WWF Papua: Sampah Makanan Berkaitan Persoalan Lingkungan & Perubahan Iklim

WWF Papua: Sampah Makanan Berkaitan Persoalan Lingkungan & Perubahan Iklim
Kegiatan T.O.T dampak sampah lingkungan di Jayapura. (foto: Tony Teniwut)

Jayapura-Spektroom : Sampah makanan menjadi salah satu persoalan lingkungan yang mendapat perhatian World Wide Fund for Nature (WWF)-Indonesia Program Papua bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura.

Persoalan klasik itu diupayakan penanganannya mulai dari lingkungan sekolah melalui keterlibatan Sekolah Adiwiyata yakni sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup melalui penerapan perilaku ramah lingkungan secara sadar, sukarela, dan berkelanjutan di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.

Kolaborasi tersebut diperkuat melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) yang berlangsung di Holey Narey Learning Centre, Kantor WWF-Indonesia Program Papua, Sentani, Kabupaten Jayapura pada, Jumat,11 September 2026.

WWF Papua, Adelia Septiani Restanti Tania, mengatakan sampah makanan bukan sekadar persoalan sisa konsumsi, akan tetapi juga berkaitan dengan persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

“Ketika makanan terbuang dan membusuk, proses tersebut dapat menghasilkan metana, gas rumah kaca yang diketahui dapat memanaskan bumi sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO₂),” ujar Adelia.

Menurutnya, makanan yang terbuang menunjukkan adanya pemborosan pangan sekaligus memberikan dampak terhadap lingkungan. Sehingga perubahan perilaku perlu dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk melalui edukasi di lingkungan sekolah.

Dengan demikian, Para peserta diharapkan tidak hanya memahami persoalan sampah makanan, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing.

Sementara itu, salah satu guru sekaligus tim Sekolah Adiwiyata SMAN 1 Sentani, Iis Irmawati, mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak.

“Sekolah punya peran yang cukup besar untuk membentuk kebiasaan anak, karena apa yang mereka pelajari di sekolah sering kali dibawa juga ke rumah. Jadi, ketika kita mengajarkan mereka untuk mengambil makanan secukupnya dan tidak menyisakan makanan,” tegas Iis.

Selama kegiatan, para peserta dibekali materi mencakup besarnya persoalan sampah makanan, dampaknya terhadap lingkungan, keterkaitannya dengan emisi gas rumah kaca serta perubahan iklim.

Berita terkait

BRIN Kembangkan Eco Hex Brick Berbahan Limbah Plastik untuk Mitigasi Abrasi Pesisir

BRIN Kembangkan Eco Hex Brick Berbahan Limbah Plastik untuk Mitigasi Abrasi Pesisir

Tangerang Selatan - Spektroom : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Eco Hex Brick, material konstruksi berbahan limbah plastik yang dirancang sebagai Alat Penahan Ombak (APO) semipermeable untuk membantu mengurangi abrasi sekaligus mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir. Inovasi tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang memungkinkan terbentuknya sedimentasi di belakang struktur sehingga dapat

Afrizal Aziz