Wisata Edukatif Murah Meriah, Melihat Kebo Bule Keraton Surakarta

Wisata Edukatif Murah Meriah, Melihat Kebo Bule Keraton Surakarta
Wisatawan melihat Kebo Bule Keraton Surakarta di alun-alun selatan Kota Solo. (Foto: Ciptati Handayani)

Spektroom- Celoteh anak-anak dengan wajah gembira terlihat ketika mereka mengulurkan sayuran kangkung dari tangan untuk makan Kebo Bule di Alun-alun Selatan Keraton Surakarta.

Ada yang senyum-senyum, tertawa kecil dan ada pula yang teriak-teriak kecil kegirangan, saat satu atau dua helai kangkung itu disodorkan ke mulut Kebo yang langsung disaut dan dimakan hewan piaraan Keraton tersebut. Rupanya anak-anak senang, ketika berhasil memberi makan kerbau.

Tak ada rasa takut, mereka mendekati kerbau didepan pagar kandang. Bahkan ada yang merasa geli tapi senang, ketika tangannya sedikit sempat menyentuh mulut dan lidah kerbau. Namun ada pula anak yang agak malu-malu atau takut mendekati kerbau, karena mungkin merasa asing dan belum terbiasa.

Suasana gembira anak-anak yang didampingi orang tua atau keluarganya, saat melihat Kebo Bule di alun-alun Selatan Keraton Surakarta, hampir terlihat setiap hari, saat pagi atau sore. Sedang pada hari-hari libur akhir pekan atau musim liburan, suasana semakin ramai.

Salah satu pengunjung, Novianti warga Tangerang Jawa Barat, sengaja mampir ke kandang kerbau di alun-alun Selatan Kota Solo itu. Ia bersama keluarga, ingin melihat langsung kerbau yang selama ini dianggap keramat.

“Saya dari Tangerang, lagi liburan di Solo. Iya penasaran sih sama kebo bulenya. Anak-anak juga biar tau dan bisa ngasih makan,” ucap Novianti yang mendampingi putra kecilnya dan sibuk mengabadikan gambarnya melalui ponselnya.

Ada petak-petak besar kandang kerbau di Lokasi itu, sekitar 5 atau atau 6, masing-masing berisi beberapa ekor kerbau. Sebagian kerbau tidak keluar atau mendekati pagar, ada pula yang berkubang, karena di kandang juga disediakan kubangan air.

Sedangkan kerbau yang selalu mendekati pagar, seolah menyapa pengunjung dan selalu sigap melahap setiap uluran kangkung yang diberikan pengunjung. Kabarnya semua ada sekitar 15 ekor kerbau.

Sedangkan di depan deratan kandang, ada dua penjual kangkung, yang selau laris manis saat pengunjung ramai. Satu ikat kecil kangkung dijual Rp 3.000,-.

“Iya semua kebo bule ini keturunan kebo Kyai Slamet punyanya Keraton. Semuanya ini ada 15 ekor tersebar di semua kandang,” kata seorang penjual kankung depan kandang Kebo Bule.

Sementara itu pengunjung lainnya, Hadi warga Solo, sengaja mengajak cucu laki-laki kesayangannya ke alun-alun selatan melihat kerbau. Ketika waktu luang, selain sekedar jalan-jalan pagi atau sore hari, juga untuk hiburan melihat kebo bule, agar cucunya yang masih berusia 4 tahun, lebih mengenal lingkungan, tidak takut dan berani untuk menyayangi hewan.

“Iya, cucu saya senang ngasih makan kerbau. Disini juga ada bendi, jadi kadang kami naik bendi yang ditarik kuda, keliling alun-alun,” ucap Hadi.

Tidak hanya anak-anak, kalangan orang dewasa pun, terutama warga luar kota yang sedang liburan di Solo, juga terlihat antusia melihat kebo bule dan tak lupa memberi kangkung untuk makan kerbau. Mereka sangat menikmati suasana sambil foto-foto selfie dan merekam dalam video.

Begitulah, sebagaimana diketahui sejak dulu, bahwa di kawasan alun-alun Keraton Surakarta terdapat kendang kerbau, hewan piaraan Keraton yang dipercaya dikeramatkan. Kerbau itu turun temurun masih terpelihara dengan baik dan dikenal dengan sebutan atau nama Kebo Kyai Slamet. Disebut pula kebo bule, karena merupakan kerbau albino alias bule.

Kerbau ini sangat legend, karena menjadi ikon budaya penting dalam upacara adat keraton Kirab Malam 1 Suro Kasunanan Surakarta. (Ciptati Handayani)

Berita terkait

Camat Bungku Kabupaten Morowali  Meraih Gelar  Doktor di Program Pascasarjana UMI Makassar

Camat Bungku Kabupaten Morowali Meraih Gelar Doktor di Program Pascasarjana UMI Makassar

Spektroom - Kinerja aparatur sipil negara merupakan faktor kunci dalam keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan kualitas pelayanan.publik.Ditengah tuntutan reformasi birokrasi,globalisasi dan digitalisasi layanan Aparatur sipil negara tidak hanya di tuntut bekerja secara administratif,namun juga harus mampu menunjuķkan kinerja yang produktif,adaptif dan berorientasi. Camat Bungku Kabupaten Morowali

Yahya Patta, Nurana Diah Dhayanti