813 Anak Tidak Sekolah di Banyumas Kembali Belajar, Ada yang Berusia 55 Tahun
Banyumas–Spektroom : Kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan tidak mengenal batas usia. Di antara 813 warga belajar yang kini mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Surya Muhammadiyah Banyumas, terdapat peserta yang berusia hingga 55 tahun.
Mereka menjadi bagian dari upaya mengurangi angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Banyumas melalui Program Pasti Sekolah, salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Sebanyak 813 warga belajar tersebut mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C. Rinciannya, 213 peserta mengikuti Paket A, 225 peserta Paket B dan 374 peserta Paket C.
Ketua Penyelenggara MPLS PKBM Surya Muhammadiyah, Asep Saeful Anwar, mengatakan latar belakang peserta cukup beragam. Tidak hanya anak dan remaja yang sempat terhenti pendidikannya, tetapi juga warga berusia dewasa, termasuk pasangan suami istri yang memilih kembali belajar bersama.
"Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mendapatkan pendidikan masih sangat kuat, meskipun seseorang sudah berada di usia dewasa," kata Asep saat pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) PKBM Surya Muhammadiyah Tahun Ajaran 2026/2027 di Auditorium UMP Purwokerto, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, para peserta tersebut terjaring melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Muhammadiyah, akademisi hingga masyarakat.
Kegiatan MPLS itu juga diikuti secara serentak oleh 25 PKBM. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan nonformal masih cukup besar, terutama bagi warga yang sebelumnya tidak dapat menempuh pendidikan melalui jalur sekolah formal.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, keberadaan PKBM menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pemerintah mengatasi persoalan ATS. Pemerintah, kata dia, tidak mungkin bekerja sendiri untuk memastikan seluruh warga mendapatkan hak pendidikan.
"PKBM sudah mampu merangkul lebih dari 800 warga belajar untuk kembali mengenyam pendidikan. Ini dukungan luar biasa dalam upaya mengentaskan anak tidak sekolah," ujarnya.
Sadewo meminta para peserta tidak melihat pendidikan kesetaraan sekadar sebagai upaya memperoleh ijazah. Menurutnya, proses belajar juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan membuka peluang yang lebih baik di masa depan.
"Manfaatkan kesempatan belajar ini dengan sebaik-baiknya. Jangan ragu bertanya dan berdiskusi. Gali ilmu sebanyak mungkin," katanya.
Program penanganan ATS, lanjut Sadewo, membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat untuk menemukan warga yang belum bersekolah sekaligus menyediakan akses agar mereka dapat kembali belajar.
Dengan masuknya ratusan warga belajar melalui PKBM, upaya mengurangi ATS di Banyumas kini tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga membuka kembali kesempatan pendidikan bagi warga yang sebelumnya sempat terputus dari bangku sekolah.