Panen Padi Sawahlunto, Hasil Ubinan BPS di Talawi Hilir Capai 9,088 Ton per Hektare
Sawahlunto–Spektroom : Pengambilan sampel ubinan padi untuk menghitung produktivitas dan produksi padi sawah menggunakan metode Badan Pusat Statistik (BPS) dilakukan di Kelompok Tani Barokah, Desa Talawi Hilir, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Senin (14/9/2026).
Kegiatan panen padi tersebut dilaksanakan pada segmen Kerangka Sampling Area (KSA) dan melibatkan Mitra BPS Kota Sawahlunto, Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Sawahlunto serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Talawi.
Kepala DKP3 Kota Sawahlunto, Heni Purwaningsih, mengatakan pengambilan ubinan dilakukan untuk memperoleh data produktivitas padi berdasarkan pengukuran langsung di lapangan.
Dari dua titik sampling ubinan berukuran 2,5 x 2,5 meter, diperoleh hasil yang cukup tinggi.
Pada titik pertama, berat sampel mencapai 5,22 kilogram, yang dikonversikan setara dengan produktivitas 8,352 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).
Sementara pada titik kedua, berat sampel mencapai 5,68 kilogram atau setara dengan produktivitas 9,088 ton per hektare GKP.
“Data hasil ubinan ini selanjutnya direkapitulasi dan masuk dalam angka hasil ubinan Sub Round III periode September sampai Desember 2026. Nantinya hasil tersebut dirata-ratakan dan dikalikan dengan luas panen untuk mengetahui angka produksi,” ujar Heni Purwaningsih.
Menurut Heni, metode ubinan merupakan salah satu instrumen penting dalam menghasilkan data statistik pertanian. Sampel hasil panen dari bidang tertentu diukur dan ditimbang, kemudian dikonversikan untuk mengetahui estimasi produktivitas per hektare.
Data produktivitas tersebut selanjutnya menjadi salah satu komponen penting dalam penghitungan produksi padi. Secara umum, angka produksi diperoleh dari perkalian luas panen dengan rata-rata produktivitas hasil pengamatan.
Penggunaan metode Kerangka Sampling Area (KSA) juga menjadi bagian dari upaya menyediakan data pertanian yang lebih terukur dan berbasis pengamatan lapangan.
"Kolaborasi antara BPS, DKP3 dan BPP Kecamatan Talawi dalam kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan data yang akurat sebagai bahan evaluasi dan perencanaan pembangunan sektor pertanian" ungkapnya.
Bagi Pemerintah Kota Sawahlunto, data produksi padi memiliki arti penting dalam memetakan kemampuan daerah dalam mendukung ketahanan pangan. Data yang valid dapat menjadi dasar penyusunan program peningkatan produktivitas, pengembangan kawasan pertanian hingga pengambilan kebijakan pangan.
Hasil ubinan di Kelompok Tani Barokah, Desa Talawi Hilir, yang mencapai kisaran 8,352 hingga 9,088 ton GKP per hektare menjadi gambaran hasil pengamatan pada titik sampel. Namun, angka tersebut bukan merupakan rata-rata produktivitas seluruh wilayah Sawahlunto.
Seluruh data hasil ubinan pada periode pengamatan akan direkapitulasi dan diolah bersama data sampel lainnya untuk menghasilkan estimasi produktivitas dan produksi padi secara statistik.
Dengan data pertanian yang semakin akurat, pemerintah diharapkan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kota Sawahlunto. (Ris1)