BI Terus Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
Jakarta - Spektroom : Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti angkat bicara tentang pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan dapat mencapai Rp22 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam hal ini, BI fokus menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan perekonomian yang terjadi.
“Jadi stabilitas itu adalah yang harus kita jaga, supaya bisa tercipta iklim ekonomi yang kondusif. Untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” ucap Destry di Jakarta, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Menurut Destry, pihaknya terus mencermati pergerakan rupiah di pasar keuangan. Kondisi rupiah tidak terlepas dari fundamental perekonomian domestik. BI memandang kondisi perekonomian Indonesia relatif baik jika dibandingkan dengan negara tetangga. Pergerakan rupiah itu kan sangat tergantung juga dari supply demand dan persepsi.
Beberapa waktu lalu, Destry juga menjelaskan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak gejolak global. Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dengan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).
Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk instrumen Swap dan DNDF Beli Lindung Nilai Konvensional kepada Bank Indonesia, tetapi juga untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra sehingga imbal hasil aset Rupiah menjadi tetap menarik. Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan nilai tukar Rupiah bergerak stabil didukung komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik.
Destry memastikan BI memiliki komitmen untuk terus menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, stabilitas menjadi prioritas agar iklim ekonomi tetap kondusif dan sektor riil dapat tumbuh serta menciptakan lapangan pekerjaan.
"Fokus di kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga, supaya tercipta iklim ekonomi yang kondusif untuk nantinya ekonomi di sektor riil bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan," tegasnya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Destry belum memberikan sinyal bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan. Dia menegaskan, keputusan kebijakan moneter akan bergantung pada perkembangan data ekonomi atau data dependent.
Destry menjelaskan, BI memiliki beragam instrumen kebijakan untuk merespons dinamika ekonomi dan pasar keuangan. Dengan demikian, suku bunga bukan satu-satunya instrumen yang dapat digunakan bank sentral.
Instrumen tersebut antara lain insentif untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging, kebijakan makroprudensial, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Karena kita punya kebijakan kan banyak ya instrumennya. Enggak hanya suku bunga aja. Kita punya kebijakan insentif untuk biaya hedging. Untuk yang moneter kita punya kebijakan makroprudensial. Kita punya instrumen SRBI, jadi banyak. Jadi bukan hanya suku bunga yang jadi kebijakan kita," pungkasnya