81 Tahun RRI: Kisah Seorang Abdi Negara yang Memilih Bertahan di Tengah Badai Perubahan
Oleh: Apolonius Welly*)
Pontianak-Spektroom : Di balik usia Radio Republik Indonesia (RRI) yang memasuki 81 tahun pada 11 September 2026, tersimpan ribuan kisah para insan radio yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga suara negara tetap hadir di tengah masyarakat.
Salah satu kisah itu datang dari Apolonius Welly seorang pegawai yang menghabiskan lebih dari separuh usia RRI sebagai bagian dari perjalanan panjang lembaga penyiaran publik tersebut.
Kariernya dimulai sebagai penyiar radio ketika masih berstatus calon pegawai. Saat itu, RRI masih berada di bawah naungan Departemen Penerangan.
Dunia radio menjadi ruang pertama yang membentuk karakter pengabdiannya.
Di depan mikrofon, ia belajar menyampaikan informasi, membangun kedekatan dengan pendengar, sekaligus memahami makna kehadiran radio bagi masyarakat.
Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Era reformasi membawa perubahan besar.
Departemen Penerangan dibubarkan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bagi banyak pegawai, masa itu menjadi periode penuh ketidakpastian.
RRI yang sebelumnya berada di bawah sebuah departemen harus mencari bentuk dan tempatnya dalam struktur pemerintahan yang baru.
Setahun setelah memulai kariernya, ia dimutasi ke Seksi Pemberitaan. Dari sinilah perjalanan sebagai redaktur, reporter, dan jurnalis radio dimulai. Tugas baru itu perlahan menjadi bagian dari hidupnya.
“Hampir tidak ada hari tanpa berita,” kenangnya.
Rutinitas berburu informasi membuatnya terbiasa hidup bersama dinamika peristiwa. Ke mana pun arus informasi bergerak, ia berusaha hadir.
Peristiwa politik, pembangunan daerah, kegiatan pemerintahan, hingga berbagai kejadian yang menyentuh kehidupan masyarakat menjadi bagian dari kesehariannya.
Baginya, tidur terasa belum lengkap jika belum mendapatkan informasi aktual yang layak disampaikan kepada publik.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti, banyak rekan sejawat memilih meninggalkan RRI dan beralih ke berbagai lembaga pemerintahan lain.
Pilihan itu wajar mengingat masa depan lembaga penyiaran negara saat itu belum memiliki kepastian yang jelas.
Namun ia memilih bertahan.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ia harus melewati pergantian pemerintahan, perubahan kabinet, pergantian menteri, hingga berbagai dinamika kebijakan yang terus berubah dari waktu ke waktu. Tetapi keyakinannya pada RRI tidak pernah goyah.
Menurutnya, semangat Tri Prasetya dan motto “Sekali di Udara Tetap di Udara, Sekali Merdeka Tetap Merdeka” menjadi pegangan yang membuatnya terus melangkah. Semangat itulah yang menjaga RRI tetap berdiri meski diterpa berbagai gelombang perubahan.
Perjalanan panjang itu akhirnya berlabuh pada 2016. Di usia 58 tahun, ia menuntaskan pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara dengan selamat.
Setelah puluhan tahun menyaksikan perubahan zaman, teknologi, dan sistem penyiaran, ia menutup kariernya di lembaga yang telah menjadi rumah pengabdian sepanjang hidupnya.
Kini, saat RRI merayakan usia ke-81 sebagai Lembaga Penyiaran Publik, kenangan itu kembali hadir.
Ia mengaku lebih banyak merasakan duka dibanding suka selama bertugas.
Namun satu hal yang tidak pernah disesalinya adalah keputusan untuk tetap bertahan.
Sebab baginya, RRI bukan sekadar tempat bekerja. RRI adalah perjalanan hidup, ruang pengabdian, sekaligus saksi perubahan Indonesia dari masa ke masa.
Dan ketika usia RRI kini memasuki lebih dari delapan dekade, ia dapat menoleh ke belakang dengan bangga: pernah menjadi bagian dari suara yang tak pernah padam di udara Indonesia.
(Penulis adalah Jurnalis Spektroom, Mantan Penyiar dan Reporter RRI Pontianak)