81 Tahun Radio Republik Indonesia: Kiprah RRI Ambon dan Sosok George de Fretes

81 Tahun Radio Republik Indonesia: Kiprah RRI Ambon dan Sosok George de Fretes
Penulis Alwi Sagaf Alhadar dan RRI Ambon (Foto:Spektroom/Pelis)

Oleh: Alwi Sagaf Alhadar
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Maluku Utara

Ambon-Spektroom : Jauh sebelum Indonesia merdeka, sebenarnya telah mengudara sebuah lembaga penyiaran radio pertama yang didirikan Sri Mangkunegoro VII pada 1 April 1933 di Kota Solo. Lembaga penyiaran itu bernama Solosche Radio Vereeniging (SRV).
Radio ini memiliki peran besar untuk terus menggelorakan pesan dan semangat perjuangan membebaskan bangsa dari cengkraman kolonial.
Cikal bakal dari siaran menggunakan frekuensi ini kemudian melahirkan Radio Republik Indonesia (RRI) setelah sebulan pasca proklamasi, tepatnya pada 11 September 1945.
Setelah resmi berdiri, berbagai tantangan kemudian menghadang gerak langkah media yang efektif menyampaikan pesan -kala itu- tanpa kenal ruang dan waktu. Borderless.
RRI memainkan peran sangat krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama saat agresi militer Belanda I dan II.
Dari balik mikrofon serta infrastruktur siaran yang masih sederhana, para angkasawan RRI terus menyebarkan kabar proklamasi serta menyuarakan eksistensi Republik Indonesia ke seluruh dunia.
Berselang lima tahun pasca bersiaran RRI di Jakarta sebagai ibu kota negara, kemudian pada akhir 1950, tepatnya pada 22 Desember bergemalah RRI Stasiun Ambon mengisi ruang dengar warga provinsi seribu pulau.
Hadirnya media audio ini lantas menjadi "pendekat" di tengah hambatan geografis antar pulau yang saling berjauhan. Dari ujung Halmahera, hingga Tenggara Jauh.
Adalah W. Chr Risakotta, seorang militer berpangkat Kapten didaulat untuk mengemban amanat memimpin RRI Ambon.
Ia lantas mengajak bergabung beberapa personil yang ekspert terkait penyiaran berbasis audio ini. Mereka adalah, Des Alwi Bin Syech Abubakar, Simon Tomasoa, Jusuf Mewar, Kinging, dan Piet Soplanit.
Untuk mendukung operasional kantor, maka direkrut pula beberapa personil. Antara lain, J Risakotta, Machmud, W. Izaac, dan R Latuputty.
Rupanya "tangan dingin" Sang Kepsta Perdana ini memantik simpati pemerintah pusat, hingga RRI Ambon mendapat "hadiah" infrastruktur penyiaran yang mumpuni, kala itu.
Tak hanya itu. Risakotta kemudian diberi reward jabatan sebagai Kepala Jawatan Penerangan Provinsi Maluku. Kini lebih dikenal dengan Dinas Kominfo.
Dari sini RRI Ambon kian "bersinar". Sebab ia semakin leluasa memperjuangkan eksistensi media kebanggaan masyarakat Maluku. Penambahan personil, perangkat studio, hingga peningkatan kekuatan daya pemancar menjadi langkah cerdasnya.
Seiring perjalanan waktu, RRI Ambon yang beralamat di Jalan Jenderal Ahmad Yani terus berbenah.
Puncaknya, pada HUT ke-69 RRI (11 September 2014), radio siaran kesayangan warga Kota Ambon ini meraih tonggak sejarah dan memasuki babak baru di jagat penyiaran Indonesia berhasil bermetamorfosis dari tipe C naik ke tipe B. Status ini adalah pengakuan resmi negara. Dari Menteri PAN-RB serta Direktur Utama LPP RRI.
Tidak hanya itu. RRI Ambon kembali mengukir prestasi prestisius di level nasional hingga internasional, saat "dipercaya" menjadi tuan rumah ajang Bintang Radio Indonesia dan ASEAN 2017.
Tak tanggung-tanggung. Ajang yang tercatat terbesar dalam sejarah itu pun mengusung tema, "Senandung Persaudaraan dari Ambon untuk Indonesia". Suksesnya kegiatan dimaksud tak lepas dari dukungan penuh Wali Kota Ambon saat itu, yakni Rizard Louhenapessy, SH beserta seluruh elemen Pemkot Ambon beserta masyarakat Kota Ambon.
Bisa jadi ajang ini sebagai salah satu parameter UNESCO menetapkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia pada 31 Oktober 2019. Ambon the City of Music. Dan Ambon menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang mendapatkan predikat bergengsi ini.
Lebih dari lima tahun berselang, predikat tertinggi sebagai kota musik kreatif kembali diraih pada Juni 2025.
Last but not least. Diskursus tentang RRI, Ambon, dan Musik tentu tak lengkap bila kita abaikan sosok George de Fretes.
Putra Ambon kelahiran Bandung 23 Desember 1921, memiliki bakat bermusik sejak usia belia. Otodidak bermain alat musik okulele dan gitar.
Beranjak remaja ia juga mahir tiup trompet, cabik banjo, hingga gesek biola. Bersama beberapa teman mendirikan grup musik di dalam negeri hingga hijrah ke manca negara.
Di benua biru Eropa, George sempat bergabung bersama beberapa kelompok musik di sana. Salah satunya dengan The Tielman Brothers, sekelompok pemuda bersaudara dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang cukup kondang di Eropa pada era 60-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda. Sering diundang tampil di beberapa negara Eropa.
Pada 1968 ia berpindah ke Los Angeles, Amerika Serikat, hingga wafat di Negeri Paman Sam pada 19 November 1981.
Bakat luar biasanya di bidang musik membuahkan penghargaan Hall of Fame Gitar Baja Eropa pada 2010.
George juga membuat rekaman radio bersama ansambelnya di Radio Batavia. Buah karyanya berjudul Loved/Lief Ambon kemudian dipakai oleh RRI sebagai tune penutup siaran malam sejak 11 September 1945 di seluruh Stasiun RRI dari Sabang sampai Merauke, hingga kini.
Atas jasanya itu, pada ajang Bintang Radio Nasional tahun 2014 di Kupang-Nusa Tenggara Timur, LPP RRI menganugerahkan Penghargaan Bintang bagi George de Fretes yang diserahkan langsung oleh Dirut LPP RRI Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si, kepada pihak ahli warisnya. Tidak cukup sampai di situ, LPP RRI Stasiun Ambon juga mengabadikan nama George de Fretes sebagai nama auditoriumnya.
Dirgahayu RRI
Ambon, 11 September 2026.

Berita terkait

Pemprov Kepri Perkuat Kerjasama dengan PT Taspen untuk Perlindungan dan Jaminan Kesejahteraan bagi ASN

Pemprov Kepri Perkuat Kerjasama dengan PT Taspen untuk Perlindungan dan Jaminan Kesejahteraan bagi ASN

Kepri–Spektroom : Komintmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama dengan PT Taspen tentang penyelenggaraan produk asuransi bagi ASN. Penandatanganan kerja sama tersebut disejalankan dengan pembukaan Taspen Safety Day 2026 yang digelar di Aula Wan Seri Beni, Dompak, Tanjungpinang, Kamis (10/

Desmawati, Rafles
Lemhannas Studi Strategis Pengembangan Energi Terbarukan di Surakarta

Lemhannas Studi Strategis Pengembangan Energi Terbarukan di Surakarta

SURAKARTA – Spektroom: Upaya Kota Surakarta mengembangkan energi terbarukan dan mendorong kemandirian energi mendapat perhatian dalam kunjungan Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXX Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Tahun Anggaran 2026. Rombongan SSDN P4N LXX Lemhannas RI dipimpin Marsekal Muda TNI Paminto

Ciptati Handayani, Bian Pamungkas