Dirut LPP RRI: Transformasi Digital Harus Dibarengi Penguatan Konten dan SDM
Jakarta-Spektroom : Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Hendrasmo menegaskan pentingnya transformasi digital, penguatan konten, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi perubahan industri media.
Hal itu disampaikan Hendrasmo saat memberikan sambutan dalam acara Temu Kangen Pensiunan RRI di Auditorium Jusuf Ronodipuro, lantai 2 Gedung Utama RRI, Jalan Medan Merdeka Barat 4-5, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Hendrasmo mengatakan, transformasi RRI yang dilakukan dalam hampir lima tahun terakhir diarahkan untuk menjadikan lembaga penyiaran publik itu lebih adaptif, digital, dan dekat dengan audiens. Salah satu langkahnya melalui rebranding RRI agar lebih dekat dengan masyarakat.
Audiens RRI saat ini tidak lagi hanya pendengar radio, tetapi juga pembaca, penonton, pelanggan kanal digital, dan pengguna berbagai platform.
“Intinya kita melayani audiens yang secara demografis adalah orang-orang muda, generasi milenial,” ujarnya.
Karena itu, katanya, RRI memperkuat kehadirannya melalui konsep multiplatform. Para angkasawan dan angkasawati juga dibekali kemampuan memproduksi video, menulis berita online, hingga menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Penguatan SDM dilakukan melalui pelatihan, coaching, klinik jurnalistik, serta uji kompetensi wartawan. Hendrasmo menilai kemampuan SDM RRI telah berkembang di berbagai daerah, tetapi pemerataan kompetensi dan standardisasi masih menjadi tantangan.

“Jangan hanya jadi penyiar radio. Suatu hari bisa menjadi kepala TV, kepala bidang media sosial. Kita harus siap,” katanya.
Selain transformasi digital, Hendrasmo mendorong perubahan pola pikir mengenai sumber pendapatan RRI. Ia mengatakan perkembangan industri media membuat lembaga tersebut perlu mencari model pendapatan baru melalui bisnis multiplatform.
“Kita harus mencari cara baru. Bagaimana mencari income untuk membantu lembaga ini,” ujarnya.
Menurut Hendrasmo, perubahan tersebut tetap harus berjalan seiring dengan posisi RRI sebagai lembaga penyiaran publik. Profesionalisme diperlukan agar RRI mampu menghadapi disrupsi dan perubahan perilaku audiens.
Hendrasmo menyebut salah satu pesan yang diterimanya adalah agar transformasi RRI dilakukan lebih revolusioner dan holistik. RRI juga diminta memperkuat integritas dan strategi konten.
“Kalau membuat konten, jangan hanya benar, tetapi juga menarik,” katanya.
Ia menegaskan, RRI harus tetap memperkuat radio, tetapi tidak berhenti pada radio. Kredibilitas, relevansi, dampak, dan kepercayaan publik menjadi hal penting yang harus terus dijaga.
Hendrasmo menambahkan, seluruh transformasi tersebut tetap berpijak pada nilai dasar RRI sebagai lembaga penyiaran publik, yakni mendidik masyarakat, menumbuhkan kecintaan terhadap Indonesia, berdiri di atas semua golongan, serta memperjuangkan persatuan nasional.