Berkah dan Cerita di Balik Kembalinya MBG
Jakarta - Spektroom : Udara pagi di Jakarta terasa berbeda pada hari Senin, (13/7/2026). Bangku-bangku sekolah yang sempat sepi selama libur panjang kini kembali riuh. Di balik keriuhan itu, ada satu hal yang paling dinanti para siswa: kembalinya boks makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program dari Badan Gizi Nasional (BGN) ini kembali menyapa siswa di berbagai penjuru daerah setelah libur sekolah usai. Sebelumnya, distribusi program sempat dihentikan sementara untuk penyesuaian operasional. Kebijakan ini disebut sukses menghemat anggaran negara hingga lebih dari Rp3 triliun.
Bagi para siswa, kembali menyantap makanan bersama teman-teman adalah momen yang paling dirindukan. Saat bel istirahat berbunyi, kotak makan dibuka dengan rasa penasaran. Beragam menu pun tersaji, membawa cerita tersendiri bagi masing-masing anak.

Afif, siswa kelas 2 SDN 010 Buluh Perindu, Duren Sawit, Jakarta Timur, berbagi cerita tentang menu pertamanya pasca libur.
"Lauknya ayam kecap nasi putih, kue puding, sayuran tumis wortel buncis. Sayurnya ga ada kuahnya, ga doyan juga, dan ga ada buahnya," ujarnya polos.
Kisah berbeda datang dari Ayla, siswi kelas 2 SDN 01 Pondok Bambu. Diantar dan dijemput sang kakek, Ayla justru merasa senang karena menu makannya dilengkapi buah jeruk segar, meski tanpa kue.
"Ayam chicken, nasi putih, sayur wortel buncis ditumis, semur tahu, dan buah jeruk. Ga ada pudingnya," ujar Ayla riang.
Napas Lega di Balik Kemudi dan Kantin Sekolah
Kembalinya program MBG ini tidak hanya membawa kebahagiaan bagi perut para siswa. Ada denyut ekonomi dan harapan yang kembali berputar di jalanan hingga sudut kantin sekolah.
Cecep, salah satu pengemudi pengantar makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menarik napas lega. Selama masa libur sekolah, dapur di rumahnya ikut "libur" karena tidak ada pemasukan sama sekali. Sebagai korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang baru dua bulan menjadi relawan pengemudi, ia mendapat upah harian Rp120 ribu.
"Bingung Pak buat dapur dan susu anak. Ga ada pemasukan," keluh Cecep sambil menahan pasrah saat ditemui di sela kesibukannya mendistribusikan makanan. Kini, upah harian dari SPPG kembali menjadi tumpuannya untuk menghidupi keluarga.

Kehadiran program MBG juga tidak mematikan rezeki para pedagang kecil di lingkungan sekolah. Hal ini diakui oleh Ibu Ida, penjaja jajanan di kantin sekolah. Ia tak merasa tersaingi sedikit pun mengamini hal yang sama. Selera jajanan anak tak bisa dicegah, sehingga kantin dan gerobak luar sekolah tetap ramai pembeli.
Perbaikan Menuju Standar Kualitas
Di hari pertama pendistribusian kembali ini, BGN memastikan seluruh SPPG telah melakukan berbagai persiapan matang. Langkah ini diambil guna menjamin setiap porsi makanan yang sampai di tangan siswa tetap memenuhi standar kualitas dan keamanan gizi.
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, sebelumnya menjelaskan bahwa penyesuaian operasional saat libur dilakukan untuk efisiensi. Kini, seiring dimulainya tahun ajaran baru, roda program MBG kembali berputar.
Kembalinya program ini diharapkan mampu menjaga stamina siswa agar lebih fokus dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dari ruang kelas yang riuh hingga dapur SPPG, program ini merangkai cerita tentang gizi, harapan, dan roda kehidupan yang terus berjalan