10 Ribu Bibit Kaliandra, PT Semen Padang Bantu Pulihkan Ekologi Pascabencana

10 Ribu Bibit Kaliandra, PT Semen Padang Bantu Pulihkan Ekologi Pascabencana
Peluncuran Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumatera Barat yang digagas Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera (Foto: Humas Semen Padang)

Spektroom - Upaya pemulihan ekologi pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat, terus dilakukan. Salah satu langkahnya melalui peluncuran Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumatera Barat yang digagas Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, didukung Pemerintah Provinsi Sumbar dan PT Semen Padang melalui bantuan 10 ribu bibit kaliandra.

Peluncuran gerakan penghijauan dipusatkan di kawasan Pemandian Jembatan Sitapuang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, ditandai dengan penyerahan bibit kaliandra oleh Direktur Keuangan PT Semen Padang Iskandar Z Lubis kepada Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera Febriyandi Putra, Kamis (22/01/2026).

Iskandar Z Lubis menyampaikan dukungannya, dan menilai inisiatif Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera patut diapresiasi karena mampu membangun kolaborasi lintas unsur dalam upaya penghijauan.

“Penghijauan adalah tanggung jawab bersama untuk generasi berikutnya. Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat berkelanjutan,” kata Iskandar.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengatakan, pelaksanaan Gerakan Sejuta Pohon sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan pascabencana. Dukungan PT Semen Padang melalui bantuan 10 ribu bibit kaliandra memperkuat gerakan ini, mengingat kaliandra memiliki banyak manfaat dan berpotensi sebagai tanaman energi.

Mahyeldi berharap gerakan tersebut berlanjut dan menjadi gerakan masif di seluruh wilayah Sumbar. Ia juga mengusulkan kebijakan penghijauan berbasis keagamaan, seperti wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin.

“Ini akan kami koordinasikan dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Kita harapkan bisa terwujud,” kata Mahyeldi.

Menurut Pj Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa, penghijauan terutama di hulu sungai dan kawasan hutan menjadi salah satu kunci mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

“Bencana hidrometeorologi erat kaitannya dengan air dan kondisi lingkungan. Penghijauan, khususnya di hulu sungai dan kawasan hutan, menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana,” ujar Raju.

Pascabencana banjir dan longsor, Kota Padang juga menghadapi dampak lanjutan berupa kekeringan. Perubahan aliran sungai menyebabkan jaringan irigasi terputus, sungai-sungai kecil rusak, dan pasokan air bersih terganggu.

“Data kami mencatat ada sekitar 121 titik di Kota Padang yang mengalami kekeringan,” kata Raju.

Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera Febriyandi Putra menjelaskan, gerakan ini dilatarbelakangi bencana ekologis yang terjadi, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, Sumbar membutuhkan langkah pemulihan yang kolaboratif dan berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek.

“Kita butuh solusi atas bencana ekologis yang terjadi di Sumbar. Kami mendorong keterlibatan Pemerintah hingga masyarakat untuk bergerak bersama. Target awal kami satu juta pohon, dan jumlahnya bisa bertambah sesuai partisipasi publik,” ujarnya..

Ia mengatakan, pohon yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hutan, tetapi juga tanaman produktif yang bernilai ekonomi. Jenis yang diprioritaskan antara lain durian, petai, dan jengkol, serta kaliandra yang disuplai PT Semen Padang.

Gerakan ini melibatkan sekitar 20 pihak kolaborator. Di tingkat provinsi, target penanaman mencapai satu juta pohon. Khusus Kota Padang, targetnya 10 ribu pohon yang dibagi dalam lima segmen wilayah. Selain Balai Gadang, lokasi penanaman mencakup Batu Busuk dan Batang Gabung.

“Gerakan ini diawali dari Kota Padang dengan penanaman bertahap dan estafet. Penanaman dilakukan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Minturun hingga kawasan pesisir Pantai Padang,” ujarnya.

Menurutnya, Gerakan Sejuta Pohon bukan agenda seremonial semata. Gerakan ini diharapkan mendorong lahirnya kebijakan publik agar aktivitas menanam pohon menjadi bagian dari budaya dan kewajiban sosial.

“Diharapkan gerakan ini tidak berhenti pada euforia sesaat. Menanam pohon harus menjadi budaya. Sumbar memiliki potensi bencana yang besar dari pesisir hingga pegunungan. Tidak ada wilayah yang benar-benar aman jika lingkungan tidak dijaga,” tutupnya.

Berita terkait