Trending

Bahasa dan Budaya Berbeda, Tujuannya Sama: Menimba Ilmu di UIN Palangka Raya

Bahasa dan Budaya Berbeda, Tujuannya Sama: Menimba Ilmu di UIN Palangka Raya
Enam mahasiswa dari Pakistan, Afghanistan, Kamboja, Myanmar, dan Filipina saat penyambutan di aula Hasupa. (Foto: humas UIN PRaya)

Palangka Raya-Spektroom : Enam mahasiswa dari Pakistan, Afghanistan, Kamboja, Myanmar, dan Filipina kini memiliki satu kesamaan. Mereka meninggalkan negeri asal, menempuh perjalanan jauh, lalu memilih Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

Bahasa, budaya, dan kebiasaan yang berbeda menjadi tantangan baru bagi mereka. Namun, perbedaan itu justru membuka pengalaman baru untuk belajar, mengenal lingkungan yang berbeda, sekaligus membangun persahabatan lintas negara.

Kehadiran mereka ditandai dengan penyambutan mahasiswa asing UIN Palangka Raya di Aula Hasupa, Rabu (7/10/2026). Dalam kesempatan itu, keenam mahasiswa diperkenalkan kepada sivitas akademika sekaligus menerima almamater UIN Palangka Raya.

Mewakili Rektor UIN Palangka Raya, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Prof. Dr. H. Syaikhu, S.Ag., M.H.I., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa dari berbagai negara menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas.

“Ahlan wa sahlan wa marhaban bikum di Indonesia, dan selamat datang di UIN Palangka Raya. Kehadiran Saudara dari berbagai negara menjadi bukti bahwa ilmu tidak mengenal batas dan Islam mampu menyatukan kita dalam ruang ilmu dan persaudaraan,” ujarnya.

Ia mengatakan, UIN Palangka Raya tidak hanya ingin menjadi tempat mahasiswa asing menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun persahabatan dan pengalaman lintas budaya melalui semangat ta’aruf, tafahum, dan ta’awun atau saling mengenal, memahami, dan membantu.

Enam mahasiswa yang hadir berasal dari latar negara dan program studi berbeda. Faizan Ullah dari Pakistan menempuh Hukum Ekonomi Syariah, Ahmad Khan Salarzai dari Afghanistan belajar Teknologi Informasi, sedangkan Elyas Fatel dan Hakim Sokkry dari Kamboja masing-masing menempuh Manajemen Pendidikan Islam serta Perbankan dan Keuangan Syariah.

Dokumen bersama usai penyambutan mahasiswa baru dari 6 manca negara. (Foto: humas UIN PRaya)

Sementara Han Min Htoo dari Myanmar menempuh Ekonomi Syariah dan Brolin R. Chukingna dari Filipina mengambil Komunikasi dan Penyiaran Islam. Mahasiswa asing lainnya dijadwalkan datang secara bertahap.

Bagi mereka, penyematan almamater bukan sekadar seremoni. Kain dan lambang yang dikenakan menjadi penanda bahwa mereka kini menjadi bagian dari keluarga besar UIN Palangka Raya.

Di tengah lingkungan yang jauh dari negeri asal, identitas sebagai mahasiswa UIN Palangka Raya juga menjadi pengalaman baru yang dibawa bersama perjalanan pendidikan mereka. Mereka tidak hanya datang untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga membawa identitas, budaya, dan cerita dari negara masing-masing ke dalam kehidupan kampus.

Kehadiran mahasiswa asing tersebut sekaligus memperlihatkan wajah UIN Palangka Raya yang semakin terbuka sebagai ruang akademik lintas negara. Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang, melainkan bagian dari pengalaman belajar yang memperkaya kehidupan kampus. (Polin-Metta)

Berita terkait