Anhar Achmad: Pensiunan RRI Tetap Berkarya dan Menjaga Marwah Radio Perjuangan
Jakarta-Spektroom : Kantor bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia mandi, beristirahat, menjalani hari, sekaligus menorehkan bagian penting dalam hidupnya. Puluhan tahun kemudian, kenangan itu kembali hadir. Drs. Anhar Achmad, SH, MH, MM, berdiri di hadapan para pensiunan RRI dalam acara Temu Kangen bertema “Suara Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.
Ketua Umum PP PPRRI itu membawa kembali cerita tentang masa ketika dirinya masih menjadi bagian dari denyut kehidupan radio perjuangan.
“Sejak tahun 1982, saya sudah doktor. Tapi doktor saya itu ‘ngondor’ di kantor,” kata Anhar, disambut gelak tawa para pensiunan RRI yang hadir pada acara Temu Kangen Pensiunan RRI, yang digelar di Auditorium Jusuf Ronodipuro dilantai 2 gedung utama RRI jalan Merdeka Barat 4 - 5 Jakarta, Rabu (9/9/2026). Kegiatan itu sekaligus menyambut HUT ke-81 RRI.
Kalimat sederhana itu membuka cerita panjang tentang pengabdiannya di RRI.
Salah satu tempat yang paling membekas dalam ingatannya adalah lantai empat.
Kenangan itu kini tinggal cerita. Sebagian dokumentasi masa lalu bahkan ikut lenyap ketika kantor RRI terbakar. Koleksi kaset miliknya musnah dilalap api. Namun, ada satu kenangan yang justru semakin kuat.
Saat kebakaran terjadi, Anhar berupaya menyelamatkan mobil operasional siaran atau OB Van. Mobil itu dibawa keluar dan digunakan agar siaran tetap berlangsung.
Dalam situasi genting tersebut, menurut Anhar, naluri sebagai insan RRI bekerja.
“Di situ naluri Tri Prasetya muncul,” ujarnya.
Bagi Anhar, Tri Prasetya bukan sekadar teks yang pernah dibacakan atau dihafalkan oleh angkasawan dan angkasawati RRI.
"Nilai itu harus menjadi bagian dari jiwa. Tri Prasetya mengajarkan insan RRI untuk menjaga perangkat siaran, menjalankan siaran sebagai alat perjuangan bangsa, serta menempatkan persatuan dan keselamatan negara di atas kepentingan kelompok," ucapnya.
Nilai itulah yang menurut Anhar harus tetap diwariskan, termasuk kepada generasi RRI saat ini.
Tidak Ada Istilah Pensiun dari Persaudaraan
Temu Kangen menjadi bukti bahwa masa pensiun tidak serta-merta mengakhiri hubungan dengan RRI. Para pensiunan di berbagai daerah masih aktif menggelar pertemuan, kegiatan sosial, wisata bersama hingga berbagai aktivitas lainnya.
“Pensiunan RRI itu tetap melakukan hal yang positif bersama kawan-kawan di daerah,” katanya.
Bagi, Anhar, aktivitas tersebut penting untuk menjaga mata rantai persaudaraan. RRI tidak hanya dibangun oleh mereka yang masih berada di balik mikrofon, tetapi juga oleh orang-orang yang telah memberikan sebagian hidupnya untuk lembaga tersebut.

Ia, pun menyampaikan apresiasi kepada Direktur Utama LPP RRI, Hendrasmo, yang hadir di acara itu, yang dinilai memberikan perhatian penuh kepada para pensiunan RRI.
“Di era efisiensi dan sebagainya, Bapak bisa mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap para pensiunan,” ujarnya.
Anhar, berharap perhatian tersebut dapat terus berlanjut dan diwujudkan dalam berbagai bentuk dukungan bagi para pensiunan.
Tetap Berkarya Setelah Pensiun
Bagi Anhar, pensiun bukan akhir dari pengabdian. Para pensiunan justru dapat terus berkarya melalui organisasi maupun media yang dikomandoinya, portal Spektroom.co.id, yang disebutnya sebagai milik bersama pensiunan RRI, dan menjadi wadah berkarya para pensiunan RRI.
Ia, mengatakan media tersebut telah melalui proses verifikasi Dewan Pers dan memperoleh sertifikasi. Kondisi itu diharapkan membuka peluang kerja sama dengan kementerian, lembaga dan pemerintah daerah.
Di tengah wacana penataan kelembagaan media publik, ia, berharap identitas RRI sebagai radio perjuangan tidak hilang.
Sebab, sejarah RRI tidak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa.
Dari mikrofon RRI, suara perjuangan dan kemerdekaan pernah menjangkau masyarakat Indonesia. Karena itu, menurut Anhar, perubahan zaman boleh terjadi, tetapi marwah RRI harus tetap dijaga.
Menutup sambutannya, Anhar kembali mengingatkan para pensiunan tentang ikatan yang menyatukan mereka.
“Sekali di udara, tetap di udara.” teriaknya, dengan semangat. Tepuk tangan dari para pensiunan pun sontak pecah.
Untuk sesaat, usia dan masa pensiun seperti menghilang. Yang tersisa hanyalah kenangan, persaudaraan dan kecintaan terhadap sebuah nama yang telah menemani perjalanan hidup mereka: Radio Republik Indonesia.