Belajar Otodidak Hidupkan Wayang di Era Digital
Menjadi dalang bukan sekadar memainkan wayang di atas panggung. Di balik setiap pementasan, ada perjalanan panjang yang menempa kemampuan, karakter, sekaligus kerendahan hati.
Itulah yang kini dijalani Herjuno Pramariza Fadlansyah, dalang milenial Universitas Indraprasta PGRI (Unindra).
Perjalanan Herjuno terbilang tidak lazim. Lahir dan besar di Jakarta, ia bukan berasal dari keluarga dalang, tidak pernah belajar di sanggar, maupun nyantrik kepada guru pedalangan. Ia tumbuh sebagai dalang otodidak yang belajar melalui ketekunan dan pemanfaatan teknologi.
Restu maestro Ki Anom Suroto menjadi salah satu tonggak penting dalam hidupnya. Bahkan, nama "Herjuno" diberikan langsung oleh sang maestro sebagai doa agar ia mampu menapaki dunia pedalangan dengan sungguh-sungguh.

Sementara itu, banyak ilmu diperolehnya dengan mempelajari pementasan Ki Pamungkas Bayu Aji melalui berbagai rekaman di YouTube.
Di balik perjalanan tersebut, keluarga memiliki peran besar. Kakeknya, Prof. Dr. Sumaryoto, sejak kecil mengenalkan dunia wayang dengan mengajaknya menonton pementasan Ki Anom Suroto dan Ki Pamungkas Bayu Aji.
Kecintaan itulah yang kemudian tumbuh menjadi pilihan hidup.
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat Herjuno tampil di Juwiring, Klaten, awal Juli 2026. Pementasan yang digelar tidak jauh dari makam Ki Anom Suroto itu terasa sangat emosional.
Lebih istimewa lagi, sejumlah dalang yang selama ini menjadi idolanya, seperti Ki Pamungkas Bayu Aji, Ki Dwijo Kangko, Ki Amar, dan Mas Bagong hadir menyaksikan penampilannya.
"Mereka adalah dalang yang sejak kecil saya kagumi. Ketika mereka justru menonton saya mendalang, rasanya seperti mimpi," kenangnya.
Suasana semakin semarak saat adegan limbukan berlangsung. Guyonan yang mengalir spontan mengundang gelak tawa penonton, bahkan para dalang senior ikut naik ke panggung. Momen itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Herjuno.
Meski mendapat apresiasi dari Ki Pamungkas Bayu Aji, Herjuno mengaku hal itu justru memotivasinya untuk terus belajar.
"Saya masih banyak kekurangan. Pengalaman itu membuat saya semakin bersemangat menjadi dalang yang lebih baik," ujarnya.
Tantangan berikutnya datang saat tampil di Pendopo Ki Sugito, Tulungagung, pada 25 Juli 2026. Ia harus membawakan lakon Wahyu Purbo Sejati, cerita yang belum pernah dipelajarinya secara mendalam. Pada saat yang sama, ia juga sedang menghadapi ujian kuliah dan menjalani program magang.
Dengan waktu persiapan yang sangat singkat, Herjuno kembali mengandalkan cara belajarnya sebagai dalang otodidak. Ia mempelajari video pementasan, mendalami cerita, dan berlatih hingga larut malam.
Hasilnya, pementasan berjalan lancar berkat kerja sama para pengrawit muda yang mampu mengikuti gaya mendalangnya yang dinamis.
Menurut Herjuno, setiap keberhasilan tidak pernah diraih sendirian. Dukungan keluarga, terutama ibunya, Mbah Oto, serta sahabat-sahabatnya menjadi sumber semangat untuk terus berkarya.
"Menjadi dalang bukan hanya memainkan wayang, tetapi juga menjaga dan meneruskan budaya ini agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman," katanya.
Perjalanan Herjuno masih panjang. Namun kisahnya membuktikan bahwa seorang dalang tidak selalu lahir dari garis keturunan pedalangan atau sanggar ternama.
Dengan ketekunan, penghormatan kepada para maestro, serta kemauan belajar tanpa henti, ia menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup di tangan generasi muda yang siap merawat dan mengembangkannya sesuai zamannya.