9.000 Titik Panas Terdeteksi, Kalbar Hadapi Ancaman Karhutla Terbesar Tahun Ini

9.000 Titik Panas Terdeteksi, Kalbar Hadapi Ancaman Karhutla Terbesar Tahun Ini
Sumber : BMKG Supadio Pontianak.

Pontianak - Spektroom : Kalimantan Barat memasuki fase paling rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak mengungkap jumlah titik panas (hotspot) melonjak drastis hingga 9.000 titik pada Juli 2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran 4.000 titik.

Lonjakan itu menjadi sinyal kuat bahwa ancaman Karhutla belum mencapai puncaknya.

BMKG justru memperkirakan periode terburuk masih akan terjadi pada Agustus hingga September, saat kemarau panjang dan cuaca kering mencapai intensitas tertinggi.

Ahli Madya BMKG Supadio Pontianak, Sutikno, Senin (31/08/2026) menjelaskan kondisi atmosfer saat ini menunjukkan Kalimantan Barat sedang menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Situasi tersebut diperparah oleh pengaruh El Niño kategori kuat yang menekan peluang hujan di sebagian besar wilayah.

“Di bulan Juli saja terdeteksi sekitar 9.000 hotspot. Berdasarkan pola yang kami amati selama bertahun-tahun, puncak titik panas biasanya terjadi pada Agustus atau September,” ujar Sutikno.

Dari seluruh wilayah Kalbar, Kabupaten Ketapang menjadi daerah yang paling mengkhawatirkan.

BMKG mencatat wilayah itu telah mengalami 34 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi tersebut membuat vegetasi mengering dan sangat rentan terbakar.

“Ketapang sudah 34 hari tidak ada hujan sama sekali. Itu yang menyebabkan titik panas di sana sangat banyak,” katanya.

Data BMKG menunjukkan akumulasi hotspot sejak awal tahun paling banyak ditemukan di Ketapang, Kubu Raya, Sanggau, dan Mempawah.

Namun dalam sebulan terakhir, konsentrasi titik panas tertinggi bergeser ke Sanggau, Ketapang, dan Sekadau.

Ancaman yang muncul bukan hanya kebakaran lahan. BMKG juga mengingatkan potensi memburuknya kualitas udara akibat asap yang terbawa angin dari wilayah selatan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menuju kawasan padat penduduk seperti Kubu Raya dan Kota Pontianak.

Pada akhir Juli lalu, kualitas udara di sejumlah wilayah sempat mencapai level berbahaya dengan konsentrasi partikulat PM2.5 yang mengancam kesehatan masyarakat.

Meski kondisi saat ini relatif membaik, BMKG menilai risiko kabut asap masih tinggi apabila kebakaran kembali meluas.

Kemarau berkepanjangan juga mulai menekan aktivitas ekonomi dan transportasi sungai.

Debit Sungai Kapuas terus menurun sehingga memicu pendangkalan di sejumlah jalur pelayaran.

Kapal pengangkut logistik, bahan bakar minyak, hingga batu bara untuk pembangkit listrik mulai menghadapi kendala operasional.

BMKG meminta masyarakat tidak mengabaikan peringatan ini. Selain menghemat penggunaan air dan menjaga kesehatan, warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena satu percikan api di tengah kondisi kering dapat berkembang menjadi kebakaran besar.

“Ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Kami ingin semua pihak meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan lebih kering dibanding biasanya,” tegas Sutikno.

Berita terkait

Gotong Royong Kemanusiaan, Bulan Dana PMI Jaksel Bidik Rp9 Miliar

Gotong Royong Kemanusiaan, Bulan Dana PMI Jaksel Bidik Rp9 Miliar

Jakarta – Spektroom : Kepedulian terhadap sesama tidak selalu harus dimulai dari donasi dalam jumlah besar. Ketika dilakukan bersama-sama, sumbangan kecil dapat berubah menjadi kekuatan besar untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana. Semangat itu kembali dihidupkan melalui Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Selatan. Tahun ini, penggalangan dana ditargetkan mencapai Rp9

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas
Dewan Pers Kumpulkan Konstituen Bahas Masa Depan Hari Pers Nasional

Dewan Pers Kumpulkan Konstituen Bahas Masa Depan Hari Pers Nasional

Jakarta-Spektroom : Dewan Pers akan mempertemukan seluruh organisasi konstituennya untuk membahas mekanisme penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) yang selama ini diperingati setiap 9 Februari. Pertemuan tersebut menjadi langkah untuk mencari kesepahaman di tengah adanya perbedaan pandangan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan HPN. Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengatakan, sepanjang

Riswan Idris, Bian Pamungkas