81 Tahun RRI: Ketika Pensiun Tak Mampu Mematikan Suara Pengabdian

81 Tahun RRI: Ketika Pensiun Tak Mampu Mematikan Suara Pengabdian
Para Pensiunan RRi Malang gelar pertemuan sekaligus rayaka​n HUT ke-81 RRI di Cafe Selling Well. ( foto: Buang)

Malang- Spektroom : Mereka sudah tidak lagi duduk di balik mikrofon. Tidak lagi mengejar jadwal siaran. Tidak lagi menunggu naskah berita atau memastikan lampu studio menyala.


Tetapi ketika Mars RRI terdengar di sebuah kafe di Jalan Soekarno-Hatta, Malang, Rabu (9/9/2026), suara mereka seperti menemukan kembali rumahnya.


Para pensiunan RRI Malang menyanyikannya dengan penuh suka cita. Sebagian mungkin tak lagi sekuat ketika masih muda. Namun ada sesuatu yang tetap utuh: rasa memiliki terhadap RRI.


Pertemuan rutin Persatuan Pensiunan RRI (PP RRI) Malang itu sekaligus menjadi momentum memperingati 81 tahun RRI.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada seremoni berlebihan.
Hanya pertemuan sederhana, nyanyian, tawa, cerita lama, santunan, doa dan kenangan.
Namun justru dari kesederhanaan itu, terasa betapa panjang jejak RRI dalam kehidupan mereka.


Komunitas Baca Al-Qur'an RRI Malang ikut mengisi pertemuan dengan memberikan santunan kepada anggota. Donasi juga dikumpulkan untuk keluarga almarhum Mislan, anggota PP RRI Malang yang telah berpulang.


Peringatan itu akhirnya tidak hanya berbicara tentang usia sebuah lembaga. Ia berbicara tentang manusia.
Tentang mereka yang pernah menghabiskan sebagian hidupnya untuk suara.
Tentang mereka yang pernah menyapa jutaan pendengar tanpa pernah tahu seperti apa wajah orang-orang yang berada di seberang gelombang radio.


Ketua PP RRI Malang, Buang Supeno, mengajak para anggota melihat kembali makna kalimat yang telah melekat begitu lama:
“Sekali di Udara, Tetap di Udara.”
Bagi generasi yang pernah hidup bersama mikrofon, kalimat itu bukan sekadar slogan.
Ia adalah pengalaman.
Studio pernah menjadi rumah.
Mikrofon menjadi teman.
Pemancar menjadi jembatan.
Dan udara menjadi jalan panjang untuk membawa informasi, hiburan, pendidikan dan suara Indonesia ke tengah masyarakat.


Ada malam-malam panjang ketika sebagian besar kota telah tertidur, tetapi para pekerja radio masih berada di studio.
Ada pagi-pagi buta ketika orang lain baru membuka mata, sementara mereka telah bersiap menyampaikan suara.


Di balik setiap siaran, tersimpan cerita yang mungkin tidak pernah diketahui pendengar.
Ada tawa.
Ada air mata.
Ada kegembiraan.
Ada kegelisahan.
Bahkan ada kehilangan.
Semuanya pernah mengudara.
Kini waktu telah berubah.
Teknologi berubah.
Generasi berganti.
Mikrofon terus berpindah tangan.
Dan para pekerja lama memasuki masa purna tugas.


Tetapi di sinilah letak paradoksnya:
Mereka pensiun dari pekerjaan, tetapi tidak pernah pensiun dari RRI.
Buang Supeno bahkan menuangkan perasaan itu melalui puisinya, “Jiwa yang Tak Pernah Pensiun.”


Dalam puisinya, ia menulis tentang sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh surat keputusan pensiun: jiwa pengabdian.
“Namun ada satu hal
yang tidak pernah ikut pensiun:
Jiwa pengabdian.”


Kalimat itu mungkin menjadi inti dari pertemuan para pensiunan RRI Malang.
Sebab bagi mereka, RRI bukan sekadar kantor yang memiliki jam kerja.
RRI adalah bagian dari perjalanan hidup.
Di sana mereka menemukan pekerjaan.
Di sana mereka menemukan persahabatan.
Di sana mereka bertemu dengan begitu banyak manusia dan cerita.
Dan di sana pula sebagian kenangan hidup mereka tertinggal.
Ketika kini mereka duduk jauh dari studio dan mendengarkan RRI melalui radio, masa lalu seolah kembali.
Ruang siaran muncul dalam ingatan.
Mikrofon kembali terbayang.
Wajah kawan seperjuangan terasa dekat.
Suara yang pernah mereka kirimkan kepada masyarakat kembali bergema di dalam hati. Mereka sadar, tubuh boleh meninggalkan gedung RRI. Tetapi jiwa tidak pernah benar-benar pergi.


Itulah yang membuat peringatan 81 tahun RRI menjadi berbeda.
Bagi mereka, ini bukan sekadar ulang tahun.
Ini adalah kesempatan untuk mengatakan terima kasih kepada sebuah lembaga yang pernah menjadi rumah pengabdian.


Terima kasih karena RRI telah mempertemukan mereka dengan begitu banyak manusia.
Terima kasih karena RRI telah mengajarkan bahwa suara yang sederhana pun bisa menjadi jembatan persatuan.
Dan terima kasih karena telah menjadi bagian dari hidup mereka.
Buang menegaskan, para pensiunan mungkin telah berhenti bekerja. Tetapi kecintaan terhadap RRI tidak ikut berhenti.


“Kami mungkin telah berhenti bekerja, tetapi kami tidak pernah berhenti mencintai RRI.”
Di Cafe Selling Well itu, Mars RRI kembali bergema.
Bukan lagi dinyanyikan oleh pegawai yang sedang bertugas.
Melainkan oleh mereka yang telah lama menyelesaikan masa pengabdiannya.


Ironisnya, justru suara para pensiunan itu mengingatkan satu hal:
pensiun tidak selalu berarti selesai.
Ada pengabdian yang tetap hidup dalam ingatan.
Ada persahabatan yang tidak mengenal batas usia.
Ada cinta kepada lembaga yang tidak membutuhkan jabatan.
Dan ada jiwa yang tetap mengudara meski mikrofon telah lama ditinggalkan.


Karena itu, 81 tahun RRI bukan hanya cerita tentang sebuah radio yang bertahan melewati zaman.
Ini juga cerita tentang manusia-manusia di belakang suara itu.
Mereka yang pernah bekerja dalam senyap.
Mereka yang pernah menyapa negeri tanpa dikenal wajahnya.
Mereka yang kini telah menepi dari ruang siaran, tetapi masih menyimpan RRI di dalam dada.
Sekali di Udara. Tetap di Udara.
Kalimat itu akhirnya bukan hanya milik RRI.
Ia telah menjadi sumpah batin para pensiunan.
Pekerjaan boleh selesai.
Jabatan boleh berakhir.
Mikrofon boleh berpindah tangan.
Tetapi jiwa pengabdian tidak pernah pensiun.


Dan selama RRI masih mengudara, sebagian jiwa mereka akan tetap berada di sana.
Di antara gelombang suara, kenangan dan doa—untuk Indonesia.

Berita terkait

129 Tim dari 52 Kampus Siap Berkompetisi Pada Ajang Kontes Kapal Indonesia: Bupati Bengkalis Apresiasi Kemdiktisaintek

129 Tim dari 52 Kampus Siap Berkompetisi Pada Ajang Kontes Kapal Indonesia: Bupati Bengkalis Apresiasi Kemdiktisaintek

Bengkalis-Spektroom: Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni secara resmi membuka Kontes Kapal Indonesia (KKI) Tahun 2026 di Lapangan Tugu Bengkalis, Senin (14/9/2026). Kegiatan nasional tersebut diikuti 52 perguruan tinggi se-Indonesia yang terdiri dari 7 politeknik, 5 institut dan 40 universitas dengan total 129 tim. Dalam sambutannya, Bupati Kasmarni menyampaikan apresiasi

Salman Nurmin, Rafles