Blangikhan, Potang Balimau dan Balimau Kasai, Turun Mandi Sambut Bulan Suci

Blangikhan, Potang Balimau dan Balimau Kasai, Turun Mandi Sambut  Bulan Suci
Flyer Spektroom

Spektroom - Bulan Ramadhan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia.

Betapa tidak, di bulan ramdhan inilah segala amal ibadah yang dilakukan akan dilipat gandakan oleh Alloh SWT.

Sebagai bulan penuh berkah ini, umat muslim diajarkan untuk dapat melatih kesabaran dan menahan berbagai macam godaan.

Dengan melatih kesabaran maka setiap insan dapat menjadi hamba yang bertakwa di hadapan Alloh SWT, InsyaAlloh.

Karenanya tak heran jika banyak orang yang secara khusus mempersiapkan banyak hal untuk menyambut bulan nan suci ini.

Bulan puasa, biar bagaimanapun, tidak semata dilakukan hanya untuk menahan lapar-haus hingga ego, namun puasa juga merupakan ibadah fisik dan mental.

Ditanah minang, sehari menjelang Ramadan, aliran Sungai Batang Maek, Kecamatan Pangkalan Koto Baru di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat selalu dipadati oleh ribuan warga.

Mereka mandi bersama dan saling bersilaturahmi satu sama lain.

Selain itu, juga ada arak-arakan kapal hias berbagai macam bentuk.

Ya, Tradisi Potang Balimau. Adalah mensucikan diri dengan menyiramkan tubuh dengan perasan air jeruk nipis bercampur bunga rampai beraroma khas di sore hari.

Namun, seiring perkembangan zaman, nilai budaya yang terkandung di dalamnya mulai tergerus. Potang Balimau yang awalnya menggunakan perasan air jeruk nipis dan bunga sudah sangat jarang ditemukan.

Rata-rata pengunjung hanya mandi, berenang dan bercanda satu sama lain. Tradisi menyambut bulan suci Ramadan ba’da salat zuhur dan berakhir menjelang salat maghrib ini, sudah menjadi agenda tahunan dengan target mampu menyedot perhatian wisatawan.

Adalah , Yuslif Yunus tokoh masyarakat Pangkalan Koto Baru, menceritakan bagaimana potang balimau ini menjadi tradisi di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

0:00
/1:40

Yuslif Yunus tokoh masyarakat Pangkalan Koto Baru (© cerita Nasya YouTube)

Tradisi yang mirip dengan Potang Balimau pada Masyarakat Minangkabau juga ada dimasyarakat Melayu Riau Balimau Kasai namanya.

Hampir setiap kabupaten di provinsi Riau mempunyai tradisi balimau kasai dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Suasana balimau kasai di salah satu lokasi sungai Kampar. (© Pelitariau.com)

Tidak juga di Lampung. Belangiran, namanya. Ritual mandi suci yang menjadi warisan tradisi budaya dari leluhur yang ada di Provinsi Lampung. Sama seperti, Potang Balimau dan Balimau Kasai ritual ini dilakukan jelang memasuki bulan suci Ramadhan. Pemerintah Provinsi Lampung bersama DPP Lampung Sai dan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) menggelar tradisi masyarakat Lampung Blangikhan, yang dilaksanakan di Sesat Agung Nuwo Balak, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (18/2/2026).

Blangikhan merupakan adat budaya Lampung dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah. (Foto: Adpim Lampung).

Kegiatan diawali dengan arak-arakan dari Rumah Dinas Bupati Lampung Tengah menuju Sesat Agung Nuwo Balak untuk pelaksanaan seremoni, kemudian dilanjutkan arak-arakan menuju lokasi pelaksanaan tradisi Blangikhan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa, Ketua Umum DPP Lampung Sai Komjen Pol (Purn) Sjachroedin ZP, Ketua Umum MPAL Rycko Menoza SZP, serta unsur pemerintah, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat

Wakil Gubernur Jihan Nurlela menyampaikan bahwa tradisi Blangikhan atau turun mandi menjadi momentum kebersamaan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

“Tradisi Blangikhan hadir sebagai pengingat bahwa Ramadhan disambut dengan kesiapan hati, kesadaran diri, dan kebersamaan. Tradisi ini hidup karena dijalankan, dirasakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Melalui Blangikhan, jelas Wagub Jihan, masyarakat diajak membersihkan diri, menata niat, serta meluruskan kembali hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam sekitar.

Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menyampaikan apresiasi atas pelestarian budaya yang telah menjadi identitas masyarakat setempat secara turun-temurun.

Ni Luh menjelaskan, Blangikhan merupakan tradisi masyarakat Lampung yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Tradisi ini dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan sebagai simbol penyucian diri, baik lahir maupun batin, serta wujud persiapan spiritual dalam menyambut ibadah puasa," ujarnya. Plt. Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, menyampaikan bahwa makna tradisi Blangikhan bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pembersihan diri, doa keselamatan, dan harapan demi masa depan yang lebih baik selaras dengan nilai budaya adat Lampung.

“Tradisi Blangikhan merupakan warisan budaya yang mengatur nilai kearifan lokal, etika, serta filosofi kehidupan masyarakat Lampung. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan, menjaga, dan mewariskan adat istiadat ini kepada generasi muda,” ujarnya.

Acara ditutup dengan prosesi pemandian muli mekhanai yang dilakukan oleh Wakil Gubernur Lampung, Wakil Menteri Pariwisata, Ketua MPAL, dan Plt. Bupati Lampung Tengah.

Prosesi tersebut ditandai dengan pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya tradisi Blangikhan.(@Ng).

Berita terkait