Antisipasi Bencana di Desa Serang Purbalingga Unsoed Pasang Alat Peringatan Dini EWS.
Purbalingga-Spektroom : Pengalaman menghadapi banjir bandang dan tanah longsor pada Januari 2026 mendorong masyarakat Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, meningkatkan kesiap siagaan menghadapi ancaman bencana. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Perangkat tersebut dipasang pada jum'at (30/10/2926), di Dusun III atau Kaliurip, Desa Serang. Pemasangan EWS menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk Smart Village Tangguh Bencana yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed.
Ketua Tim Kesiagaan Bencana Unsoed, Dr. Dyah Susanti, dalam realasenya Senin, (2/11/2026) mengatakan pemasangan perangkat tersebut merupakan kelanjutan dari pendampingan yang dilakukan Unsoed setelah bencana melanda wilayah itu.
Sebelumnya, Unsoed telah menyalurkan bantuan pelayanan kesehatan, logistik, hingga kebutuhan sanitasi pada masa tanggap darurat.
Melalui program ini, perguruan tinggi berupaya memberikan kontribusi tidak hanya dalam penanganan pasca bencana, tetapi juga memperkuat mitigasi agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman berikutnya.
“Kami mencoba memberikan kontribusi dari sisi akademisi maupun teknologi, tidak hanya untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga untuk mitigasi,” ujar Dyah.
EWS yang dipasang bekerja dengan memantau curah hujan sebagai salah satu indikator potensi banjir dan tanah longsor. Ketika hasil pengukuran mencapai ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan alarm sebagai peringatan bagi warga.
Untuk menjaga operasionalnya, perangkat juga dilengkapi panel surya sebagai sumber energi alternatif apabila terjadi gangguan pasokan listrik PLN.
"Saat ini, perangkat masih menjalani uji coba selama satu minggu. Pengujian dilakukan untuk memastikan sistem bekerja sesuai kondisi lapangan, termasuk mengukur jangkauan suara alarm ketika hujan deras disertai petir." tambah Dyah.
Setelah pengujian, Unsoed akan mengevaluasi kinerja perangkat bersama masyarakat sekaligus memberikan pelatihan kepada anggota Pemuda Tangguh Bencana dan perangkat desa. Pengelolaan EWS selanjutnya direncanakan diserahkan kepada pemerintah desa.
Dyah berharap keberadaan teknologi tersebut dapat membantu warga mengenali potensi bahaya lebih awal sehingga memiliki waktu untuk melakukan langkah penyelamatan.
“Harapannya, dengan adanya alat ini nantinya warga tidak terlalu panik, tetapi tetap bersiaga,” tuturnya.
Selain teknologi peringatan dini, Dyah mengingatkan pentingnya menjaga kawasan hulu dan lereng melalui perlindungan pohon besar serta penanaman tanaman konservasi dan produktif. Kesiapsiagaan juga perlu didukung pemahaman tanda-tanda alam dan ketersediaan jalur evakuasi yang aman.