Yayan Ruchyansah, Pimpin Rakor TPID Lampung, Andil Inflasi Momen Idhul Adha 1447 H Dipicu Oleh Komponen Harga Bergejolak
Bandarlampung - Spektroom: Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung dipimpin Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Pemerintahan, Hukum & Politik Yayan Ruchyansah, bersama anggota Forkopimda, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung Anang Risgiyanto dan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Saipul, Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik (Diskominfotik) Lampung Ganjar Jationo serta sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, mengikuti virtual meeting Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah, dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik, di Bandarlampung Senin (25/5/2026).

Rakor TPID itu sendiri berlangsung di Graha Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri Jakarta Pusat, dipimpin Sekretaris Jendral Kemendagri Tomsi Tohir.
Dalam paparannya Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan sejak tahun 2022 hingga 2025, tingkat inflasi pada momen Hari Raya Idul Adha biasanya lebih rendah dibandingkan dengan inflasi yang terjadi di momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun di tahun 2022, tingkat inflasi Hari Raya Idul Adha lebih tinggi dibandingkan inflasi pada Hari Raya Idul Fitri.
Sedangkan andil inflasi momen Hari Raya Idul Adha, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kecuali 2024, menjadi kelompok yang seringkali menyumbang inflasi tertinggi pada momen Hari Raya Idul Adha sejak 2022 hingga 2025.
"Jika kita lihat menurut komponen, komponen harga bergejolak, terlihat bahwa komponen harga bergejolak ini menyumbang andil inflasi terbesar pada momen Hari Raya Idul Adha di tahun 2022 dan 2025. Sedangkan deflasi terbesar pada momen Hari Raya Idul Adha terjadi di 2024" ujar Puji menjelaskan.
Puji Ismartini menjelaskan, untuk andil inflasi menurut komoditas, secara umum kalau dilihat berdasarkan komoditas, maka penyumbang andil inflasi pada momen Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah ini cenderung didominasi oleh komoditas yang berasal dari komponen harga bergejolak.
"Komoditas yang seringkali mendorong terjadinya inflasi di hari raya Idul Adha 1447 Hijriyah adalah cabai rawit dan cabai merah" terang dia lagi.
Pada bagian lain paparannya Puji Ismartini juga menerangkan seputar Indeks Perkembangan Harga (IPH) sampai dengan minggu ketiga Mei 2026.
"Sampai dengan minggu ketiga, Mei 2026, ada 17 provinsi yang mengalami kenaikan IPH, sementara 21 provinsi lainnya mengalami penurunan, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Provinsi dengan kenaikan IPH tertinggi adalah Bengkulu disusul DKI Jakarta. DKI Jakarta ini hanya untuk Kabupaten Kepulauan Seribu, karena lima kota Madya lainnya merupakan kota inflasi" rincinya.
Berikutnya komoditas penyumbang andil kenaikan IPH tertinggi di 17 provinsi yang mengalami kenaikan IPH, cabe merah, rawit dan bawang merah. Sedangkan provinsi dengan penurunan IPH terendah, tiga teratas ada di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
"Sementara 10 kabupaten kota dengan penurunan IPH terdalam, adalah Kota Tomohon, Kabupaten Parigi Mutong, Kabupaten Paniai, Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Mongondow, Minahasa Tenggara, Kota Bitung, Kabupaten Kepulauan Sangihe, kemudian Kabupaten Poso, dan Kabupaten Minahasa" tutup Puji Ismartini.
Diforum yang sama Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI Muhammad Agung Sunusi menjelaskan, menindaklanjuti adanya kenaikan harga beberapa komoditas khususnya bawang merah, meskipun di sentra bawah merah telah mengalami penurunan harga.
"Kenaikan harga tersebut dipicu akibat cuaca ekstrim, khususnya di Solok dan beberapa Kabupaten lainnya, meskipun daerah sentra namun mengalami kekeringan" tandasnya.
Disamping itu Kementan juga telah memetakan daerah mana saja yang sangat memerlukan pasokan bawah merah baik di Sulawesi, Sumatera maupun di Pulau Jawa dan Bali.
"Kami sudah petakan dan Lakukan kepastian kepada teman-teman champion untuk melakukan pasokan di akhir Mei ini, diantaranya Enrekang, Nganjuk, Solok dan sebagian Brebes serta Kendal dan Bangli" katanya lagi
Pasokan bawang merah juga akan dilakukan di Palembang, Jambi, dan wilayah defisit Enrekang, Kaltim, Balikpapan, Samarinda, dan Banjarmasin, dengan target sampai dengan 31 Mei paling tidak 8,5 ton sekali pasok.
"Untuk mengamankan Hari Raya Idhul Adha ini, diwilayah Sumatera lainnya, akan melakukan pengiriman di wilayah Pesisir Selatan, Muara Bungo, Mulian Natai, dan Padang Sidempuan. Karena ada beberapa juga lokasi-lokasi di Sumatera terjadi penurunan." pungkasnya.(@Ng).