72 Persen UMKM Pontianak Digerakkan Perempuan, Ribuan Pelaku Usaha Masih Berjuang Naik Kelas
Pontianak-Spektroom : Perempuan menjadi motor utama penggerak ekonomi kerakyatan di Kota Pontianak.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 72 persen pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kota ini merupakan perempuan yang mengelola usaha rumahan, kuliner, hingga perdagangan di sentra pasar tradisional.
Dominasi tersebut tidak hanya menggambarkan tingginya partisipasi perempuan dalam sektor ekonomi, tetapi juga menjadi indikator penting ketahanan ekonomi keluarga di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono Rabu (22/07/2026) menyatakan kontribusi perempuan telah menjadi fondasi pertumbuhan UMKM lokal.
Karena itu, pemerintah daerah bersama berbagai organisasi perempuan, termasuk Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), terus mendorong perluasan akses pembiayaan dan penguatan kapasitas usaha.ujarnya
Di tengah geliat tersebut, tantangan besar masih membayangi.
Dari sekitar 41 ribu unit UMKM yang tersebar di Pontianak, baru sekitar 22 ribu pelaku usaha yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
"Artinya, hampir separuh UMKM masih berada di luar sistem formal yang menjadi syarat utama untuk mengakses pembiayaan, kemitraan bisnis, hingga program pemberdayaan pemerintah," kata Edi Rusdi Kamtono.
Kondisi itu mendorong berbagai pihak turun tangan. Bank Kalbar, misalnya, aktif memberikan pendampingan dan fasilitasi pengurusan NIB secara gratis agar pelaku usaha dapat memperoleh legalitas dengan lebih mudah dan cepat.
Tak hanya aspek perizinan, perlindungan terhadap karya dan merek usaha juga mulai mendapat perhatian serius.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Barat membuka layanan konsultasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di berbagai pameran dan kegiatan UMKM guna meningkatkan kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya perlindungan hukum atas produk yang mereka hasilkan.
Sementara itu, upaya mendorong UMKM naik kelas mulai menunjukkan hasil nyata.
Sebanyak 19 produk UMKM Pontianak berhasil menembus jaringan ritel modern Indomaret setelah melalui proses kurasi dan pendampingan.
Keberhasilan tersebut menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan sektor ritel modern bahkan diproyeksikan mampu menciptakan omzet hingga Rp9 miliar.
Angka ini menjadi sinyal bahwa produk lokal memiliki daya saing kuat jika didukung kualitas, legalitas, dan strategi pemasaran yang tepat.
Di era transformasi digital, tantangan berikutnya adalah meningkatkan literasi keuangan pelaku UMKM.
Pemerintah Kota Pontianak secara rutin menggelar pelatihan pengelolaan keuangan digital untuk membantu pelaku usaha memisahkan modal usaha dan keuangan pribadi—persoalan klasik yang masih menjadi penyebab banyak usaha sulit berkembang. Pungkasnya.
Dengan dominasi perempuan yang kuat, dukungan legalitas, perlindungan merek, serta akses pasar modern yang semakin terbuka, UMKM Pontianak kini berada di persimpangan penting: bertahan sebagai usaha mikro tradisional atau melompat menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu bersaing di tingkat nasional.