28 Tahun Warung Tarsun: Ketika Ngapak Menjaga RRI Tetap Dekat di Hati Pendengar
Purwokerto-Spektroom : Ditengah derasnya arus informasi digital, podcast, media sosial hingga kecerdasan buatan, radio masih memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. Bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga teman yang hadir dari waktu ke waktu.
Hal itu tergambar dari perjalanan RRI Purwokerto yang pada 2026 memasuki usia 81 tahun. Sebagai salah satu dari delapan stasiun radio perintis RRI, kedekatan dengan pendengar menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, podcast, media sosial hingga kecerdasan buatan, radio masih memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. Bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga teman yang hadir dari waktu ke waktu.
Hal itu tergambar dari perjalanan RRI Purwokerto yang pada 2026 memasuki usia 81 tahun. Sebagai salah satu dari delapan stasiun radio perintis RRI, kedekatan dengan pendengar menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya.
Salah satu program yang mampu mempertahankan kedekatan tersebut adalah Obrolan Warung Tarsun, yang tahun ini memasuki usia 28 tahun.
Dalam peringatan Hari Radio 2026, RRI Purwokerto mempertemukan para pengasuh Warung Tarsun dari empat generasi. Pertemuan yang dipandu oleh Dessy dan Arif itu menjadi ruang untuk mengenang perjalanan program yang telah menemani pendengar selama hampir tiga dekade.
Kepala RRI Purwokerto Slamet Fauzan mengatakan, kehadiran para pengasuh dari berbagai generasi sekaligus menjawab rasa penasaran pendengar mengenai sejarah Warung Tarsun.
“Banyak pendengar yang menanyakan kenapa acara ini dinamakan Obrolan Warung Tarsun dan bagaimana bisa bertahan cukup lama,” ujarnya, Rabu (9/9/2026).
Nama Tarsun sendiri ternyata terinspirasi dari seorang abang becak yang gemar mengobrol mengenai berbagai persoalan kekinian di sebuah warung. Kisah sederhana itu kemudian ditangkap almarhum Imam Supardi, karyawan RRI Purwokerto, dan dikembangkan menjadi konsep program radio.
Awalnya Warung Tarsun menggunakan bahasa Indonesia dengan topik musik dan profil tokoh. Namun, dalam perkembangannya, Fitria Nurlaelana dan Biantoro menggeser konsep tersebut menggunakan bahasa Banyumasan atau Ngapak, dengan mengangkat persoalan yang tengah menjadi pembicaraan masyarakat.
“Menggunakan bahasa ngapak terasa lebih dekat dengan emosi pendengarnya apalagi topiknya kekinian atau sedang menjadi pembicaraan orang,” tutur Fitria.
Pilihan tersebut justru menjadi kekuatan. Bahasa Ngapak membuat pendengar merasa lebih dekat karena yang dibicarakan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Kedekatan itu bahkan mampu melahirkan gerakan nyata. Biantoro mengenang ketika Warung Tarsun mengajak pendengar menebar benih ikan di sungai. Respons masyarakat sangat besar hingga terkumpul hampir satu juta ekor ikan untuk ditebar di berbagai sungai di Banyumas.
Bagi Biantoro, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa radio bukan sekadar suara dari studio. Radio dapat menjadi ruang bertemu, berbagi gagasan, sekaligus menggerakkan masyarakat.
Kini generasi keempat Dessy dan Arif melanjutkan obrolan yang telah dimulai 28 tahun lalu. Rochyadi, salah satu pengasuh generasi ketiga, berharap program berbasis kearifan lokal tetap mendapat tempat.
“Penggunaan bahasa Ngapak lebih enak dan mudah diterima pendengar di Banyumas,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Plt Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si. masa depan RRI bukan hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kepercayaan publik.
Radio boleh berubah menjadi multiplatform, cara masyarakat mengakses informasi boleh bergeser, tetapi kebutuhan terhadap informasi yang kredibel dan berpihak pada kepentingan masyarakat tetap akan ada.
"Saya dimobil sering mendengarkan Siaran RRI yang paling saya suka mendengarkan obrolan Banyumasan warung Tarsun" ujar Prof.Ali.
Warung Tarsun membuktikan bahwa teknologi boleh berubah, tetapi kedekatan manusia dengan bahasa dan identitas lokal tetap memiliki tempat.
Dari obrolan sederhana seorang abang becak di warung, lahirlah karakter radio yang bertahan hampir tiga dekade.
Bukan sekadar karena suaranya masih terdengar, tetapi karena bahasa Ngapak membuat suara itu terasa seperti suara dari rumah sendiri.