Angka Kematian Akibat TB di Indonesia Lebih Tinggi Dari COVID-19, Pada Masa Endemik

Angka Kematian Akibat TB di Indonesia  Lebih Tinggi Dari  COVID-19, Pada Masa Endemik
Ilustrasi Foto penderita tuberkulosis (Foto Nett).

Jakarta - Spektroom: Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Indonesian YouthbCouncil for Tactical Changes (IYCTC) menggelar X-Space membahas persoalan rokok dan tuberkulosis (TB), dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Kamis, 23 Juli 2026.

Diskusi ini digelar berangkat dari keprihatinan bahwa setiap jam, sekitar 17 orang di Indonesia meninggal dunia akibat TB. Ironisnya, isu ini jarang menjadi perbincangan publik, sangat kontras dibandingkan riuhnya perhatian saat pandemi COVID-19. Padahal, menurut WHO Global

Tuberculosis Report, angka kematian akibat TB di Indonesia secara konsisten lebih tinggindaripada COVID-19 pada masa endemik. Permasalahan ini kian mengkhawatirkan karena salah satu pemicu utamanya berasal dari lingkungan rumah tangga, yaitu asap rokok.

Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan bersama WHO pada 2024 menunjukkan ada sekitar 70,2 juta konsumen tembakau dewasa di Indonesia. Dampaknya, anak-anak yang tumbuh sebagai perokok pasif di rumahnya memiliki sistem pertahanan saluran napas yang lemah.

Hal ini membuat mereka, terutama balita, lebih rentan terinfeksi Mycobacterium tuberculosis hingga berkembang menjadi TB aktif.

Kesenjangan perhatian inilah yang mendorong Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dan Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) membuka ruang diskusi yang mempertemukan isu TB dan pengendalian konsumsi rokok, tepat di momentum Hari Anak Nasional.

Beban TB Anak Masih Tinggi Ketua Yayasan STPI, dr. Donald Pardede, mengingatkan bahwa Indonesia masih menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Data Kementerian Kesehatan tahun 2025 mencatat estimasi 1.092.000 kasus TB setiap tahunnya.

“Saat ini, estimasi kasus baru sudah mencapai kisaran 135.000 di kelompok anak, di mana fatalitasnya juga cukup tinggi berkontribusi hingga 15% dari total kematian akibat TB secara nasional. Terutama bagi balita di bawah usia lima tahun, mereka memiliki risiko sangat tinggi mengalami kondisi TB jauh lebih berat dan fatal, seperti meningitis TB yang dapat menyerang selaput otak,” ujar Donald.

Sementara Direktur Eksekutif IYCTC, Manik Marganamahendra, menyoroti krisis konsumsi rokok pada anak yang terus melonjak tajam.

Dalam siaran persnya IYCTC menyatakan, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat jumlah perokok anak dan remaja usia 10–18 tahun meningkat signifikan, dari 4,1 juta pada tahun 2018 menjadi sekitar 5,9 juta anak di tahun 2023.

"Kebiasaan merokok pada anak jarang lahir dari pilihan sadar, melainkan dari lingkungan yang sejak dini menormalisasi rokok, hingga akses yang murah dan mudah. Belum lagi mereka harus menanggung beban ganda berupa risiko tinggi tertular tuberkulosis akibat paru-paru yang dirusak asap rokok," tegas Manik.

Berdasarkan riset kolaboratif Universitas Indonesia bersama Imperial College London, sebanyak 78,4% rumah tangga di Indonesia tercemar asap rokok. Tingkat paparan domestik ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, bahkan jauh melampaui negara-negara lain seperti Thailand dan Bangladesh.

Manik melihat, fakta ini sebagai sinyal kuat perlunya perluasan konsep Kawasan Tanpa Rokok (KTR) agar tidak hanya menyasar fasilitas umum, tapi juga lingkungan terdekat anak.

Dari sisi kebijakan, adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan sebenarnya sudah progresif. Namun, Manik menyayangkan lambatnya penerbitan aturan teknis turunan dari PP tersebut, padahal sudah hampir dua tahun sejak pengesahan UU Kesehatan dan PP-nya.

"Sudah hampir 2 tahun PP 28 disahkan tapi belum ada satupun aturan teknis operasional yang keluar. Aturan yang melarang penempatan iklan rokok dalam radius 500 meter dari sekolah serta larangan penjualan 200 meter dari sekolah masih membutuhkan pengawalan ketat di lapangan agar tidak mandek" tutup dia (@Ng).

Berita terkait

Ubinan Padi Silungkang Jadi Basis Hitung Produksi Sawahlunto, Produktivitas Tembus 7,64 Ton per Hektare

Ubinan Padi Silungkang Jadi Basis Hitung Produksi Sawahlunto, Produktivitas Tembus 7,64 Ton per Hektare

Sawahlunto-Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) terus memperkuat basis data produksi pangan melalui pengukuran produktivitas padi di tingkat lapangan. Pengambilan sampel ubinan dilakukan DKP3 Kota Sawahlunto melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Silungkang

Riswan Idris, Julianto
Sebaran keadaan cuaca berdasarkan Prakiraan cuaca BMKG kelas 1 Supadio Pontianak.

Harapan Turun Hujan di Kalbar: 11 Kabupaten Kota Berpeluang Hujan Ringan dan Sedang

Pontianak-Spektroom : Kabar tentang hujan akhirnya datang di tengah langit Kalimantan Barat yang berbulan-bulan diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setelah melewati hari-hari dengan kualitas udara memburuk, jarak pandang terganggu, hingga aktivitas masyarakat yang ikut terdampak, harapan itu kini muncul dari prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Jumat

Apolonius Welly, Julianto
Forum Komunikasi Kecamatan Sehat Ternate Tengah Lakukan pembinaan dan Monitoring Pada Pokja Kelurahan Sehat

Forum Komunikasi Kecamatan Sehat Ternate Tengah Lakukan pembinaan dan Monitoring Pada Pokja Kelurahan Sehat

Ternate-Spektroom : Forum Komunikasi Kecamatan Sehat Kecamatan Kota Ternate Tengah sejak tanggal 14 - 17 September 2026 melakukan pembinaan dan monitoring pada Pokja Kelurahan Sehat pada 16 kelurahan yang ada di Kecamatan Kota Ternate Tengah. Kegiatan yang dilakukan ini untuk persiapan data pendukung pada Pokja kelurahan sehat tahun 2025 dan 2026

Nanang Adrany, Pelinus Latuheru