisan kuliner Nusantara, kue-kue tradisional kini tidak hanya menjadi sajian di meja makan. Tapi juga menjelma sebagai duta budaya yang membawa cerita Indonesia melintasi batas negara.