656 Daerah Irigasi di Sumatera Barat Mengalami Kerusakan Pascabencana
Spektroom - Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat, akibat bencana hidrometeorologi pada penghujung November 2025 terdapat 656 daerah irigasi di wilayah ini yang rusak.
Sekretaris Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Provinsi Sumbar, Rahmad Yuhendra mengatakan, kerusakan yang terjadi mulai dari ringan hingga berat. Bahkan sebagian irigasi terputus dan tertimbun material banjir bandang. Dengan kondisi tersebut, 56 ribu hektare sawah terancam kekeringan.
"Perbaikan darurat pada sebagian daerah irigasi yang rusak berangsur dilakukan menggunakan alat berat," ucapnya, Kamis (22/1/2026).
Rahmad Yuhendra merinci, dari 656 daerah irigasi yang rusak, 23 di antaranya merupakan kewenangan provinsi dengan luas 12 ribu hektare. Terkait kerusakan dimaksud, diusulkan kebutuhan anggaran rehabilitasi sebesar Rp241 miliar.
Kemudian, daerah irigasi kewenangan kabupaten dan kota yang mengalami kerusakan sebanyak 633 dengan luas 44 ribu 761 hektare. Lokasinya tersebar di Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Limapuluh Kota, Tanah Datar, Padangpariaman, Sijunjung, Solok, Pesisir Selatan, Kota Padang dan Padang Panjang. Kebutuhan rehabilitasi diperkirakan mencapai Rp897 miliar.
Sementara, Ketua Komisi IV DPRD Sumbar, Doni Harsiva Yandra mengatakan, pembiayaan pemulihan daerah irigasi membutuhkan anggaran besar. Pemerintah daerah akan berupaya untuk mengalokasikan anggaran sesuai kemampuan, yang juga perlu bantuan besar dari pemerintah pusat.
"Informasinya dana transfer ke daerah (TKD) untuk Sumbar tidak jadi dipangkas. Artinya dikembalikan lagi. Anggaran ini sebagian bisa digunakan untuk perbaikan irigasi. Tapi kebutuhan anggaran sangat besar, sehingga masih perlu dukungan pusat," tuturnya.
Doni Harsiva menambahkan, pemulihan daerah irigasi harus menjadi prioritas. Sebab kerusakan irigasi bisa berimbas panjang terhadap sektor pertanian, pemenuhan kebutuhan pangan, hingga inflasi.